Pemerolehan Bahasa Anak Usia 3 - 4 Tahun : Pertumbuhan dan Perkembangan, Tahapan dan Faktor Yang Mempengaruhinya


Pemerolehan Bahasa Anak Usia  3 - 4 Tahun : Pertumbuhan dan Perkembangan, Tahapan dan Faktor Yang Mempengaruhinya 

A.    Pendahuluan.
Pertumbuhan seorang anak sejak lahir selalu menjadi pusat perhatian orang tuanya. Setiap ada celotehan yang muncul,  perubahan sikap dan gerakan akan menjadi  bahan perhatian dan pembicaraan orang tua. Pertumbuhan dan perkembangan setiap anak berbeda, hal tersebut dipengaruhi oleh  beberapa faktor, mulai dari masa anak dalam kandungan sampai dengan masa kelahiran hingga masa pertumbuhan dan  perkembangan setelah lahir.
Faktor gen yang berasal dari ibu dan bapaknya merupakan orang-orang yang sehat pada saat proses pembuahan. Perawatan dan nutrisi selama masa kehamilan tetap terjaga, sehingga janin dalam rahim tidak mengalami gangguan hingga proses  persalinannya. Berikutnya adalah proses  perawatan dan perlakuan anak oleh orang tuanya dalam masa tumbuh kembang. Proses pertumbuhan dan  perkembangan akan sampai pada interaksi dengan orang lain, umumnya pada lingkungan di sekolah anak dan khususnya lingkungan di rumah terutama interaksi dengan orang tua si anak.
Interaksi pada anak usia 3 - 4 tahun sudah dapat dilakukan melalui komunikasi dengan berbicara. Bagi orang tua yang tidak terlalu memperhatikan  perkembangan anak akan merasa heran apabila pada saat berkomunikasi dengan mereka, si anak akan berbicara sesuatu yang belum pernah di dengar, misalnya anak mengatakan "mama jangan centil dong!". Padahal mereka tidak pernah mengajarkan kata - kata itu. Atau di saat lain, orang tua akan mendengar si anak menasehati adiknya "kamu jangan nangis ya dik!". Sama persis dengan intonasi dari orang tuanya apabila menasehati anak tersebut untuk tidak menangis.
Menurut Chomsky (dalam Chaer, 2009:222), bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia. Hal ini terbukti karena hanya manusia yang mempunyai kelebihan dalam  berbahasa. Semenjak dilahirkan ke dunia, manusia sudah berbahasa.
Menurut Chomsky, anak dilahirkan dengan dibekali oleh alat pemerolehan bahasa LAD (Language Acquisition Device). LAD dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses bahasa dan tidak mempunyai kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya. Dengan dibekali alat tersebut, anak sudah berbahasa semenjak lahir. Hal ini terbukti bahwa semenjak dilahirkan anak telah menghasilkan variasi suara tangis. Dari suara tangis tersebut, orang tua mengerti  bahwa anak menangis karena lapar, kesakitan, atau karena buang air kecil.
Pada umumnya, kegembiraan dan kecemasan muncul bersamaan pada diri orang tua. Kegembiraan sekaligus kebanggaan orang tua adalah bahwa si anak sudah dapat berbicara dengan mereka, karena tidak sedikit anak dengan usia yang sama belum dapat berbicara dengan baik karena adanya faktor - faktor tertentu. Di sisi lain kecemasan yang muncul pada diri orang tua adalah apabila si anak memperoleh kata - kata atau bahasa yang tidak sesuai dengan usia anak atau yang lebih khawatir lagi adalah apabila anak memperoleh bahasa anak remaja ataupun  bahasa orang dewasa.
Perbedaan latar belakang anak - anak di sekolah, program acara televisi yang kurang selektif, teman bermain atau lingkungan yang heterogen dengan tingkat usia yang berbeda merupakan permasalahan yang kompleks dan harus dipertimbangkan dalam upaya menjaga anak agar memperoleh bahasa yang sesuai dengan usianya.
B.     Pertumbuhan dan Perkembangan Anak.
Menurut Soetjiningsih (1995 : 1)  pertumbuhan dan perkembangan adalah dua hal yang sangat berbeda.
