Home » » Manfaat Seledri

Manfaat Seledri

Posted by ERWIN EDWAR

A.    Pendahuluan.
Seledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman sayuran dari suku adas-adasan/ famili Apiaceae yang juga sering diolah menjadi obat-obatan tradisional. Hampir semua bagian tanaman ini bisa dimanfaatkan seperti daun, tangkai daun, batang, buah, dan umbi. Tanaman Seledri berupa terna kecil yang mempunyai tinggi kurang dari 1 m. Bagian daunnya tersusun berukuran gemuk dengan tangkai yang cukup pendek. Bentuk batangnya juga cukup besar. Bunga seledri tersusun secara majemuk yang akan tumbuh menjadi buah berukuran kecil dan berwarna cokelat gelap. Umbi seledri pada jenis tertentu bisa diolah menjadi bahan makanan.

Setidaknya terdapat tiga jenis tanaman seledri yang umum dibudidayakan, antara lain :
1.      Seledri Daun (Kelompok Secalinum) adalah seledri yang biasa diambil daunnya untuk diolah menjadi sup. Kebanyakan petani di Indonesia menanam seledri dari jenis ini.

2.      Seledri Tangkai (Kelompok Dulce) adalah seledri yang memiliki tangkai daun yang membesar dan aromanya segar. Tangkai seledri ini kerap ditambahkan dalam salad.

3.      Seledri Umbi (Kelompok Rapaceum) adalah seledri yang dapat membentuk umbi yang berukuran cukup besar.
Pemanfaatan umbi di antaranya untuk sup, semur, dan schnitzel.
B.     Pengolahan Tanah.

Seledri akan tumbuh dengan baik ketika dipelihara di tanah yang kondisinya gembur, subur, kaya bahan organik, dan dilengkapi sistem drainase yang lancar. Tingkat keasaman tanah yang paling bagus berada di rentang antara 5,5-6,5. Jika pH tanah kurang dari 5.5, maka Anda bisa menaburkan kapur pertanian sebanyak 1-2 ton/hektar tergantung pH dan kadar zat aluminiumnya. Tanah tersebut lantas dicangkul dengan kedalaman mencapai 30 cm.
Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm, dan panjang menyesuaikan kontur lahan. Bangun beberapa bedengan dengan jarak masing-masing sekitar 50 cm. Kemudian tutup bedengan ini menggunakan naungan jerami atau alang-alang setinggi 1-1,5 m. Diamkan lahan selama 2-3 minggu sebelum siap ditanami bibit seledri.
C.    Penyemaian Benih. 

Benih Seledri yang akan disemai harus direndam terlebih dahulu di dalam larutan Previcur N dengan konsentrasi 0,1% selama 1-2 jam. Sembari menunggu proses perendaman benih, Anda bisa menyiapkan media semai.

Caranya buat beberapa bedengan semai dengan kedalaman 0,5 cm dan jarak antar bedengan 10-20 cm. Setelah benih seledri disebar di media ini, Anda bisa menutupnya memakai tanah, lalu siram secukupnya. Jangan lupa untuk memasang naungan di atas media semai untuk menjaga kelembabannya.
D.    Penanaman Bibit.

Bibit Seledri siap dipindahkan dari tempat persemaian ke lahan penanaman setelah berusia 40 hari atau mempunyai daun sebanyak 3-4 helai.

1.      Cabut seledri-seledri yang tampak sehat secara hati-hati agar tidak merusak bagian akarnya.
2.      Rendam sebentar bibir ini ke dalam larutan Benlate atau Derosol dengan konsentrasi 50% selama 10-15 menit.
3.      Tanamkan bibit seledri ini di setiap lubang tanam dengan jarak tanam 15 x 20 cm hingga 25 x 30 cm tergantung jenis seledri yang ditanam.

4.      Jangan lupa untuk memadatkan tanah di sekitar bibit.
5.      Setelah semua bibit seledri selesai ditanamkan di lahan, Anda bisa menyiram lahan tersebut hingga basah.
E.     Pemeliharaan Tanaman.

Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berusia 7-15 hari. Caranya adalah mencabut tanaman yang mati dan menggantinya dengan bibit seledri yang baru. Sedangkan proses penyiangan gulma dapat dikerjakan secara bersama-sama dengan proses penggemburan tanah, yakni ketika tanaman sudah berumur 2-4 minggu. Penyiraman tanaman pada masa awal pertumbuhan dilaksanakan 2 kali/hari. Barulah setelah pertumbuhan tanaman sudah stabil, Anda bisa mengurangi frekuensi penyiraman menjadi 2-3 kali/minggu. Pada usia 3 minggu, tanaman seledri sudah mulai diberikan pupuk susulan setiap 10 hari sekali. Jenis pupuk yang dipakai berupa pupuk organik cair dengan dosis 0,3 ml/m2.
F.     Pengendalian OPT.

Beberapa hama yang sering dijumpai merusak tanaman seledri di antaranya siput, ulat tanah, tungau, dan kutu. Selain menyingkirkan hama-hama ini secara manual, hama juga bisa dikendalikan dengan menyemprotkan pestisida/insektisida yang sesuai. Sementara itu, penyakit-penyakit pada seledri misalnya adalah bercak septoria,bercak cercospora, dan virus aster yellow. Pengendalian terhadap gangguan penyakit ini harus dikerjakan sedari awal mulai sejak tahap persemaian hingga tahap pemanenan. Anda bisa memanfaatkan fungisida alami untuk mengatasi penyakit seledri agar lebih aman bagi tumbuhan tersebut. Panen dan Pasca Panen.
G.    Pemanenan Seledri.


Pemanenan Seledri umumnya dilakukan ketika tanaman sudah berumur 40 hari hingga mencapai 150 hari sejak penanaman. Pemanenan daun seledri bisa dilakukan setiap 4-8 hari dengan memotong bagian pangkal batang tanaman. Setelah daya tumbuh tanaman berkurang, Anda bisa mulai memanen umbi seledri. Daun dan umbi seledri yang telah dipanen kemudian dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel pada permukaannya. Gunakan semprotan air untuk membantu menghilangkan kotoran tersebut, lalu angin-anginkan daun dan umbi seledri ini agar kering kembali sehingga daya tahannya lebih lama. Setelah itu, Anda bisa menyortir daun seledri berdasarkan ukuran supaya seragam dan diterima baik oleh pasar. 
Di bawah ini beberapa contoh produk hasil olahan dari Seledri, diantaranya : 









0 komentar:

Post a Comment

Blog Archive

Total Pageviews