5 Benang Merah Dalam Persalinan Dan Kelahiran Bayi


5 Benang Merah Dalam Persalinan Dan Kelahiran Bayi 

A.    Pendahuluan.
Di Indonesia angka kematian maternal dan perinatal masih cukup tinggi. Padahal jumlah pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia. Asuhan bersalin Normal (APN ) diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian pada masa nifas 24 jam pertama (Syaifuddin,dkk ; 2002).
Pada saat ini angka kematian ibu dan angka kematian perinatal masih sangat tinggi.
Lima benang merah dalam Asuhan Persalinan Dasar adalah :      
1.      Aspek pemecahan yang diperlukan untuk menentukan pengambilan keputusan klinik (clinik decicion making).
2.      Aspek sayang ibu yang berarti sayang anak.             
3.      Aspek pencegahan infeksi.          
4.      Aspek pencatatan.             
5.      Aspek rujukan.
Persalinan yang aman yaitu memastikan bahwa semua penolong mempunyai pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi (Saifuddin,dkk ; 2002).  
Ada lima aspek dasar atau lima benang merah yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang aman dan bersih.
Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis.
Lima benang merah tersebut adalah :
1.      Membuat keputusan klinik.
2.      Asuhan saying ibu dan saying bayi.
3.      Pencegahan infeksi.
4.      Pencacatan (rekam medik) asuhan persalinan.
5.      Rujukan.
Lima benang merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu hingga kala empat termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.
Tujuan :
1.      Memahami langkah-langkah pengambilan keputusan klinik.
2.      Menjelaskan asuhan saying ibu dan bayi.
3.      Menjelaskan prinsip dan praktik pencegahan infeksi.
4.      Menjelaskan manfaat dan cara pencacatan medic asuhan persalinan.
5.      Menjelaskan hal-hal penting dalam melakukan rujukan.
B.     Membuat Keputusan Klinik (5 Benang Merah).
Membuat keputusan merupakan proses yang  menentukan untuk menyelesaikan masalah dan memnentukan asuhan yang diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat, komprehensif dam aman, baik bagi pasien dan keluarganya maupun petugas yang mmeberikan pertolongan.
Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian proses dan metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari olah kognitif dan intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi berdasarkan bukti (evidence - based), keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Helen Varney Burst, 1997). 

Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan perilaku yang diharapkan dari seorang pemberi asuhan dalam menjalankan tugas dan pengamalan ilmunya kepada pasien atau klien. Pengetahuan dan keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan atau pertolongan yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal atau memenuhi standar kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak disertai dengan perilaku yang terpuji.
Tujuh langkah dalam Membuat Keputusan Klinik :
1.      Pengumpulan data utama dan relevan untuk membuat keputusan.
2.      Menginterpretasikan data dan mengidentifikasi masalah.
3.      Membuat diagnosis atau menentukan masalah yang terjadi / dihadapi.
4.      Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk mengatasi masalah.
5.      Menyusun rencana pemberian asuhan atau intervensi untuk solusi masalah.
6.      Melaksanakan asuhan / intervensi terpilih.
7.      Memantau dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi.
Dibawah ini 7 langkah dalam Membuat Keputusan Klinik yang akan diuraikan satu persatu, antara lain :      
1.      Pengumpulan data.
Semua pihak yang terlibat mempunyai peranan penting dalam setiap langkah untuk membuat keputusan klinik. Data utama (misalnya, riwayat persalinan), data subyektif yang diperoleh dari anamnesis (misalnya, keluhan pasien), dan data obyektif dari pemeriksaan fisik (misalnya, tekanan darah) diperoleh melalui serangkaian upaya sistematik dan terfokus.
Validitas dan akurasi data akan sangat membatu pemberi pelayanan untuk melakukan analisis dan pada akhirnya, membuat keputusan klinik yang tepat. Data subyektif adalah informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dan telah dialaminya.
a.       Data subyektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika ibu merasa sangat nyeri atau sangat sakit.
b.      Data obyektif adalah informasi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan / pengamatan terhadap ibu atau bayi baru lahir.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara :
a.      Anamnesis dan Observasi Langsung :
Berbicara dengan ibu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi ibu dan mencatat riwayatnya. Mengamati perilaku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit, merasa nyaman atau nyeri.
b.      Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
c.       Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan laboratorium, USG, Rontgen, dsb.
d.      Catatan medic.  
