Penyakit Uveitis (Peradangan Lapisan Tengah Mata) : Pengertian, Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan dan Komplikasinya


Penyakit Uveitis (Peradangan Lapisan Tengah Mata) : Pengertian, Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan dan Komplikasinya 

A.    Pengertian Uveitis.
Uveitis adalah peradangan yang terjadi pada mata bagian tengah atau biasa dikenal dengan uvea. Peradangan ini biasanya ditandai dengan mata terasa nyeri dan kemerahan, serta pandangan yang kabur. Tanda-tanda yang nampak saat mata mulai meradang sering muncul tiba-tiba dan memburuk dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata sekaligus.
Orang dewasa berumur 20-50 tahun merupakan kalangan yang umumnya terserang penyakit ini, namun anak-anak juga bisa mengalaminya. Penanganan infeksi ini harus secepat mungkin. Jika tidak, fungsi mata bisa terus menurun dan dampak yang paling fatal adalah terjadinya kerusakan mata permanen pada mata berupa kebutaan.
B.     Gejala Uveitis. 

Gejala dari penyakit ini bisa terjadi dalam beberapa hari dan akan bertambah parah dalam waktu yang relatif singkat.
Munculnya penyakit ini umumnya ditandai dengan sejumlah gejala yang terdiri dari :  
1.      Mata merah.
2.      Munculnya nyeri tumpul di dalam atau sekitar mata. Gejala ini bisa terasa makin parah bila penderita berusaha memfokuskan pandangan.
3.      Mata menjadi sensitif terhadap cahaya.
4.      Penglihatan yang buram.
5.      Sakit kepala.
6.      Pupil yang mengecil.
7.      Perubahan warna iris mata.
8.      Muncul bayangan kecil (bisa berupa titik, garis, atau jaring laba-laba) yang seolah-olah melayang pada pandangan Anda. Kondisi ini disebut floaters.
9.      Kehilangan penglihatan perifer atau penyempitan lapang pandang. 

Periksakanlah kondisi mata Anda bila mengalami tanda-tanda di atas atau ada kejanggalan yang terasa pada mata. Diagnosis yang cepat akan mengantar Anda pada pengobatan yang akurat dan pemulihan optimal.
C.    Penyebab Uveitis. 

Penyebab dari peradangan mata ini masih belum jelas. Para pakar menduga bahwa terdapat faktor-faktor berikut bisa memengaruhi risiko kemuculannya :
1.      Infeksi akibat bakteri, virus, atau parasit. Misalnya, virus herpes simplex, virus varicella zoster, cytomegalovirus, HIV, sifilis, dan toksoplasmosis.
2.      Kondisi autoimun, dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel yang sehat. Contohnya pada pengidap psoriasis, juvenile arthritis, ankylosing spondylitis, atau rheumatoid arthritis.
3.      Proses peradangan, seperti penyakit Crohn serta kolitis ulseratif.
4.      Cedera mata.
5.      Operasi mata.
Sebuah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara merokok dengan meningkatnya risiko penyakit ini. Namun masih dibutuhkan pengkajian yang lebih luas untuk memperoleh hasil yang akurat mengenai hal ini.
D.    Proses Diagnosis Uveitis. 

Diagnosis terhadap penyakit ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis mata. Pada tahap awalnya, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien.  Dokter kemudian akan memeriksa kondisi mata dengan alat berlampu khusus.
Alat ini akan membantu dokter untuk melihat bagian dalam mata dengan jelas. Bila mencurigai ada penyakit lain yang melatarbelakangi infeksi mata ini, dokter akan menganjurkan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut yang berupa tes darah atau x-ray.
E.     Upaya Pengobatan Uveitis. 

Penyakit ini bisa digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu :
1.      Uveitis anterior yang terjadi pada bagian depan mata (mengenai bagian iris),
2.      Intermediate yang menyerang tengah mata (mengenai bagian antara iris dan koroid),
3.      Posterior yang terjadi pada bagian belakang mata (mengenai bagian koroid), dan
4.      Panuveitis atau mengenai seluruh lapisan uvea mata. 

