Gastroenteritis Virus Akut : Pengertian, Etiologi, Epidemiologi, Keluhan, Gejala, Pengobatan dan Pencegahannya


Gastroenteritis Virus Akut : Pengertian, Etiologi, Epidemiologi, Keluhan, Gejala, Pengobatan dan Pencegahannya 

A.    Pengertian Gastroenteritis.
Gastroenteritis adalah suatu infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh berbagai virus yang dapat menyebabkan muntah dan diare. Meski sering disebut "flu perut" (Stomach Flu), penyakit ini tidak disebabkan oleh virus influenza.
Virus yang dapat menyebabkan Gastroenteritis (Flu Perut) meliputi : rotaviruses, adenoviruses, caliciviruses, astroviruses, Norwalk virus, dan sekelompok Noroviruses. Gastroenteritis juga disebabkan oleh bakteri.
Gejala utama Gastroenteritis yaitu seperti muntah - muntah dan diare, sakit kepala, demam, dan kadang - kadang abdominal cramps (sakit perut).
Gastroenteritis akut adalah salah satu penyakit yang dianggap sebagai penyakit bersifat jinak. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit jinak, Gastroenteritis akut masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada anak-anak di seluruh dunia, sekitar 1,8 juta kematian setiap tahun terjadi pada anak - anak berusia kurang dari 5 tahun, atau sekitar 17% dari semua kematian anak. Penyebab menyebarnya penyakit bisa dari berbagai penyakit yang sangat bervariasi jenisnya.
Sebenarnya Hal ini tergantung pada volume cairan tubuh yang berkurang, perawatan dan pengobatan dehidrasi pada anak - anak tergantung dari keterampilan dokter untuk menanganinya. Untungnya, sebagian besar kasus dehidrasi pada anak - anak dapat di diagnosis dengan pemeriksaan klinis secara akurat dan seksama serta mudah untuk melakukannya dan biayanya pun juga hemat. Gastroenteritis virus akut tidak diketahui sampai tahun 1970-an. Virus ini kini diakui sebagai penyebab utama diare di dunia, meskipun dalam kebanyakan kasus patogen yang tepat tidak dapat ditentukan.
Di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, gastroenteritis virus diperkirakan mencapai 3 – 50 juta kasus dan berhubungan dengan 5 sampai 10 juta kematian. Virus yang menyebabkan gastroenteritis termasuk rotavirus, calicivirus, enteric adenovirus, dan astrovirus. Virus lainnya, seperti toroviruses, coronaviruses, picobirnaviruses, dan pestiviruses, sedang diidentifikasi sebagai agen penyebab diare.
B.     Etiologi Penyakit. 
Gastroenteritis adalah peradangan di perut besar dan kecil dan intestines. Gastroenteritis Virus ini disebabkan oleh infeksi berbagai jenis virus yang menyebabkan muntah atau diare atau keduanya. Hal ini sering disebut "flu perut," meskipun tidak disebabkan oleh influenza virus.
Pada anak-anak, 40% kasus adalah idiopatik, sedang agen viral menyebabkan 30-40% gastroenteritis, diantaranya rotavirus, enteric adenovirus, Norwalklike viruses, astrovirus. Bakteri dan parasit juga penyebab yang signifikan dari penyakit diare pada anak - anak.
Dua tipe dasar diare infeksi akut adalah tipe non inflammasi and inflammasi.
1.      Enteropatogen dapat menimbulkan diare non inflamasi melalui produksi enterotoxin oleh beberapa mekanisme invasif, penghancuran permukaan (fili) sel oleh virus, perlekatan (adherence) oleh parasit, perlekatan (adherence) oleh bakteri.
2.      Diare inflamasi biasanya disebabkan oleh invasi intestinal secara langsung atau produksi sitotoksin. Namun ada beberapa enteropatogen memiliki lebih dari satu sifat virulensi yang artinya dapat menginfeksi melalui berbagai macam cara.
Etiologi Diare Akut dapat dihubungkan dengan bakteri, virus atau parasit yang telah dikenal sebagai penyebab enteritis sebagai berikut :
1.      Bakteri, diantaranya : Aeromonas, Bacillus cereus, Campylobacter jejuni, Clostridium perfringens, Clostridium difficile, Escherichia coli, Plesiomonas shigelloides, Salmonella, Shigella, Staphylococcus aureus, Vibrio cholerae 01 and 0139, Vibrio parahaemolyticus, Yersinia enterocolitica.
2.      Virus, diantaranya : Astroviruses, Caliciviruses, Norovirus, Enteric adenoviruses, Rotavirus, Cytomegalovirus, Herpes simplex viruses.
3.      Parasit, diantaranya : Balantidium coli, Blastocystis hominis, Cryptosporidium parvum, Cyclospora cayetanensis, Encephalitozoon intestinalis, Entamoeba histolytica, Enterocytozoon bieneusi, Giardia lamblia, Isospora belli, Strongyloides stercoralis, Trichuris trichiura.
