Penyakit Efusi Pleura (Fleural Effusion atau Penumpukan Cairan di Paru - Paru)


Penyakit Efusi Pleura (Fleural Effusion / Penumpukan Cairan di Paru - Paru) : Pengertian, Penyebab, Gejala, Pemeriksaan dan Pengobatannya 

A.    Pengertian Efusi Pleura.
Efusi pleura adalah penumpukan cairan didalam ruang pleural. Proses penyakit primer jarang terjadi, namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih yang mungkin merupakan transundat,eksudat atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane.2000). 

Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan viseral dan parietal. Proses penyakit primer jarang terjadi, namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya fiksi (Smeltzer C Suzanne.2002). 

Efusi pleura adalah istilah yang digunakan untuk penimbunan cairan dalam rongga pleura (Price C Sylvia.2005).
B.     Etiologi atau Penyebab Efusi Pleura. 

Adapun etiologi  atau penyebab dari efusi pleura adalah :
1.      Hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis,penyakit ginjal,tumor mediastinum,sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena cava superior.
2.      Pembentukan cairan yang berlebihan karena radang (TBC, Pneumonia, Virus, Bronkiektasis, Abses amuba subfrenik) yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena Tuberculosis.
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, trombo embolik, kardiovaskuler dan infeksi. 
Hal ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar, yaitu : 

1.      Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik.
2.      Penurunan tekanan osmotik koloid darah.
3.      Peningkatan tekanan negative intrapleural.
4.      Adanya inflamasi atau neoplastik pleura.
C.    Tanda dan Gejala Efusi Pleura. 

Tanda dan Gejala Efusi Pleura , diantaranya :
1.      Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. Setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak penderita akan sesak nafas.
2.      Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam,menggigil dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (TBC, banyak keringat, batuk).
3.      Deviasi tracea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi. Jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. 

4.      Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berbeda, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernafasan, fremilus melemah (raba dan vocal). Pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Domoiseu).
5.      Didapati segitiga Garland yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domoiseu. Segitiga Grocco Rochfusz yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain. Pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6.      Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.
D.    Patofisiologi Efusi Pleura. 

Di dalam rongga pleura terdapat ± 5 ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini di hasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hidrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe. sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. 

Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura. Ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu. Misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotik (hipoalbuminemia),peningkatan tekanan vena (gagal jantung).
Atas dasar kejadian, efusi dapat di bedakan atas transudat dan eksudat. 

1.      Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik dan sirosis hepatis karena tekanan osmotik koloid yang menurun. 

2.      Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. 

E.     Pemeriksaan Diagnostik Efusi Pleura.
Pemeriksaan Diagnostik Efusi Pleura, diantaranya : 

1.      Pemeriksaan Radiologik (Foto Thoraks).
Pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostrofrenik. Bila cairan lebih 300 ml akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran mediastinum.
2.      Pemeriksaan Ultrasonografi.
3.      Pemeriksaan Torakosentesis (Fungsi pleura). 

Untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis, fungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior pada sela iga ke-8, didapati cairan yang mungkin serosa (serotoraks), berdarah (hemotoraks), pus (pitoraks), atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). 

4.      Cairan pleural di analisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, LDH, protein) analisis sitologi untuk sel - sel malignan dan pH.
5.      Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
F.     Pengobatan Efusi Pleura. 

Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (contoh : gagal jantung kongesif, pneumonia, sirosis).
1.      Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan,untuk mendapatkan spesimen guna keperluan analisi dan untuk menghilangkan dispneu. 

2.      Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini kadang di atasi dengan pemasangan selang dada dengan WSD atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru. 

3.      Agen yang secara kimiawi mengiritasi seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleura dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada.