2.      Interpretasi data untuk mendukung diagnosis atau identifikasi masalah.
Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan melakukan analisis untuk mendukung alur algoritma diagnosis. Peralihan dari analisis data menuju pada pembuatan diagnosis bukanlah suatu proses yang linier (berada pada suatu garis lurus) melainkan suatu proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung terus-menerus.
Suatu diagnosis kerja diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data secara terus - menerus.
Untuk membuat diagnosis dan identifikasi masalah, diperlukan:
1.      Data yang lengkap dan akurat.
2.      Kemampuan untuk menginterpretasi / analisis data.
3.      Pengetahuan esensial, intuisi dan pengalaman yang relevan dengan masalah yang ada.
Diagnosis dibuat sesuai dengan istilah atau nomenklatur spesifik kebidanan yang mengacu pada data utama, analisis data subyektif dan obyektif yang diperoleh. Diagnosis menunjukkan variasi kondisi yang berkisar antara normal dan patologik yang memerlukan upaya korektif untuk menyelesaikannya.
Masalah memiliki dimensi yang lebih luas dan tidak mempunyai batasan yang tegas sehingga sulit untuk segera diselesaikan. Masalah dapat merupakan bagian dari diagnosis sehingga selain upaya korektif untuk diagnosis, juga diperlukan upaya penyerta untuk mengatasi masalah.
Contoh :
Diagnosis : G2P1A0, hamil 37 minggu, ketuban pecah dini 2 jam.
Masalah : kehamilan yang tidak diinginkan atau takut untuk menghadapi persalinan.           
3.      Menetapkan diagnose kerja atau merumuskan masalah.
Bagian ini dianalogikan dengan proses membuat diagnosis kerja setelah mengembangkan berbagai kemungkinan diagnosis lain (diagnosis banding). Rumusan masalah mungkin saja terkait langsung maupun tidak langsung terhadap diagnosis tetapi dapat pula merupakan masalah utama yang saling terkait dengan beberapa masalah penyerta atau faktor lain yang berkontribusi dalam terjadinya masalah utama. Dalam pekerjaan sehari-hari, penolong persalinan telah mengetahui bahwa seorang pasien adalah primigravida dalam fase aktif persalinan (diagnosis).
Selain dalam proses tersebut, sang ibu juga memgalami anemia (masalah) dimana hal ini belum jelas apakah akibat defisiensi zat besi (nutrisi) yang ini merupakan data tambahan untuk membuat diagnosis baru atau akibat budaya setempat (faktor sosial yang kontributornya adalah rendahnya pendidikan) yang melarang ibu hamil mengkonsumsi makanan bergizi.
Dengan kata lain, walaupun sudah ditegakkan diagnosis kerja tetapi bukan berarti bahwa tidak ada masalah lain yang dapat menyertai atau mengganggu upaya pertolongan yang akan diberikan oleh seorang penolong persalinan.
Contoh :
Ibu hamil dengan hidramnion, bayi makrosomia, kehamilan ganda yang jelas secara diagnosis tetapi masih dibarengi dengan masalah lanjutan walaupun kasus utamanya diselesaikan. Bayi besar yang mungkin dapat dengan selamat dilahirkan oleh penolong persalinan harus tetap diwaspadai sebagai faktor yang potensial untuk menimbulkan masalah.
Misalnya : bayi tadi mengalami hipoglikemia karena makrosomia diakibatkan oleh ibu dengan diabetes melitus atau terjadi perdarahan pasca persalinan karena makrosomia adalah faktor predisposisi untuk atonia uteri.
4.      Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk menghadapi masalah.
Petugas kesehatan di lini depan seperti bidan di desa, tidak hanya diharapkan terampil untuk membuat diagnosis bagi pasien atau klien yang dilayaninya tetapi juga harus mampu mendeteksi setiap situasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya.
Untuk mengenali situasi tersebut, para bidan harus pandai membaca situasi klinik dan masyarakat setempat sehingga mereka tanggap dalam mengenali kebutuhan terhadap tindakan segera sebagai langkah penyelamatan ibu dan bayinya apabila situasi gawatdarurat memang terjadi.
Upaya ini dikenal sebagai kesiapan menghadapi persalinan dan tanggap terhadap komplikasi yang mungkin terjadi (Birth Preparedness and Complication Readiness). Dalam uraian - uraian berikutnya, petugas pelaksana persalinan akan terbiasa dengan istilah rencana rujukan yang harus selalu disiapkan dan didiskusikan diantara ibu, suami dan penolong persalinan.