4.      Norwalk - Like Viruses.
Secara umum dikaitkan dengan penyakit yang hanya terdapat diantara orang-orang yang immunocompromised.
Juga ada penyebab Diare Non Infeksi sebagai berikut :
1.      Defek Anatomik.
2.      Malrotasi, duplikasi intestinal, penyakit Hirschsprung, impaksi fecal, sindrom usus pendek, atrofi microvillus, striktur.
3.      Malabsorpsi.
4.      Defisiensi disakaridase, malabsorsi glucose-galactose, insuffisiensi pancreas, fibrosis kistik, Sindrom Shwachman, penurunan garam empedu intraluminal, cholestasis, Penyakit Hartnup, abetalipoproteinemia, Penyakit Celiac.
5.      Endokrinopati.
6.      Thyrotoxicosis, Penyakit Addison,Sindrom Adrenogenital.
7.      Keracunan.
8.      Logam berat, Scombroid, Ciguatera, jamur.
9.      Neoplasma.
10.  Neuroblastomas, Ganglioneuromas, Pheokromocytomas, Karsinoid, Sindrom Zollinger-Ellison, Sindrom vasoaktif invasif intestinal.
11.  Lain-Lain, diantaranya :  Infeksi Nongastrointestinal, Alergi susu, Penyakit Crohn (regional enteritis), Familial Dysautonomia, Penyakit defisiensi Immune, Protein-Losing Enteropati, Kolitis Ulseratif, Enteropatika Acrodermatitis, Penyalahgunaan Laxative, Gangguan Motilitas, Pellagra (kekurangan vitamin B kompleks).
Diarrhea kronik atau persisten lebih dari 14 hari dapat terjadi karena :
1.       Agen infeksiosa seperti Giardia lamblia, Cryptosporidium parvum, enteropatogenik Escherichia coli.
2.      Setiap enteropatogen yang menginfeksi pejamu yang immunocompromised.
3.      Gejala residual setelah kerusakan intestinal setelah infeksi akut.
C.     Epidemiologi. 
Rotavirus merupakan penyebab paling umum dari diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia, dan 1 juta orang meninggal setiap tahun akibat infeksi di tahun 1868. Di Amerika Serikat, sekitar 3,5 juta kasus diare, 500.000 kunjungan dokter, 50.000 rawat inap, dan 20 kematian terjadi setiap tahunnya pada anak - anak umur 5 tahun. Survei serologi menunjukkan bahwa hampir semua anak terinfeksi pada usia 5 tahun, namun dehidrasi diare terjadi terutama di kalangan anak - anak usia 3 sampai 35 bulan selama infeksi awal.
Setelah itu, mereka bertahan terhadap infeksi berikutnya. Bahkan, setelah infeksi awal rotavirus, 40% anak - anak bertahan terhadap infeksi berikutnya, 75% bertahan terhadap gastroenteritis berikutnya, dan sampai 88% bertahan terhadap gastroenteritis parah. Sayangnya, baik anak - anak dan orang dewasa berada pada peningkatan risiko parah, gastroenteritis rotavirus berkepanjangan, dan bahkan fatal. Rute fekal - oral dianggap sebagai modus penularan yang paling umum. Di Amerika Serikat, tingkat infeksi rotavirus berpuncak dari bulan November sampai Mei setiap tahun.
D.    Patogenesis dan Presentasi Klinis. 
1.      Patogenesis.
Rotavirus beruntai ganda, berbentuk lingkaran, virus RNA. Lapisan terluar mengandung dua protein virus. Protein protease (P protein) VP4 dan glikoprotein (protein G) VP7 mendefinisikan serotipe virus dan merupakan dasar pengembangan vaksin.
Setelah dicerna, strain virus menyebabkan diare dengan menginduksi perubahan keseimbangan cairan transepitelial, malabsorpsi yang berakibat kerusakan lapisan epitel usus, dan kerusakan vacular dan iskemia.
2.      Presentasi Klinis.
Masa inkubasi infeksi rotavirus biasanya 1 sampai 3 hari. Manifestasi klinis bervariasi dari tanpa gejala (umum pada orang dewasa) sampai mual yang parah, muntah, dan diare dengan dehidrasi. Karena infeksi pertama cenderung paling parah, gangguan dehidrasi dan elektrolit terjadi lebih sering pada anak - anak. Gejala dimulai secara tiba - tiba, dimana muntah sering mendahului timbulnya diare. Demam terjadi pada sepertiga pasien. Tanda dan gejala lain termasuk gejala pernapasan, lekas marah, lesu, eritema faring, rhinitis, membran timpani merah, dan teraba kelenjar getah bening di leher.