1.      Pertumbuhan (Growth).
Berkaitan dengan masalah  perubahan dalam jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu, yang bisa diukur.
2.      Perkembangan (Development).
Adalah  bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses  pematangan.
Dapat disimpulkan bahwa  pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan  berkaitan dengan pematangan fungsi organ / individu. Faktor yang mempengaruhi  pertumbuhan dan perkembangan individu adalah faktor genetik dan faktor lingkungan (Soetjiningsih, 1995:2).
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses pertumbuhan dan  perkermbangan anak. Faktor genetik meliputi faktor bawaan yang normal dan  patologik, jenis kelamin, dan suku bangsa.
Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering diakibatkan oleh faktor genetik, sedangkan di negara yang sedang  berkembang, gangguan pertumbuhan selain dari faktor genetik adalah faktor lingkungan yang kurang memadai. Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan anak.
Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Faktor Pranatal.
Adalah faktor yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan.
Faktor  Pranatal yang berpengaruh terhadap  pertumbuhan dan perkembangan anak adalah :
a.       Gizi ibu pada waktu hamil.
b.      Mekanis, masalah cairan ketuban; posisi  janin.
c.       Zat kimia / keracunan.
d.      Cendoktrin / hormone.
e.       Radiasi.
f.       Infeksi.
g.      Stress.
h.      Imunitas.
i.        Anoksia embrio / kekurangan oksigen pada  janin.
2.      Faktor  Postnatal.
Adalah faktor yang' mempengaruhi pertumbuhan dan  perkembangan akan setelah lahir.
Faktor postnatal yang mempengaruhi  pertumbuhan dan perkembangan anak adalah :
a.      Lingkungan Biologis.
Antara lain : ras, jenis kelamin, usia, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit,  penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormone.
b.      Faktor Fisik.
Antara lain : cuaca, musim, sanitasi, keadaan rumah, dan radiasi.
c.       Faktor Psikososial.
Antara lain : stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman, kelompok sebaya, stres, sekolah, cinta dan kasih sayang, dan kualitas interaksi anak dan orang tua.
d.      Faktor Keluarga dan Adat Istiadat.
Antara lain :  pekerjaan / pendapatan keluarga, pendidikan ayah / ibu, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah / ibu, adat istiadat, norma yang berlaku, agama, urbanisasi dan kehidupan politik dalam masyarakat.
C.    Perkembangan Bahasa.
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan  pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor,  psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak (Soetjiningsih, 1995:237).
Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari lingkungannya, mereka harus mendengar pembicaraan yang  berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari maupun pengetahuan tentang dunia. Mereka harus belajar mengekspresikan dirinya, membagi pengalamannya dengan orang lain dan mengemukakan keinginannya.
Menurut Soetjiningsih (1995:238) terdapat 3 area utama pada hemisfer kiri anak khusus untuk berbahasa, yaitu :
1.      Di  bagian Anterior (area Broca dan korteks motorik).
2.      Di bagian Posterior (area Wernicke).
Informasi yang berasal dari korteks pendengaran primer dan sekunder, diteruskan ke bagian korteks temporoparietal posterio (area Wernicke), yang dibandingkan dengan ingatan yang sudah disimpan. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan oleh fasciculus arcuata ke bagian anterior otak dimana jawaban motorik dikoordinasi. Apabila terjadi kelainan pada salah satu dari jalannya impuls ini, maka akan terjadi kelainan bicara. Kerusakan pada bagian  posterior akan mengakibatkan kelainan  bahasa reseptif (bahasa pasif), sedangkan kerusakan di bagian anterior akan menyebabkan kelainan bahasa ekspresif (bahasa aktif).
Piaget (Sumantri, dkk. 2009:1-15) mengemukakan bahwa proses  perkembangan anak dari kecil hingga dewasa melalui empat tahap perkembangan, yaitu :
1.      Tahap Sensori Motor (0 – 2 Tahun).
Pada tahap ini, kegiatan intelektual anak hampir seluruhnya merupakan gejala yang diterima secara langsung melalui indra. Pada saat anak mencapai kematangan dan secara perlahan mulai memperoleh keterampilan berbahasa, mereka menerapkannya pada objek-objek yang nyata. Pada tahap ini anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama benda tersebut.