Contoh :
Untuk menghadapi ibu hamil dengan preeklampsia berat dan tekanan darah yang cenderung selalu meningkat maka seorang bidan harus berkonsultasi dengan tenaga ahli di rumah sakit atau spesialis obstetri terdekat untuk menyiapkan tindakan/upaya yang dapat dilakukan bila sang ibu mulai menunjukkan gejala dan tanda gawatdarurat.
Pada keadaan tertentu, mungkin saja seorang bidan harus menangani kasus distosia bahu tanpa bantuan siapapun. Apabila ia tidak pernah dilatih untuk mengatasi hal itu atau ia tidak mengetahui tanda-tanda distosia bahu maka ia tidak pernah tahu bahwa perlu disiapkan sesuatu (pengetahuan, keterampilan, dan rujukan) untuk mengatasi hal tersebut.
Hal yang paling buruk dan mungkin saja terjadi adalah sang bayi tidak dapat dilahirkan dan kemudian meninggal dunia karena bidan tersebut berupaya melahirkan bayi tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana cara mengatasi hal tersebut.           
5.      Menyusun rencana asuhan atau intervensi.
Rencana asuhan atau intervensi bagi ibu bersalin dikembangkan melalui kajian data yang telah diperoleh, identifikasi kebutuhan atau kesiapan asuhan dan intervensi, dan mengukur sumberdaya atau kemampuan yang dimiliki. Hal ini dilakukan untuk membuat ibu bersalin dapat ditangani secara baik dan melindunginya dari berbagai masalah atau penyulit potensial dapat mengganggu kualitas pelayanan, kenyamanan ibu ataupun mengancam keselamatan ibu dan bayi.
Rencana asuhan harus dijelaskan dengan baik kepada ibu dan keluarganya agar mereka mengerti manfaat yang diharapkan dan bagaimana upaya penolong untuk menghindarkan ibu dan bayinya dari berbagai gangguan yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwa atau kualitas hidup mereka.
Contoh : Rencana asuhan kala I :
a.      Denyut jantung janin: setiap ½ jam.
b.      Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap ½ jam.
c.       Nadi: setiap ½ jam.
d.      Pembukaan serviks: setiap 4 jam.
e.       Penurunan bagian terbawah janin: setiap 4 jam.
f.       Tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam.
g.      Produksi urin, aseton dan protein : setiap 2 sampai 4 jam.
Rencana asuhan pada kasus Tali Pusat Menumbung, diantaranya :
a.      Pemberian oksigen nasal 6L / menit.
b.      Mengatur posisi ibu bersalin.
c.       Menghubungi rumah sakit rujukan untuk tindakan lanjutan.
d.      Stabilisasi kondisi ibu dan bayi yang dikandungnya.
e.       Pemantauan DJJ.
6.      Melaksanakan asuhan.
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara tepat waktu dan aman. Hal ini akan menghindarkan terjadinya penyulit dan memastikan bahwa ibu dan/atau bayinya yang baru lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan.
Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang beberapa intervensi yang dapat dijadikan pilihan untuk kondisi yang sesuai dengan apa yang sedang dihadapi sehingga mereka dapat membuat pilihan yang baik dan benar.
Pada beberapa keadaan, penolong sering dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ibu dan keluarga meminta penolong yang menentukan intervensi yang terbaik bagi mereka dan hal ini memerlukan upaya dan pengertian lebih agar ibu dan keluarga mengerti bahwa hal ini terkait dengan hak klien dan kewajiban petugas untuk memperoleh hasil terbaik.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pilihan adalah :
a.      Bukti - bukti ilmiah.
b.      Rasa percaya ibu terhadap penolong persalinan.
c.       Pengalaman saudara atau kerabat untuk kasus yang serupa.
d.      Tempat dan kelengkapan fasailitas kesehatan.
e.       Biaya yang diperlukan.
f.       Akses ketempat rujukan.
g.      Luaran dari sistem dan sumberdaya yang ada.