Asma Pada Anak : Pengertian, Penyebab, Komplikasi, Pemeriksaan, Pengobatan, Faktor Resiko dan Pencegahannya


Asma Pada Anak : Pengertian, Penyebab, Komplikasi, Pemeriksaan, Pengobatan, Faktor Resiko dan Pencegahannya 

A.    Pengertian Asma.
Asma merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak. Kejadian asma meningkat di hampir seluruh dunia, baik Negara maju maupun Negara berkembang termasuk Indonesia. Peningkatan ini diduga berhubungan dengan meningkatnya industri sehingga tingkat polusi cukup tinggi. Walaupun berdasarkan pengalaman klinis dan berbagai penelitian asma merupakan penyakit yang sering ditemukan pada anak, tetapi gambaran klinis asma pada anak sangat bervariasi, bahkan berat-ringannya serangan dan sering - jarangnya serangan berubah - ubah dari waktu ke waktu. Akibatnya kelainan ini kadangkala tidak terdiagnosis atau salah diagnosis sehingga menyebabkan pengobatan tidak ade kuat. 

Umumnya gejala klinis dtandai dengan adanya sesak nafas dan mengi (nafas yang berbunyi). Kelompok anak yang patut diduga asma adalah anak-anak yang menunjukkan batuk dan / atau mengi yang timbul secara episodic, cenderung pada malam / dini hari , musiman, setelah aktivitas, serta adanya riwayat asma dan atopi pada pasien dan keluarganya. Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics atau NCHS (2003), prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak 4,2 juta), dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta). Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada lelaki. 

WHO memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat asma. Sedangkan berdasarkan laporan NCHS (2000) terdapat 4487 kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu populasi. Kematian anak akibat asma jarang. Asma pada anak ialah penyakit yang ditandai dengan variasi luas dalam periode waktu yang pendek daripada hambatan aliran udara dalam saluran nafas paru yang bermanifestasi sebagai serangan berulang atau mengi yang dipisahkan oleh interval bebas gejala. (Scadding dan pengalaman klinis Godfrey).
B.     Penyebab Asma. 

Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis. Kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot - otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di tingkat alveoli. 

Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi tertentu, selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti eksim, dermatitis, demam tinggi dan klien dengan riwayat asma. Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adanya faktor - faktor pencetus yang tidak jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik, dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma.
Faktor - faktor penyebab asma pada anak :
1.      Faktor emosi ; gangguan emosi dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas.
2.      Faktor imunologis / alergi ; saat ini telah banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu faktor penting berkembangnya asma. Atopi merupakan faktor resiko nyata yang dapat menyebabkan timbulnya gejala asma.
3.      Faktor non alergi ; infeksi virus / bacterial dan zat-zat iritan / polutan.
4.      Faktor keturunan.  
5.      Asma yang disebabkan oleh olahraga yang berlebih.
Asma yang menyerang pada anak - anak biasanya dipicu oleh serangan asma apabila melakukan suatu jenis olahraga atau aktivitas berat seperti berolahraga renang, berlari atau bersepeda. Asma yang menyerang anak-anak masih dapat ditolong dan diatasi dengan melakukan olahraga atau kegiatan fisik yang ringan yang tidak menimbulkan alergi berlebih yang menganggu pernapasan pada anak - anak.
Asma yang menyerang pada anak memiliki resiko yang lebih fatal apabila tidak ditangani sejak dini. Peran para orang tua sangat mendukung dalam menghadapi dan mengatasi serangan asma pada anak. Bila anak memiliki asma para orang tua hendaknya selalu mengingatkan sang anak atau jangan terlupa membekali anak dengan obat semprot pereda asma (spray asthma) agar selalu dibawa kemanapun dia pergi.
Guna menghindari timbulnya serangan asma mendadak, terutama disaat sang anak sedang bersekolah dan berolahraga peran orang tua untuk membekali obat asma bagi anak sangatlah penting. Meskipun sudah menggunakan obat spray asma dan masih memiliki kemungkinan mengalami serangan asma yang berlebih tetapi memiliki resiko yang lebih kecil daripada tidak menggunakan obat semprot asma sama sekali. Hal ini juga berlaku pada orang dewasa untuk tidak lupa selalu membawa obat pereda asma.
6.      Asma yang disebabkan karena Alergi.
Asma sebagian besar menyerang anak sekitar 80 % pada usia dibawah 18 tahun dan 50 % pada orang dewasa. Diperkirakan sekitar 75 - 80 % asma yang diderita disebabkan oleh alergi tertentu. Penyebab asma pada anak sama halnya yang di derita pada orang dewasa. Jika pada anak yang menderita asma cenderung karena memiliki alergi sejak lahir adanya faktor genetik dari orangtua. Di dalam tubuhnya akan ditemukan kadar tinggi dari antibodi alergi yakni Imunoglobulin E (IgE).
Antibodi IgE mudah mengenali alergen meski dalam jumlah paling kecil yang disebabkan oleh debu tungau yang kemudian bereaksi dan dilepaskan oleh histamin yang membuat anak menjadi bersin - bersin, pilek, mata berair dsb. Bila anak bersin-bersin, pilek atau mata berair. Hal ini merupakan proses reaksi tubuh untuk melawan alergen yang masuk meskipun efek dari keluarnya histamin (penyebab alergi) dapat memicu serangan asma.
Beberapa jenis alergi dari penyebab asma sebenarnya dapat diketahui secara dini dengan melakukan pemeriksaan khusus pada dokter ahli. Setelah diketahui penyebab pasti penyakit asma dari alergi, dokter akan memberikan suatu resep obat anti histamin (anti-alergi) untuk mencegah pelepasan histamin dalam tubuh atau pilihan pengobatan terapi asma yang disarankan dokter.
C.    Manifestasi Klinis Penyakit Asma. 