2.      Tahap Praoperasional (2 – 7 Tahun).
Perkembangan yang pesat dialami oleh anak pada tahap ini. Anak semakin memahami lambang-lambang bahasa yang digunakan untuk menunjukkan benda- benda. Keputusan yang diambil hanya  berdasarkan intuisi, bukan atas dasar analisis rasional. Kesimpulan yang diambil merupakan kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar. Anak akan berpendapat bahwa  pesawat terbang berukuran kecil karena itulah yang mereka lihat di langit ketika ada  pesawat terbang yang lewat.
3.      Tahap Operasional Konkret (7 – 11 Tahun).
Pada tahap ini anak mulai berpikir logis dan sistematis untuk mencapai  pemecahan masalah. Masalah yang dihadapi dalam tahap ini bersifat konkret. Anak akan merasa kesulitan bila menghadapi masalah yang bersifat abstrak. Pada tahap ini anak menyukai soal-soal yang telah tersedia jawabannya.
4.      Tahap Operasional Formal (11 – 15 Tahun).
Anak mencapai tahap  perkembangan ini ditandai dengan pola  pikirnya yang seperti orang dewasa. Anak telah dapat menerapkan cara berpikir terhadap permasalahan yang konkret maupun abstrak. Pada tahap ini anak sudah dapat membentuk ide-ide dan berpikir tentang masa depan secara realistis.
Khusus mengenai perkembangan  bahasa anak, Conny R. Semiawan (2000 : 128 - 136) berpendapat bahwa tahap  perkembangan bahasa anak terdiri dari empat tahap, yaitu :
1.      Perkembangan Bahasa Usia Bayi.
Secara umum bayi mulai mengeluarkan ucapan pada saat usianya 10-16 bulan, walaupun pada kenyataannya ada  juga yang memerlukan waktu lebih lama dari itu. Sebelum anak-anak mengucapkan kata - kata, terlebih dahulu membuat ocehan misalnya dengan ucapan baa, maa atau paa. Mengoceh ini mulai terjadi saat usia sekitar 3-6 bulan.
Tujuan komunikasi yang dilakukan oleh bayi pada usia dini ialah untuk menarik perhatian orang tua dan orang lain yang ada di sekitarnya. Pada umumnya, bayi menarik perhatian orang lain dengan membuat kontak mata, membunyikan ucapan, serta menggerak - gerakkan tangan. Biasanya kata-kata anak yang  pertama kali muncul adalah nama - nama orang penting yang ada disekitarnya, nama - nama binatang, dan benda - benda lain yang ada di sekitarnya. Anak - anak yang telah memasuki usia 18-24 bulan mulai mengucapkan pernyataan dengan dua kata.
2.      Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini.
Beberapa anak usia pra sekolah memiliki kesulitan dalam mengucapkan kelompok konsonan, misalnya untuk mengucapkan kata setrika, mangga, dan lain - lain. Pada usia ini, anak - anak sudah dapat mengembangkan ungkapannya lebih dari dua kata - kata setiap kalimatnya.
Anak-anak mulai berbicara dengan urutan kata yang menunjukkan suatu pendalaman yang meningkat terhadap aturan yang komplek tentang urutan kata - kata yang diucapkan. Pada usia ini anak - anak juga sudah mulai mampu mengembangkan pengetahuan tentang makna dengan cepat.
3.      Perkembangan Bahasa Usia Sekolah.
Pada tahap ini penekanan  perkembangan berubah dari bentuk bahasa ke isi dan penggunaan bahasa. Anak - anak telah mencapai tahap kreatif dalam  perkembangan bahasa. Bahasa kreatif anak dapat didengar dalam bentuk nyanyian atau sajak.
4.      Perkembangan Membaca dan Menulis.
Salah satu faktor yang berpengaruh  pada perkembangan membaca anak usia dini ialah kesediaan orang tua untuk menyediakan bahan bacaan dan menciptakan suasana yang kondusif bagi  perkembangan kemampuan membaca anak.
