Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Nusantara atau Indonesia memiliki tiga kelompok ras yang berbeda. yaitu
1.      Melanosoid,
2.      Proto Melayu  atau Melayu Tua.
3.      Deutro Melayu.
Kelompok ras inilah yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Mereka hidup dan menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia dari
1.      kelompok ras Melanosoid meliputi Kepulauan Indonesia bagian Timur, dan Papua.
2.      Kelompok ras Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar di daerah Sulawesi, Kalimantan, Lombok, dan Sumatra.
3.      Kelompok ras Deutro Melayu menyebar di pulau-pulau Jawa, Madura, Bali, Sumatra, dan Sulawesi.
Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia dapat diketahui dari persebaran hasil kebudayaan pada masa Praaksara, yang terdiri atas hasil kebudayaan pada tiga masa, yaitu :
1.      Masa berburu dan mengumpulkan makanan,
2.      Masa bercocok tanam, dan
3.      Masa perundagian.
A.    Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan.
1.      Kapak Genggam/Kapak Perimbas.
Kapak perimbas adalah sejenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif. Kapak ini tidak memiliki tangkai, cara menggunakannya adalah dengan menggenggamnya. Kapak perimbas berupa batu yang dibentuk menjadi semacam kapak. Teknik pembuatannya masih sangat kasar, dan tidak mengalami perubahan dalam waktu yang panjang, bagian tajam kapak jenis ini hanya pada salah satu sisi.
Tempat ditemukan kapak ini antara lain di Lahat (Sumatra Selatan), Kamuda (Lampung), Flores, Bali, Timor, Punung (Pacitan, Jawa Timur),  Parigi, Jampang Kulon (Sukabumi, Jawa Barat), dan Tambangsawah (Bengkulu).
2.      Kapak Penetak.
Kapak ini terbuat dari fosil kayu yang memiliki bentuk hampir sama dengan kapak perimbas, bagian tajamnya berliku-liku. Kapak penetak bentuknya lebih besar daripada kapak perimbas dan cara pembuatannya juga masih kasar. Kapak ini berfungsi untuk membelah pohon, kayu, bambu, atau disesuaikan dengan kebutuhannya.
Kapak penetak ini ditemukan hampir di seluruh wilayah nusantara.
3.      Pahat Genggam.
Pahat genggam terbuat dari kalsedon dan fosil kayu, ukurannya sedang dan kecil. Pahat genggam memiliki bentuk yang lebih kecil dari kapak perimbas. Para ahli menafsirkan bahwa pahat genggam berfungsi untuk menggemburkan tanah.Pahat genggam ini digunakan oleh nenek myang kita untuk mencari umbi-umbian untuk dimakan.
4.      Alat Serpih.
Alat serpih merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk hingga menjadi tajam. Alat tersebut memiliki fungsi sebagai serut, gurdi, penusuk, dan pisau.
Tempat ditemukannya alat ini antara lain di Punung (Pacitan, Jawa Timur), Sangiran, Gombong (Jawa Tengah), Ngandong (lembah Sungai Bengawan Solo), Cabbenge, Lahat, dan Mengeruda (Bagian Barat Flores, NTT). 5)
5.      Alat-Alat dari Tulang.
Alat-alat dari tulang terbuat dari tulang-tulang binatang hasil buruan, seperti tanduk menjangan dan duri ikan pari, ada kemungkinan digunakan oleh nenek moyang kita sebagai mata tombak.
Alat-alat itu ditemukan di Gua Lawang di daerah Gunung Kendeng, Bojonegoro. Di gua-gua di daerah Tuban (Gua Gedeh dan Gua Kandang) ditemukan alat-alat dari kulit kerang yang memiliki bentuk sabit (lengkung).
B.     Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Bercocok Tanam.
Peralatan dari batu yang paling menonjol dari masa bercocok tanam di Indonesia adalah beliung persegi. Peralatan ini ditemukan di hampir seluruh Kepulauan Indonesia bagian Barat.