Manifestasi Klinis Penyakit Asma, diantaranya :
a.      Jika asma ringan, anak memiliki ciri atau pola perilaku, seperti :
1.      Anak tampak sesak saat berjalan.
2.      Pada bayi: menangis keras.
3.      Posisi anak: bisa berbaring.
4.      Dapat berbicara dengan kalimat.
5.      Kesadaran: mungkin irritable.
6.      Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
7.      Mengi sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi.
8.      Biasanya tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
9.      Retraksi interkostal dan dangkal.
10.  Frekuensi nafas : cepat (takipnea).
11.  Frekuensi jalannya urat nadi : normal.
12.  Tidak ada pulsus paradoksus (< 10 mmHg) – SaO2 % > 95%.
13.  PaO2 normal, biasanya tidak perlu diperiksa.
14.  PaCO2 < 45 mmHg 2.
Jika mengalami serangan asma sedang, dengan ciri perilaku, seperti :
a.       Anak tampak sesak saat berbicara.
b.      Pada bayi : menangis pendek dan lemah, sulit menyusu/makan.
c.       Posisi anak : lebih suka duduk.
d.      Dapat berbicara dengan kalimat yang terpenggal/terputus.
e.       Kesadaran : biasanya irritable.
f.       Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
g.      Mengi nyaring, sepanjang ekspirasi ± inspirasi.
h.      Biasanya menggunakan otot bantu pernafasan.
i.        Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya sedang.
j.        Frekuensi nafas : cepat (takipnea)
k.       Frekuensi nadi : cepat (takikardi).
l.        Ada pulsus paradoksus (10-20 mmHg)
m.    SaO2 % sebesar 91-95%.
n.      PaO2 > 60 mmHg.
15.  PaCO2 < 45 mmHg 3.
Jika mengalami serangan asma berat tanpa disertai napas yang tiba - tiba berhenti :
a.       Anak tampak sesak saat beristirahat.
b.      Pada bayi : tidak mau minum / makan.
c.       Posisi anak : duduk bertopang lengan.
d.      Dapat berbicara dengan kata - kata.
e.       Kesadaran : biasanya irritable.
f.       Terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
g.      Mengi sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop sepanjang ekspirasi dan inspirasi.
h.      Menggunakan otot bantu pernafasan.
i.        Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya dalam, ditambah nafas cuping hidung.
j.        Frekuensi nafas : cepat (takipnea).
k.      Frekuensi nadi : cepat (takikardi).
l.        Ada pulsus paradoksus (> 20 mmHg).
16.  SaO2 % sebesar < 90 %.
17.  PaO2 < 60 mmHg. – PaCO2 > 45 mmHg.
b.      Jika asma berat yang disertai ancaman henti nafas :
1.      Kesadaran : kebingungan.
2.      Nyata terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
3.      Mengi sulit atau tidak terdengar.
4.      Penggunaan otot bantu pernafasan : terdapat gerakan paradoks torakoabdominal.
5.      Retraksi dangkal / hilang.
6.      Frekuensi nafas : lambat (bradipnea).
7.      Frekuensi nadi : lambat (bradikardi).
8.      Tidak ada pulsus paradoksus ; tanda kelelahan otot nafas.
c.       Kecepatan atau frekuensi nafas pada anak sadar, dilihat dari segi usia :
a.      Usia Frekuensi nafas normal :
1.      Usia < 2 bulan < 60 x / menit.
2.      Usia 2 – 12 bulan < 50 x / menit.
3.      Usia 1 – 5 tahun < 40 x / menit.
4.      Usia 6 – 8 tahun < 30 x / menit.
b.      Usia Frekuensi nadi normal :
1.      Usia  2 – 12 bulan < 160 x / menit.
2.      Usia 1 – 2 tahun < 120 x / menit.
3.      Usia 3 – 8 tahun < 110 x / menit.
D.    Komplikasi dan Pencegahan Penyakit Asma. 