Kegiatan membaca yang dilakukan secara alamiah dalam suasana kehidupan sosial memiliki efektifitas yang tinggi untuk  peningkatan kemampuan membaca pada anak.
Anak usia tujuh atau delapan tahun telah memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata dan kata. Siswa kelas tiga dan empat sudah mampu menganalisis kata-kata baru dengan menggunakan pola orthograpik dan inferensi kontekstual. Siswa kelas lima dan enam sudah mulai membaca dari keterampilan decoding menuju ke pemahaman.
Periode kritis bagi perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa anak adalah periode antara 9 - 24 bulan awal kehidupan. Dengan berkembangnya ketrampilan ekspresif anak, kemampuan yang meningkat dalam berbicara dan  berbahasa menjadi mudah diamati. Periode 2 -  4 tahun pertama menunjukkan  peningkatan yang cepat dalam jumlah dan kompleksitas perkembangan berbicara, kekayaan perbendaharaan kata dan kontrol neuromotorik (Soetjiningsih, 1995:240).
Selama periode inilah gangguan dalam kelancaran berbicara dapat lebih kelihatan, seperti gagap atau cara bicara seperti bayi.
Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola tertentu. Yang  pertama muncul adalah suatu yang paling mudah dan paling gampang, yaitu suara  bibir (dinyatakan dalam huruf m, p, b, f, v, o), berikutnya yang terdengar adalah suara sederhana yang dihasilkan oleh lidah dan gusi (d, n, l).
D.    Pemerolehan Bahasa.
Pemerolehan bahasa menurut Kiparsky adalah proses yang dipergunakan oleh anak untuk mencocokkan rangkaian hipotesis atau teori potensial yang amat ruwet dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu takaran penilaian, tata bahasa yang paling  baik atau paling sederhana dari bahasa itu (Tarigan, 1985:17).
Seorang anak akan memilih sendiri ucapan-ucapan yang nyaman digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Perkembangan teori pemerolehan  bahasa yang dijelaskan oleh beberapa pakar menjelaskan bahwa teori tersebut banyak dipengaruhi oleh perkembangan psikologi.
Ellis (dalam Yulianto 2008:16) mengungkapkan adanya tiga kelompok  pandangan, yaitu :
1.      Pandangan  Behaviorisme.
2.      Pandangan Nativisme.
3.      Pandangan Interaksionisme.
Van Els et al (dalam Yulianto, 2008:17) mengungkapkan bahwa tiga pandangan tersebut terdiri atas, pendekatan :
1.      Behaviorisme.
2.      Mentalisme.
3.      Procedural.
Sedangkan Brown, (dalam Bambang, 2008:17) menunjukkan bahwa  pandangan tersebut terdiri atas :
1.      Pendekatan Behaviorisme.
2.      Pendekatan Mentalisme.
3.      Pendekatan Fungsional. (Yulianto, 2008:16-17).
Istilah "pemerolehan” dipakai untuk padanan istilah Inggris yaitu acquisition, yakni proses penguasaan  bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari "pembelajaran" yang merupakan padanan dari istilah Inggris learning. Dalam pengertian ini proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal, yakni  belajar di kelas dengan seorang guru. Proses dari anak yang belajar menguasai  bahasa ibunya adalah pemerolehan, sedangkan proses dari orang yang belajar di kelas adalah pembelajaran (Dardjowidjojo, 2008:225).
Menurut Yulianto (2008:24),  pembelajaran bahasa memiliki proses yang  berbeda dengan pemerolehan bahasa. Pembelajaran bahasa dibutuhkan untuk  bahasa kedua. Sejalan dengan pendapat Yulianto (2007:122) bahwa bahasa tidak diperoleh secara serentak, melainkan sempurna dengan berkembang secara  bertahap sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Bahasa pertama membutuhkan waktu dan tempat, sedangkan bahasa kedua membutuhkan strategi pembelajaran.
“The learning context differences will affect the success rate of L2 learners because acculturation and L2 acquisition is determined by the degree of social and  psychological distances between the learners and L2 cultural (the target language culture)” (Yulianto, 2014:2).