1.      Beliung Persegi/Kapak persegi.
Beliung persegi merupakan alat dengan permukaan memanjang dengan bentuk persegi empat. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus, kecuali pada bagian pangkalnya yang digunakan untuk tempat ikatan tangkai. Sisi pangkal diikat pada tangkai, sedangkan sisi sebelah depan diasah sampai tajam.
2.      Kapak Lonjong.
Kapak lonjong merupakan kapak berbentuk lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajamannya. Seluruh permukaan alat tersebut digosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam pada kedua sisinya sehingga menghasilkan bentuk ketajaman yang simetris. Inilah yang membedakannya dengan beliung persegi. Alat ini ditemukan di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur, yaitu di Sulawesi, Sangihe Talaud, Leti, Flores, Maluku, Tanimbar, dan Papua. 3)
3.      Mata Panah.
Mata panah merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Mata panah ini banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Tempat-tempat penemuan mata panah, diantaranya :
a.       Di Jawa Timur antara lain adalah di Sampung (Gua Lawa), Besuki (Gua Petpuruh), Tuban (Gua Gede dan Gua Kandang), dan Bojonegoro (Gua Keramat).
b.      Di Sulawesi Selatan, mata panah antara lain ditemukan di beberapa gua di Pegunungan Kapur Bone (Gua Cakondo, Bola Batu, Tomatoa Kacicang, Ara, Pattae) dan di beberapa gua di Pegunungan Kapur Maros dan sekitarnya.
Ada perbedaan bentuk antara mata panah yang ditemukan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
a.       Mata panah di Sulawesi Selatan biasanya berukuran kecil dan tipis. Penyiapan bentuk tidak dikerjakan pada seluruh permukaan, hanya pada bagian tajamnya saja.
b.      Di Jawa Timur, mata panah dibuat jauh lebih teliti, pada umumnya berbentuk segitiga dengan ketebalan rata-rata 1 cm. Bagian ujung dan tajamannya ditatah dari dua arah hingga menghasilkan tajaman yang bergerigi dan tajam.
4.      Gerabah.
Benda-benda gerabah mulai dikenal pada masa bercocok tanam. Gerabah ini terbuat dari tanah liat yang dibakar. Pada masa bercocok tanam, alat ini dibuat secara sederhana dengan tangan. Gerabah ditemukan di daerah Kendenglembu (Banyuwangi), Serpong (Tanggerang), Klapadua (Bogor), Bali, Kalumpang dan Minanga Sipakka (Sulawesi) serta beberapa daerah lain di Indonesia.
5.      Perhiasan.
Perhiasan sudah dikenal pada masa bercocok tanam, perhiasan berupa gelang yang terbuat dari batu dan kerang. Perhiasan ini umumnya ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
6.      Bangunan Megalitik.
Megalitik berasal dari kata mega dan lithos. Mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati. Jasa dari seseorang yang telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar sebagai medium penghormatan.
Bangunan-bangunan batu tersebut dapat berupa menhir, dolmen, punden berundak, sarkofagus, waruga, dan kubur batu. Peninggalan kebudayaan berupa bangunan megalitik banyak terdapat di Nias, Sumba, Flores, dan Toraja.
a.       Menhir merupakan bangunan berupa batu tegak atau tugu yang memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang atau tanda peringatan untuk orang yang telah meninggal.
b.      Dolmen merupakan bangunan berupa meja batu, terdiri atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu yang lain.
Dolmen memiliki fungsi :
1.      Sebagai tempat persembahan untuk memuja arwah leluhur. Di samping sebagai tempat pemujaan, dolmen juga berfungsi
2.      Sebagai pelinggih, yaitu tempat duduk untuk kepala suku atau raja.
Dolmen ditemukan bersama dengan kubur batu.
c.       Kubur peti batu merupakan tempat menyimpan mayat. Kubur peti batu ini dibentuk dari enam buah papan batu, dan sebuah penutup peti. Papan-papan batu tersebut disusun secara langsung dalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu, biasanya diletakkan membujur dengan arah timur-barat. Kubur peti batu terdapat di Wonosari (DI Yogyakarta), Tegurwangi (Sumatra Selatan), dan Jawa Barat.