a.      Komplikasi Penyakit Asma.
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks, atelektasis, gagal nafas, dll.
b.      Pencegahan Penyakit Asma.
Pencegahan Penyakit Asma, diantaranya :
1.      Tindakan pencegahan pada anak yang belum bermanifestasi :
a.       Mencegah terjadinya sesitisasi pada anak ; walau faktor genetic merupakan faktor penting, tetapi manifestasinya dipengaruhi faktor lingkungan. Penghindaraan terhadap makanan-makanan yang mempunyai tingkat alerginitis tinggi baik pada ibu hamil dan yang menyusui maupun sang anak.
b.      Orang tua, terutama ibu dianjurkan tidak merokok.
c.       Pencegahan terjadinya infeksi saluran nafas dan akibatnya.
d.      Pemberian asi eksklusif akan memberikan kekebalan dan efek imunologis pada anak.
2.      Tindakan pencegahan pada anak yang telah bermanifestasi, diantaranya :
a.       Menghindarkan faktor pencetus, yaitu :
Alergan makanan, inhalan, bahan iritan, infeksi virus/bakterial, hindari latihan fisik yang berat, perubahan cuaca dan emosi sebagai faktor pencetus.
b.      Penggunaan obat-obatan, untuk mengatasi serangan asma.
E.     Faktor Resiko Yang Melatarbelakangi Penyakit Asma. 