Jenis penanganan akan disesuaikan dengan penyebab dan jenis uveitis yang dialami oleh pasien. Oleh karena itu, pengobatan yang akan dijalani oleh tiap penderita biasanya akan berlainan. Pemberian kortikosteroid merupakan langkah pengobatan utama penyakit ini. Kortikosteroid berfungsi mengurangi peradangan yang terjadi pada mata. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk obat tetes mata, tablet, atau injeksi, tergantung ada jenis radang uvea yang terjadi. Pada jenis anterior, pasien biasanya akan diberi kortikosteroid dalam bentuk tetes mata. Sementara injeksi kortikosteroid sering menjadi pilihan untuk jenis intermediate dan posterior. Selain injeksi, tablet kortikosteroid dapat diberikan sesuai kondisi infeksi pada mata. Dosisnya akan diatur sesuai dengan berat badan pasien dan penurunan dosis secara bertahap. Penggunaan steroid bisa menyebabkan peningkatan tekanan bola mata, pastikan Anda rajin memeriksakan perkembangan pengobatan selama menggunakannya.   

Apabila penyebabnya adalah infeksi bakteri atau virus, obat antibiotik atau antivirus biasanya akan diresepkan. Sedangkan pasien dengan gejala radang uvea yang parah, tidak merespons terhadap langkah pengobatan lain, atau berisiko mengalami kebutaan, dapat pula diberikan imunosupresan (obat penekan sistem imun tubuh). Yang perlu diwaspadai adalah imunosupresan bisa menyebabkan pasien mudah terkena infeksi dan mengganggu fungsi beberapa sistem organ, seperti paru-paru, organ hati, ginjal, serta sumsum tulang. Meski jarang, penanganan dengan operasi vitrectomy kadang menjadi opsi penatalaksanaan penyakit ini. Prosedur ini biasanya direkomendasikan pada kasus radang uvea yang berulang, berat, atau infeksi pada jenis posterior yang sulit diobati. 

Melalui vitrectomy, cairan vitreous humour dalam bola mata akan dikeluarkan dan diganti gelembung udara atau cairan. Lama-kelamaan, vitreous humour kembali muncul dan memenuhi bola mata secara alami. Untuk mengurangi gejala, anda bisa menggunakan kacamata hitam jika mata menjadi sensitif terhadap cahaya. Obat antinyeri, seperti ibuprofen, juga dapat dikonsumsi untuk meredakan nyeri.
F.     Komplikasi Akibat Uveitis. 

Komplikasi dapat terjadi jika tidak dilakukan penanganan yang benar dan cepat. Beberapa contoh komplikasi yang mungkin terjadi akibat inflamasi mata ini meliputi :
1.      Glaukoma, yaitu kerusakan pada saraf optik akibat peningkatan tekanan pada mata.
2.      Katarak, yaitu perubahan pada lensa mata menjadi keruh yang mengaburkan pandangan.
3.      Pembengkakan retina.
4.      Sinekia posterior, yakni kondisi peradangan yang menyebabkan iris menempel pada lensa mata.
5.      Ablasi retina, yaitu lapisan retina terlepas dari jaringan di sekitarnya.
6.      Kebutaan.
7.      Usia 60 tahun, radang uvea kronis, serta jenis posterior dan intermediate merupakan sejumlah kondisi yang bisa meningkatkan risiko komplikasi akibat penyakit ini. 

Pemeriksaan dan penanganan secepatnya berperan penting dalam penyembuhan sekaligus risiko komplikasi dari peradangan mata ini. Oleh karena itu, periksakan kondisi mata Anda bila mengalami gejala atau kejanggalan yang mengganggu kemampuan melihat. Jika Anda mengidap atau mengalami gangguan kesehatan yang mungkin meningkatkan risiko kemunculan penyakit ini, dapatkanlah penanganan yang sesuai untuk kondisi Anda. Jangan lupa untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin agar kondisi selalu terpantau.