Gejala - gejala gastrointestinal berhenti dalam 3 sampai 7 hari. Temuan Laboratorium mencerminkan tingkatan muntah, diare, atau keduanya. Kenaikan enzim hati dapat terlihat pada 60% anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena diare rotavirus. Jumlah sel darah putih biasanya normal. Kotoran jarang mengandung darah atau leukosit. Deteksi rotavirus dalam sampel tinja dimungkinkan dengan immunoassay enzim dan uji aglutinasi lateks, yang keduanya tersedia secara komersial.
E.     Keluhan dan Gejala Penyakit. 
1.      Gejala.
Gejala utama Gastroenteritis Virus adalah diare dan muntah - muntah. Orang yang terkena mungkin juga terkadang sakit kepala, demam, dan abdominal cramps (Sakit Perut / Stomach Ache), serta nyeri otot.
Secara umum, gejala akan mulai setelah 1 sampai 2 hari setelah terkena virus penyebab Gastroenteritis dan dapat berlangsung selama 1 sampai 10 hari, tergantung pada virus yang menyebabkan penyakit. Namun kebanyakan gejalanya berlangsung selama 1 – 3 hari. Kemudian bisa disusul dengan kehabisan cairan dalam tubuh.  
2.      Cara Penularan. 
Gastroenteritis virus ini sangat menular dan disebarkan oleh muntahan atau kotoran orang yang terkena penyakit melalui :
a.       Sentuhan manusia umpamanya berjabat tangan dengan orang yang sakit dan di tangannya terdapat virus ini.
b.      Permukaan meja yang tercemar.
c.       Makanan atau minuman tercemar.
d.      Ada pula kemungkinannya bahwa infeksi tersebar lewat butir-butir percikan yang keluar ketika orang muntah.
e.       Kebanyakan tersebarnya dari orang yang mendapat gejala tetapi ada pula orang tanpa gejala yang bisa menyebarkan infeksi, terutama dalam 2 hari pertama setelah sembuh.
f.       Air minum juga dapat terkontaminasi oleh kotoran dan menjadi sumber penyebaran virus ini (medicineNet.com).
3.      Cara Pencegahan.
Sesudah ke dari kamar mandi atau WC, mengganti popok dan sebelum makan atau menyiapkan makanan, telitilah mencuci tangan dengan sabun dan kucuran air sekurangnya 15 detik dan keringkan dengan handuk bersih. Apabila berada di sekitar masyarakat yang terkena wabah gastroenteritis, kita harus ekstra hati - hati dalam menjaga kebersihan diri.
Bagi yang telah mengalami gejala muntah dan diare maka dianjurkan minum air 8 - 12 gelas perhari, karena gejala penyakit ini, seperti muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan banyak cairan tubuh (dehidrasi).
F.      Cara Pengobatan dan Prognosis.
1.      Cara Pengobatan.
Cairan oral dan penggantian elektrolit adalah dasar pengobatan. Terapi Lactobacillus oral dapat mengurangi durasi diare dan ekskresi virus. Tidak ada peran antibiotik pada infeksi akut. Bismuth subsalicylate, meskipun terbukti menurunkan durasi diare dan output tinja, tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin karena risiko overdosis subsalisilat. Agen Antimotility tidak dianjurkan karena tidak mengurangi durasi atau volume diare.
Jika seseorang sudah mengalami muntah dan diare maka sebaiknya beristirahat yang cukup, selain itu juga sebaiknya minum air yang banyak misalnya jus buah atau oralit untuk mencegah dehidrasi. Jangan minum air murni saja karena dapat memperparah dehidrasi akibat diare, tapi minuman khusus yang dapat menggantikan cairan tubuh yang hilang yang biasanya tersedia di apotek. Jika keadaan semakin parah maka dibutuhkan cairan infus. Apabila terjadi gejala komplikasi sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter.
2.      Prognosis.
Vaksin pertama (Rota Shield) untuk mencegah infeksi rotavirus ini dilisensikan di Amerika Serikat pada tahun 1998, tapi ditarik setelah 1 tahun karena tingkat peningkatan intususepsi idiopatik. Survei menemukan bahwa risiko intususepsi tertinggi dalam waktu 3 sampai 14 hari setelah menerima dosis pertama, yang diperkirakan 1 kasus per 10.000 penerima vaksin. Vaksin rotavirus lain, Rotarix, telah lulus uji klinis di kebanyakan negara-negara Amerika Latin.
Percobaan vaksin monovalen ini, telah menunjukkan kemanjuran klinis dari 85% terhadap penyakit rotavirus parah, dan tidak ada peningkatan intusussesi diantara penerima vaksin. Tidak ada pengobatan khusus untuk Gastroenteritis virus kecuali beristirahat dan minum banyak. Kebanyakannya sembuh tanpa kerumitan, namun Gastroenteritis virus bisa parah bagi orang yang mempunyai kesulitan mengganti cairan tubuh yang hilang karena muntah dan diarenya.

Comments