Faktor Resiko yang melatarbelakangi Penyakit asma, diantaranya :
1.      Jenis Kelamin.
Jika dilihat dan diamati penyakit asma lebih tinggi di derita oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan.
2.      Usia.
Jika diamati dari faktor usia penyakit asma timbul kali pertama pada awal usia seseorang yakni pada tahun pertama awal kehidupan sekitar 0-17 tahun. Namun penyakit asma baru akan terdeteksi atau diketahui bila melalui pemeriksaan lebih lanjut pada dokter sekitar usia 4-8 tahun.
3.      Alergi.
Di Inggris dilaporkan bahwa anak usia 16 tahun yang memiliki riwayat asama atau mengi (bengek) akan mengalami serangan mengi (suara bengek) yang dapat terjadi 2x lipat lebih besar ditambah apabila anak pernah mengalami hay fever, rinitis alergi, atau eksema.
Beberapa laporan lainnya juga membuktikan bahwa sensitifitasi dari alergi yang diakibatkan oleh alergen inhalan, susu, telur atau kacang pada tahun pertama kehidupan dapat menjadi indikator penyebab timbulnya penyakit asma.
4.      Lingkungan.
Beberapa penderita asma yang disebabkan oleh alergi yang dapat meningkatkan resiko anak menderita asma, antara lain : serpihan atau virus dari bulu binatang peliharaan, tungau debu rumah, jamur / bakteri dan serangga.
5.      Ras.
Prevalensi asma dan kejadian dari serangan asma lebih banyak atau lebih tinggi terjadi pada mereka yang memiliki ras kulit hitam dibanding yang memiliki kulit putih.
6.      Asap Rokok.
Asma juga bisa terjadi pada mereka yang dikatakan seorang perokok. Karena resiko terserang asma lebih besar dan lebih tinggi pada seorang perokok dibanding dengan mereka yang tidak merokok.
7.      Polusi Udara.
Polusi udara seperti molekul atau partikel-partikel halus yakni debu di jalan raya, nitrat dioksida, karbon monoksida, atau SO2, diduga berperan meningkatkan gejala asma, namun belum didapatkan bukti yang disepakati.
8.      Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA).
Infeksi RSV (respiratory syncytial virus) atau yang dikenal ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan) yang merupakan faktor resiko utama yang menyebabkan timbulnya penyakit asma yang umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun.
Sedangkan infeksi virus berulang yang tidak menyebabkan infeksi saluran pernafasan bawah dapat memberikan perlindungan pada anak terhadap asma.
Hal - hal yang harus diperhatikan pada asma anak, diantaranya :  

1.      Hindari makan makanan yang mengandung kola, bersoda, kacang - kacangan, minuman dingin / es, goreng - gorengan.
2.      Hindari tungau debu yang sering terdapat pada debu kasur dan bantal kapuk, selimut, lantai, karpet gordin , perabot rumah. Sebaiknya laci / rak dibersihkan dengan lap basah, gordin dan selimut dicuci setiap 2 minggu , karpet, majalah, mainan , buku dan pakaian yang jarang dipakai diletakkan di luar kamar tidur dan lantai dipel setiap hari.
3.      Hindarkan zat - zat yang mengiritasi, seperti : obat semprot rambut, minyak wangi, asap rokok, asap obat nyamuk , bau cat yang tajam, bau bahan kimia, udara yang tercemar, udara dan air dingin.
4.      Sebelum melakukan aktivitas fisik (jangan melakukan aktivitas fisik yang berat), sebaiknya melakukan pemanasan terlebih dahulu, dan jika perlu pemberian obat sebelum beraktivitas.
F.     Pengobatan Penyakit Asma. 

Anak yang lebih tua atau anak remaja dapat mengenali memiliki asma seringkali menggunakan Peak Flow Meter  (sebuah alat kecil yang merekam seberapa cepat seseorang bisa meniup udara) untuk mengukur tingkat gangguan saluran udara. Alat ini bisa digunakan sebagai penilaian objektif pada kondisi si anak. Pengobatan pada sebuah serangan berat terdiri dari membuka saluran udara (bronchodilation) dan menghentikan peradangan. Berbagai macam obat-obatan inhalasi membuka saluran udara (bronchodilator). Contoh khusus adalah albuterol dan ipratropium.
Anak yang lebih tua dan anak remaja biasanya bisa menggunakan obat - obatan ini menggunakan alat inhalasi dengan dosis meteran. Anak yang lebih tua dari 8 tahun atau seringkali menemukan kemudahan untuk menggunakan inhalasi dengan pengatur jarak atau ruangan penyangga dipasang. Bayi dan anak yang sangat kecil kadangkala bisa menggunakan alat inhalasi dan pengatur jarak jika masker ukuran bayi dipasang. Anak yang tidak menggunakan alat inhalasi bisa menerima obat - obatan inhalasi di rumah melalui masker yang terpasang pada nebulizer, sebuah alat kecil yang menghasilkan uap obat menggunakan udara yang dipadatkan. 