7.      Memantau dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi solusi.
Penatalaksanaan yang telah dikerjakan kemudian dievaluasi untuk menilai efektivitasnya. Tentukan apakah perlu di kaji ulang atau diteruskan sesuai dengan rencana kebutuhan saat itu. Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, memilih intervensi, menilai kemampuan sendiri, melaksanakan asuhan atau intervensi dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan evaluasi asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi ditemukan bahwa status ibu atau bayi baru lahir telah berubah, sesuaikan asuhan yang diberikan untuk memenuhi perubahan kebutuhan tersebut.
Asuhan atau intervensi dianggap membawa manfaat dan teruji efektif apabila masalah yang dihadapi dapat diselesaikan atau membawa dampak yang menguntungkan terhadap diagnosis yang telah ditegakkan.
Apapun jenisnya, asuhan dan intervensi yang diberikan harus efisien, efektif, dan dapat diaplikasikan pada kasus serupa dimasa datang. Bila asuhan atau intervensi tidak membawa hasil atau dampak seperti yang diharapkan maka sebaiknya dilakukan kajian ulang dan penyusunan kembali rencana asuhan hingga pada akhirnya dapat memberi dampak seperti yang diharapkan.
C.     Asuhan Sayang Ibu (5 Benang Merah).
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah menanyakan pada diri kita sendiri. ” seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan ?” atau ” apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?”.
Beberapa prinsip dasar asuhan ibu adalah dengan mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik (Murray Enkin, 2000). 

Disebutkan pula bahwa hal tersebut diatas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunam, dan seksio cesar, persalinan berlangsung lebih cepat (Murray Enkin, 2000).     
a.      Asuhan Sayang Ibu Dalam Proses Persalinan.
1.      Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
2.      Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
3.      Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarga.
4.      Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
5.      Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
6.      Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan perasaan ibu beserta anggota keluarganya.
7.      Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
8.      Ajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara – cara bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
9.      Secara konsisten lakukan praktik – praktik pencegahan infeksi yang baik.
10.  Hargai privasi ibu.
11.  Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi.
12.  Anjurkan ibu untuk minum dan makan ringan sepanjang ia menginginkannya.
13.  Hargai dan perbolehkan praktik – praktik tradisional yang tidak merugikan kesehatan ibu.
14.  Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi, pencukuran dan klisma.
15.  Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin.
16.  Membantu memulai pemberian ASI dalalm satu jam pertama setelah kelahiran bayi.
17.  Siapkan rencana rujukan ( bila perlu ).
18.  Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan – bahan, perlengkapan dan obat – obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.     
b.      Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pasca Persalinan.
1.      Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
2.      Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai dengan permintaan.
3.      Ajarkan ibu dan keluarga tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
4.      Anjurkan suami dan anggota keluarga untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran bayi.
5.      Ajarkan ibu dan anggota keluarga tentang gejala dan tanda bahaya yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika timbul masalah atau rasa khawatir.
D.    Pencegahan Infeksi (5 Benang Merah).
1.      Tujuan Pencegahan Infeksi dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan.
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak tepisah dari komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan  dan tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur.
Dilakukan pula upaya untuk menurunkan resiko penularan penyakit - penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan pengobatannya seperti hepatitis dan HIV AIDS.
Tindakan - tindakan PI dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan, diantaranya :
a.      Meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur.
b.      Menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis dan HIV / AIDS.
Penolong persalinan dapat terpapar hepatitis dan HIV di tempat kerjanya melalui :
a.       Percikan darah atau cairan tubuh pada mata, hidung, mulut atau melalui diskontinuitas permukaan kulit (missalnya luka atau lecet yang kecil).
b.      Luka tusuk yang di sebabkan oleh jarum yang sudah terkontaminasi atau peralatan tajam lainnya, baik pada saat prosedur di lakukan ataunpada saat proses peralatan.           
2.      Definisi Tindakan - Tindakan dalam Pencegahan Infeksi.  
a.      Asepsis (Teknik Aseptik).  
Semua usaha mencegah masuknya mikroorganisme ke tubuh yang berpotensi untuk menimbulkan infeksi dengan cara mengurangi atau menghilangkan sejumlah mikroorganisme pada kulit, jaringan, dan benda mati (alat).
b.      Antisepsis.  
Pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh dengan menggunakan larutan antiseptik misalnya yodium (1-3%), alkohol (60-90%), hibiclon, savlon, dan betadine.
c.       Dekontaminasi.
Tindakan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman berbagai benda yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh.
d.      Mencuci dan Membilas.