Perbedaan konteks belajar akan mempengaruhi tingkat keberhasilan  pembelajar bahasa kedua karena akulturasi dan akuisisi bahasa kedua ditentukan oleh tingkat jarak sosial dan psikologis antara  pelajar dan budaya bahasa kedua (budaya  bahasa target). Strategi pembelajaran bahasa masih  bersifat abstrak dan masih harus diuji kebenarannya maka terdapat berbagai  pandangan tentang bentuk strategi  pembelajaran bahasa.
Dalam buku “Pengantar Teori Belajar Bahasa”, Yulianto (2008 : 7) mengemukakan bahwa guru tidak hanya menentukan isi dan struktur  pengajaran, namun juga bahasa itu diajarkan sehingga diperlukan metode-metode untuk mengatur strategi dalam kegiatan belajar-mengajar yang mampu mempermudah peserta didik memperoleh  pembelajaran bahasa. Bahan ajar untuk pembelajaran  bahasa juga harus mendukung proses  pembelajaran bahasa. Bahan ajar untuk  pembelajaran bahasa adalah bahan ajar atau materi komponen kebahasaan dipilih  berdasarkan keterpaduan dan kesinambungan antar komponen kebahasaan terkait materi kebahasaan tersebut dalam pemilihan sampel-sampel  bahasa dalam pembelajaran (Yulianto, 2008 : 7 - 8).
Menurut Chaer (2009 : 167) Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau  bahasa ibunya. Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak - kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu  proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan.
1.      Kompetensi adalah proses  penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari.
2.      Proses kompetensi menjadi syarat terjadinya proses perfomansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni  proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat.
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1) terjadi bila anak yang sejak semula tidak memiliki bahasa kini telah memperoleh satu  bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai  pemerolehan bahasa, yaitu :
1.      Pemerolehan  bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba.
2.      Pemerolehan  bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Penelitian mengenai bahasa telah menunjukkan banyak hal mengenai  pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh  bahasa. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang  belum pernah mereka hasilkan sebelumnya. Anak-anak belajar memahami kalimat yang  belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam  pikiran mereka. Anak-anak selanjutnya harus menyusun "aturan" yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih menyadari aturan aturan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantik daripada anak-anak.
Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu  penggunaan bahasa secara sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif. Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, bentuk  panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia harus menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian dari norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan  bahasa (language use) (Dardjowidjojo, 2000:275).
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa  pertama merupakan salah satu  perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang  benar - benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai - nilai budaya, moral, agama, dan nilai - nilai lain dalam masyarakat.
Perkembangan  pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu :
1.      Perkembangan  prasekolah.
2.      Perkembangan ujaran kombinatori.
3.      Perkembangan masa sekolah.
Perkembangan pemerolehan  bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan  pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan. Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan  pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan  pada tahap satu kata anak terus - menerus  berupaya mengumpulkan nama benda- benda dan orang yang ia jumpai.
Kata - kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan  perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemberian. Perkembangan bahasa pertama anak lebih mudah ditandai dari panjang ucapannya. Panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk  perkembangan bahasa yang lebih baik dari  pada urutan usianya. Jumlah morfem rata - rata per ucapan dapat digunakan sebagai ukuran panjangnya.
Ada lima tahapan  pemerolehan bahasa pertama. Setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata - rata tadi. Walaupun perkembangan bahasa setiap anak sangat unik, namun ada persamaan umum pada anak-anak, ada persesuaian satu sama lain semua mencakup :
1.      Eksistensi.
2.      Noneksistensi.
3.      Rekurensi.
4.      Atribut Objek.
5.      Asosiasi Objek dengan orang.
Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang, yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau  penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi. Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak bergerak dari membuat bunyi menuju ke arah membuat pengertian. Periode pembuatan pembedaan atas dua  bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu :
1.      Periode vokalisasi dan prameraba.
2.      Periode meraba.
Anak lazimnya membuat pembedaan bunyi perseptual yang  penting, selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara insani dan noninsani antara bunyi yang berekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak - anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak - anak mengenali makna - makna  berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata - kata yang didengarnya. Anak - anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anah - anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal itu menjadi perbendaharaan mereka.