1.      Anak yang sedang mengalami serangan berat juga bisa diberikan kortikosteroid melaui mulut. Anak dengan serangan hebat diobati di rumah sakit dengan memberikan bronchodilator dalam nebulizer setidaknya setiap 20 menit pada awalnya.
Kadangkala dokter menggunakan suntikan epinephrine, sebuah bronchodilator, pada anak dengan serangan hebat jika mereka tidak bisa bernafas dengan cukup pada uap nebulizer. Dokter biasanya memberikan infus kortikosteroid kepada anak yang memiliki serangan hebat.
2.      Anak yang menderita asma ringan, dengan serangan yang jarang biasanya menggunakan obat - obatan hanya pada waktu serangan.
Anak yang sering atau dengan serangan hebat juga perlu menggunakan obat - obatan bahkan ketika mereka tidak mengalami serangan.
3.      Obat - obatan lain digunakan berdasarkan frekwensi dan kerasnya serangan pada anak.
Anak dengan serangan yang jarang yang tidak terlalu parah biasanya menggunakan obat - obatan inhalasi, seperti cromolyn atau nedocromil, atau dosis rendah pada kortikosteroid yang diinhalasi setiap hari untuk membantu mencegah serangan.
Obat - obatan ini mencegah lepasnya zat kimia yang melukai saluran udara, dan mengurangi peradangan. Menyiapkan theophylline untuk penggunaan yang lama adalah pilihan yang tidak mahal untuk pencegahan pada beberapa anak.
Anak dengan serangan yang sering atau lebih hebat juga menerima satu atau lebih obat - obatan, termasuk bronchodilator jangka panjang seperti salmeterol, leukotriene modifier, seperti zafirlukast atau montelukast, dan kortikosteroid yang dihirup.
Jika obat - obatan ini tidak mencegah serangan hebat, anak bisa membutuhkan kortikosteroid yang dihirup melalui mulut. Anak yang berpengalaman terserang hebat selama olahraga biasanya menghirup sejumlah dosis bronchodilator hanya sebelum olahraga.
Pengobatan Asma dapat dibagi atas : 