Tindakan – tindakan untuk menghilangkan semua cemaran darah, cairan tubuh atau benda asing misalnya debu, kotoran dari kulit atau instrumen atau peralatan.
e.       Desinfeksi.
Tindakan untuk menghilangkan hampir semua atau sebagian besar mikroorganisme dari benda mati.
f.       Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT).
Tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (kecuali beberapa bakteri endospora ) pada benda mati atau instrumen.
g.      Sterilisasi.
Tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrumen.       
3.      Prinsip - prinsip Penanganan Infeksi.
a.      Setiap orang (ibu, BBL, penolang persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi dapat bersifat asimptomatik.
b.      Setiap orang harus dianggap terkena infeksi.
c.       Permukaan benda disekitar kita, perawatan dan benda-benda lainnya yang akan dan telah bersentuhan dengan permukaan kulit yang lecet harus dianggap terkontaminasi.
d.      Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses harus dianggap masih terkontaminasi.
e.       Tindakan PI harus dilaksanakan yang benar dan konsisten.       
4.      Tindakan - Tindakan Pencegahan Infeksi.
a.      Cuci Tangan dengan Benar.
Yaitu dengan 7 langkah setiap sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
b.      Memakai Sarung Tangan.
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya), peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi.
Ada 3 macam sarung tangan, yaitu :
1.      Sarung Tangan Steril atau DTT.
Untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan di bawah kulit seperti persalinan, penjahitan vagina atau pengambilan darah.
2.      Sarung tangan bersih, Untuk menangani darah atau cairan tubuh. 
3.      Sarung Tangan Rumah Tangga atau Tebal.
Yaitu Untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah dan cairan tubuh. Jangan gunakan sarung tangan yang sudah retak, tipis atau ada lubang dan robekan. Buang dan gunakan sarung tangan yang lain.
c.       Memakai APD (Alat Pelindung Diri).
Seperti kaca mata pelindung, masker wajah, penutup kepala, celemek, dan sepatu boots yang digunakan untuk menghalangi atau membatasi petugas dari percikan cairan tubuh, darah atau cidera selama melaksanakan prosedur klinik.
d.      Menggunakan Teknik Antisepsis.
Karena kulit dan selaput mukosa tidak dapat disterilkan maka penggunaan antiseptik akan sangat mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi luka terbuka dan menyebabkan infeksi.
e.       Memproses Alat Bekas Pakai.
1.      Dekontaminasi, yaitu Rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
2.      Cuci dan bilas, yaitu Dengan menggunakan detergen dan sikat.
3.      Pakai sarung tangan tebal untuk menjaga agar tidak terluka oleh benda – benda tajam.
4.      Metode yang dipilih, diantaranya : 
a.       Sterilisasi.
b.      Otoklaf : 106kPa ,1210 C ,30 menit (terbungkus), 20 menit (tidak terbungkus).
c.       Panas kering : 170 0C, 60 menit.
5.      Metode alternative, diantaranya : DTT, Rebus atau kukus : panci tertutup 20 menit. Kimiawi: rendam 20 menit. Dinginkan dan kemudian siap untuk digunakan.
f.       Menangani Peralatan Tajam dengan Aman.
Pedoman penggunaan peralatan tajam yaitu :
1.      Letakkan benda – benda tajam di atas baki steril atau DTT atau dengan menggunakan ” daerah aman ” yang sudah ditentukan ( daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan tajam ).
2.      Hati – hati saat melakukan penjahitan agar terhindar dari luka tusuk secara tidak sengaja.
3.      Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit. Jangan pernah meraba jarum ujung atau memegang jarum jahit dengan tangan.
4.      Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan atau melepaskan jarum yang akan dibuang.
5.      Buang benda – benda tajam dalam wadah tahan bocor dan segel dengan perekat jika sudah 2/3 penuh dan harus dibakar dalam insinerasi.
6.      Jika benda – benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan cara insinerasi, bilas 3 kali dengan larutan klorin 0,5 % ( dekontaminasi ), tutup kembali menggunakan teknik satu tangan dan kemudian kuburkan.
g.      Menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan termasuk pengelolaan sampah secara benar.
5.      Pertimbangan - pertimbangan mengenai PI di institusi.
Terjadi di rumah, klinik bersalin swasta, polindes atau puskesmas.