d.      Sarkofagus merupakan bangunan berupa kubur batu yang berbentuk seperti lesung dan memiliki tutup. Sarkofagus ini banyak ditemukan di daerah Bali.
e.       Waruga merupakan peti kubur batu dalam ukuran yang kecil. Bentuknya seperti kubus dan bulat. Waruga banyak ditemukan Sulawesi Tengah.
f.       Punden berundak merupakan bangunan bertingkat yang dihubungkan tanjakan kecil. Punden berundak memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang
C.    Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Perundagian
1.      Nekara.
Dalam Ensikopedi Nasional Indonesia, nekara adalah semacam tambur besar dari perunggu yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Pada nekara, terdapat pola hias yang bergam. Pola hias yang dibuat ialah pola binatang, geometrik, gambar gajah, burung, ikan laut, kijang, harimau, dan manusia. Dengan hiasan yang demikian beragam, nekara memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Nekara sering digunakan pada upacara untuk mendatangkan hujan.
Nekara ditemukan antara lain di Jawa, Sumatra, Bali, Kepulauan Kei, dan Papua.
2.      Moko.
Bentuk moko menyerupai nekara, tapi lebih ramping. Bidang pukulnya menjorok keluar, bagian bahunya lurus dengan bagian tengah yang membentuk silinder dan kakinya lurus serta melebar di bagian bawah.
Moko banyak ditemukan di Pulau Alor.
3.      Kapak Perunggu.
Kapak perunggu diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu
a.       Kapak corong (kapak sepatu),
b.      Kapak upacara,
c.       Tembilangan atau tajak.
Kapak ini disebut kapak corong karena bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya belah. Ke dalam corong itu dimasukkan tangkai kayu yang menyiku pada bidang kapak. Kapak ini disebut juga kapak sepatu karena bentuknya hampir mirip dengan sepatu. Bentuknya bulat, panjang sisinya, dan terbuat dari logam.
Kapak perunggu ditemukan antara lain di Sumatra Selatan, Bali, Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar, dan Papua.
4.      Bejana Perunggu.
Bejana perunggu memiliki bentuk bulat panjang seperti tempat ikan yang diikatkan di pinggang.
Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, dan dilekatkan dengan pacuk besi pada sisinya. Pola hias benda ini tidak sama susunannya.
Bejana perunggu banyak ditemukan di daerah Madura (Asemjaran, Sampang) dan Sumatra (Kerinci).
5.      Perhiasan Perunggu.
Perhiasan yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi banyak ditemukan di hampir semua wilayah nusantara. Gelang, cincin, bandul kalung dari perunggu umumnya dibuat tanpa hiasan. Namun, ada juga yang dihias dengan pola geometris atau pola bintang. Gelang yang memiliki hiasan pada umumnya besar dan tebal. Pola hias pada gelang ini berupa pola timpal, tangga, garis, dan duri ikan. Pola hias lainnya adalah spiral yang disusun membentuk kerucut.
Mata cincin dengan bentuk kambing jantan ditemukan di derah Kedu (Jawa Tengah).
6.      Arca Perunggu.
Arca atau patung perunggu yang ditemukan di Indonesia mempunyai bentuk yang beraneka ragam, ada yang berbentuk manusia dan binatang.
a.       Posisi manusia dalam bentuk arca ada yang dalam keadaan berdiri,
b.      Bertolak pinggang,
c.       Memegang panah,
d.      Menari dan naik kuda.
1.      Arca dengan sikap bertolak pinggang ditemukan di daerah Bogor.
2.      Patung manusia yang sedang memegang panah ditemukan di daerah Lumajang (Jawa Timur).
3.      Arca berbentuk binatang ada yang berupa arca kuda sedang berdiri, kerbau yang sedang berbaring, dan kuda dengan pelana.
Tempat ditemukan arca-arca tersebut diantaranya di Bangkinang (Riau), Lumajang, Palembang, dan Bogor. Peninggalan - peninggalan hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.




Comments