a.      Pengobatan dengan obat - obatan Seperti :
1.      Beta agonist (beta adrenergik agent).
2.      Methylxanlines (enphy bronkodilator).
3.      Anti kolinergik (bronkodilator).
4.      Kortikosteroid.
5.      Mast cell inhibitor (lewat inhalasi).
b.      Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :
1.      Oksigen 4 - 6 liter/menit.
2.      Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit - 1 jam.
Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan.
3.      Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam.
4.      Kortikosteroid hidrokortison 100 - 200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
Adapun bahan herbal yang dapat membantu meringankan dan mengatasi asma dan serangan asma lainnya, diantaranya :
1.      Lobak Putih.
Beberapa buah lobak putih dicuci bersih lalu dipotong sedang dan dijus hingga mendapat 1 mangkuk, lalu di tim dan diminum.
2.      Bunga Melati.
Siapkan 15 gram bunga melati yang direbus dengan 400 cc sampai mendidih hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
3.      Akar Tanaman Putri Malu.
Ambil 30 gram akar tanaman putri malu / sikejut direbus dengan 400 cc rebus sampai mendidih hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
4.      Bunga Kenop.
15 gram bunga kenop segar direbus dengan 400 cc hingga mendidih dan tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
5.      Bunga Melati dan Rimpang Jahe.
15 gram bunga melati dan 15 gram rimpang jahe direbus dengan 600 cc hingga tersisa 300 cc. Kemudian airnya diminum selagi hangat sebanyak ½ gelas untuk 1x minum.
6.      Jahe.
Irisan jahe setebal 3 mm ditempelkan dengan menggunakan koyo hangat / koyo cabe pada titik dazhui.
7.      Rumput Pendul.
60 gram rumput jukut pendul direbus dengan 400 cc hingga mendidih dan tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
8.      Daun Kecubung.
10 lembar daun kecubung diiris - iris dan dijemur sampai kering. Gunakan untuk meroko dengan menggunakan bungkus dari kelobot jagung atau kulit jagung yang sudah tua. Tidak perlu dilakukan setiap hari cukup minimal 2x seminggu.
9.      Bawang Putih.
3 siung bawang putih ditumbuk halus, lalu dicampur dengan 1 sendok makan madu, dan gula batu secukupnya. Rebus seluruh bahan tersebut hingga mendidih sambil diaduk rata dan sampai tercium aroma dari herbal tersebut. Kemudian diperas dan disaring. Diminum setiap hari. Setiap pagi hari hingga sembuh.
Untuk resep dari ramuan diatas dianjurkan untuk diminum dan diulangi penggunaannya cukup konsumsi 2x sehari.
Contoh - Contoh obat yang digunakan pada Penyakit Asma :
1.      Magnesium Sulfat.
Pada penelitian multisenter, pemberian magnesium sulfat intravena (infus) di rumah sakit mempunyai efektivitas sama dengan pemberian beta agonis.
2.      Mukolitik (Pengencer Dahak).
Pemberian mukolitik (misalnya Bisolvon sirup) pada serangan asma dapat saja diberikan, tetapi harus berhati - hati pada anak dengan refleks batuk yang tidak optimal.
Pemberian mukolitik secara inhalasi (hirupan) tidak mempunyai efek yang signifikan, tetapi harus berhati - hati pada serangan asma berat.
3.      Antibiotika.
Pemberian antibiotika pada asma tidak dianjurkan, karena sebagian besar pencetusnya bukan infeksi bakteri, melainkan infeksi virus.
Pada keadaan tertentu, antibiotika dapat diberikan, yaitu pada infeksi saluran napas yang dicurigai karena bakteri, atau dugaan sinusitis yang menyertai asma.
4.      Obat Sedasi (Mempunyai Efek Membuat Kantuk).
Pemberian obat sedasi pada serangan asma sangat tidak dianjurkan, karena menekan pernapasan.
5.      Anti Histamin (Anti Alergi).
Anti histamin jangan diberikan pada serangan asma, karena tidak mempunyai efek yang bermakna, bahkan dapat memperburuk keadaan.
G.    Pemeriksaan Penunjang dan Pengkajian terhadap Penyakit Asma.
a.      Pemeriksaan Penunjang.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang diberikan diantaranya :
1.      Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
2.      Tes provokasi :
a.       Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
b.      Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
c.       Tes provokasi bronkial seperti : Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
d.      Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
3.      Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.   
4.      Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
5.      Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
6.      Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
b.      Pengkajian.
Pengkajian terhadap Penyakit Asma, diantaranya :
1.      Identitas Klien.
Identitas Klien, diantaranya :
a.       Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan, alergi debu, udara dingin.
b.      Riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas, keringat dingin.
c.       Status mental : lemas, takut, gelisah.
d.      Pernapasan : perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.
e.       Gastro intestinal : adanya mual, muntah.
f.       Pola aktivitas : kelemahan tubuh, cepat lelah.
2.      Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan Fisik meliputi :
a.       Inspeksi, diantaranya :
1.      Contour, Confek, tidak ada defresi sternum.
2.      Diameter antero posterior lebih besar dari diameter transversal.
3.      Keabnormalan struktur Thorax.
4.      Contour dada simetris.
5.      Kulit Thorax ; Hangat, kering, pucat atau tidak, distribusi warna merata.
6.      RR dan ritme selama satu menit.
b.      Palpasi, diantaranya :
1.      Temperatur kulit.
2.      Premitus : fibrasi dada.
3.      Pengembangan dada.
4.      Krepitasi.
5.      Massa.
6.      Edema.
c.       Auskultasi, diantaranya :
1.      Vesikuler.
2.      Broncho vesikuler.
3.      Hyper ventilasi.
4.      Rochi.
5.      Wheezing.
6.      Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya.

Labels