Berikut beberapa perubahan dan pemikiran tindakan-tindakan PI dalam beberapa situasi tertentu :
a.      Cuci tangan.
b.      Sarung tangan.
c.       Pelindung pribadi (kacamata).
d.      Teknik aseptic (dtt).
e.       Penanganan peralatan tajam secara aman (menggunakan botol plastic tertutup dan wadah).
f.       Pembuangan sampah (kantong plastic atau tembikar.
E.     Pencatatan (Dokumentasi) (5 Benang Merah).
Pencatatan (pendokumentasian) adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan selama persalinan. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosis dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya.
Pencatatan Rutin sangat penting karena :
1.      Sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi kesesuaian dan keefektifan asuhan atau perawatan, mengidentifikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk membuat perubahan dan peningkatan pada rencana asuhan atau perawatan.
2.      Sebagai tolak ukur keberhasilan dalam proses membuat keputusan klinik.
3.      Sebagai catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang diberikan.
4.      Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan sehingga lebih dari satu penolong persalinan akan memberikan perhatian dan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir.
5.      Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, dari satu penolong persalinan ke penolong persalinan lainnya, atau dari seorang penolong persalinan ke fasilitas kesehatan lainnya.
6.      Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus.
7.      Diperlukan untuk memberi masukan data statistik nasional dan daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu atau bayi baru lahir.
Aspek - aspek Penting dalam Pencacatan termasuk :
1.      Tanggal dan waktu asuhan diberikan.
2.      Identifikasi penolong persalinan.
3.      Paraf atau tanda tangan (dari penolong persalinan) pada semua catatan.
4.      Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas dan dapat dibaca.
5.      Suatu sistem untuk memelihara catatan pasien sehingga selalu siap tersedia.
6.      Kerahasiaan dokumen – dokumen medis.
Ibu harus diberikan salinan catatan (catatan klinik antenatal, dokumen – dokumen rujukan, dll) beserta panduan yang jelas mengenai :
1.      Maksud dari dokumen – dokumen tersebut.
2.      Kapan harus dibawa.
3.      Kepada siapa harus diberikan.
4.      Bagaimana menyimpan dan mengamankannya, baik di rumah atau selama perjalanan ke tempat rujukan.
Beberapa hal yang perlu diingat :
1.      Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat – obat, asuhan atau perawatan, dan lain – lain.
2.      Jika tidak dicatat, maka dapat dianggap bahwa asuhan tersebut tidak dilakukan.
3.      Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien diisi dengan lengkap dan benar.
F.      Rujukan (5 Benang Merah).
Rujukan diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Syarat bagi keberhasilan upaya penyelamatan yaitu kesiapan untuk merujuk bayi dan atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi).
Setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk melaksanakan kasus kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir seperti :
1.      Pembedahan termasuk bedah sesar.
2.      Transfusi darah.
3.      Persalinan mengggunakan ekstraksi vakum atau cunam.
4.      Pemberian antibiotik intravena.
5.      Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi bayi baru lahir.
Adapun yang wajib untuk diketahui oleh setiap penolong persalinan, antara lain :
1.      Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan.
2.      Ketersediaan pelayanan purna waktu.
3.      Biaya pelayanan.
4.      Waktu dan jarak tempuh ke tempat rujukan.
Oleh karena sangat sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi, maka pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal anjurkan ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya.
Dan tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan.
Ada beberapa persiapan – persiapan dan informasi yang harus dimasukkan dalam rencana rujukan, antara lain :
1.      Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir.
2.      Tempat – tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga ?. (jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
3.      Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya.( ingat bahwa transportasi harus tersedia segera, baik siang maupun malam kapan pun waktunya).
4.      Orang yang ditunjuk menjadi donor darah, jika transfusi darah diperlukan.
5.      Uang yang disisihkan untuk asuhan medis, transportasi, obat – obatan dan bahan – bahan.
6.      Siapa yang akan tinggal dan menemani anak – anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah.
Dari beberapa persiapan – persiapan dan informasi yang harus dimasukkan dalam rencana rujukan, untuk memudahkan bagi penolong untuk mengingat hal – hal penting tersebut maka terdapat singkatan BAKSOKUP ataupun BAKSOKUDA. (Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, Pakaian, Darah, Doa).
Kaji ulang rencana rujukan pada ibu dan keluarganya selama ibu melakukan kunjungan asuhan anttenatal atau awal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya, maka penting untuk mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya di awal persalinan. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan bayi baru lahir.


Labels