Perkembangan ujaran kombinatori anak - anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu :
1.      Perkembangan negatif / penyangkalan.
2.      Perkembangan interogratif / pertanyaan.
3.      Perkembangan penggabungan kalimat.
4.      Perkembangan sistem bunyi.
Penggabungan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentangan masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak. Penggunaan bahasa yang tepat harus diperoleh seorang anak karena kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya terletak pada kepatuhan terhadap aturan gramatikal tetapi juga pada aturan  pragmatik.
Menurut Ninio dan Snow (dalam Dardjowidjojo, 2000:43-48), mau tidak mau seorang anak mengembangkan  pengetahuan yang diperlukan agar dalam situasi komunikasi bahasa yang dia pakai itu pantas, efektif, dan sekaligus mengikuti aturan gramatikal.
Menurut Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 433) istilah pertama mengacu  pada perkembangan bahasa pada setiap individu. Artinya, tidak tertutup kemungkinan seorang anak dalam  pertumbuhannya akan menguasai dua, tiga, atau empat bahasa, bahkan lebih. Jika hal ini yang terjadi bahasa yang pertama dikuasai sebelum mereka menguasai bahasa lain inilah yang disebut bahasa pertama.
Menurut Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 434) di samping karena urutannya, seorang anak yang mempelajari  bahasa baru setelah bahasa yang lain disebut memperoleh bahasa kedua jika  bahasa pertama telah dikuasai dengan sempurna. Istilah ibu bukan berarti bahasa ibu kandung sang anak.
Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 434) mengatakan di samping diperoleh paling awal, karena sudah menurani bahasa pertama digunakan seumur hidup. Jika dibandingkan,  penggunaan bahasa pertama oleh seseorang memiliki persentase yang tinggi. Terutama dalam mengungkapkan hal-hal yang  bersifat personal, seperti mengungkapkan  perasaan, emosi, marah, dan sebagainya, orang cenderung menggunakan bahasa  pertamanya. Tahap pemerolehan bahasa pertama  berkaitan dengan perkembangan bahasa anak. Hal ini dikarenakan bahasa pertama diperoleh seseorang pada saat ia berusia anak - anak.
Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 440 - 445) membagi tahap  pemerolehan bahasa pertama menjadi empat tahap, yaitu :
1.      Tahap Pemerolehan Kompetensi dan Performansi.
Dalam Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 440) dikatakan bahwa dalam memperoleh bahasa pertama anak memungut dua hal abstrak dalam teori linguistik, yaitu kompetensi dan  performansi.
2.      Tahap Pemerolehan Semantik.
Menurut Brown dalam Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 441) pemerolehan sintaksis bergantung pada pemerolehan semantik. Yang pertama diperoleh oleh anak bukanlah struktur sintaksis melainkan makna (semantik).
3.      Tahap Pemerolehan Sintaksis.
Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 443) mengatakan bahwa konstruksi sintaksis pertama anak normal dapat diamati pada usia 18 bulan. Meskipun demikian, beberapa anak sudah mulai tampak pada usia setahun dan anak-anak yang lain di atas dua tahun. Pemerolehan sintaksis merupakan kemampuan anak untuk mengungkapakan sesuatu dalam  bentuk konstruksi atau susunan kalimat.
4.      Tahap Pemerolehan Fonologi.
Pemerolehan fonologi atau bunyi- bunyi bahasa diawali dengan pemerolehan  bunyi-bunyi dasar.
Menurut Jakobson dalam Ardiana dan Syamsul Sodiq (2000 : 445) bunyi dasar dalam ujaran manusia adalah /p/, /a/, /i/, /u/, /t/, /c/, /m/, dan seterusnya. Kemudian pada usia 1 tahun anak mulai mengisi bunyi-bunyi tersebut dengan bunyi lainnya.
Misalnya /p/ dikombinasikan dengan /a/ menjadi /pa/ dan /m/ dikombinasikan dengan /a/ menjadi /ma/. Setelah anak mampu memproduksi  bunyi maka seiring dengan berjalannya waktu, anak akan lebih mahir dalam memproduksi bunyi. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan, kognitif, dan juga alat ucapnya.


Comments