Penyakit Urolitiasis : Pengertian, Gejala, Penyebab, Komplikasi, Pemeriksaan dan Penanganannya


Penyakit Urolitiasis : Pengertian, Gejala, Penyebab, Komplikasi, Pemeriksaan dan Penanganannya

A.    Pengertian Batu Ginjal dan Urolitiasis.
Batu ginjal adalah batu kuli - kuli di dalam nefron dan keberadaanya dapat menghambat aliran Urin. Terjadinya obstruksi, secara perlahan dapat merusak unit fungsional (nefron ginjal). Selain itu dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa dan ketidaknyamanan (Smeltzer : 2006 : 1460).
1.      Urolitiasis adalah adanya batu dan kalkulus dalam system urinarius. Batu tersebut dibentuk dari kristialisasi larutan urine (kalsium oksalat, asam urat, kalsium fosfat, struvit dan sistin) (Sandra m netinna: 2002).
2.      Urolitiasis adalah terbentuknya batu (kalkulus) dimana saja pada system penyalur urine, tetapi batu umumnya terbentuk di ginjal (Robbins : 2007).
3.      Urolithiasis adalah adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius (Brunner and Suddarth, 2002, hal. 1460).
B.     Etiologi dan Fatologi Batu Ginjal.
Faktor - faktor yang berperan dalam pembentukan batu saluran kemih dibagi atas 2 golongan :
1.      Faktor Endogen.
Misalnya faktor genetic - familial pada hipersistinuria, hiperkalsuria primer dan hiperoksanuria primer.
2.      Faktor Eksogen.
Misalnya faktor lingkungan, pekerjaan yang banyak mengeluarkan keringat misalnya buruh bangunan, makanan, infeksi, dan kejenuhan mineral di dalam air minum.
Faktor - faktor ini mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium didalam darah dan urin, menyebabkan pembentukan batu kalsium. Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan urolitiasis belum diketahui secara pasti.
Namun ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan bahan - bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk pembentukan batu. Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalate.
Faktor lain mendukung pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah solute dalam urin dan jumlah cairan urin.
Masalah - masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi pembentukan batu asam urat. pH urin juga mendukung pembentukan batu. Batu asam urat dan batu cystine dapat mengendap dalam urin yang asam. Batu kalsium fosfat dan batu struvite biasa terdapat dalam urin yang alkalin. Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin. Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju tulang akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang akan diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan semakin bertambah dan pengendapan ini semakin kompleks sehingga terjadi batu. Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi, ada batu yang kecil dan batu yang besar.
1.      Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan menimbulkan rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin.
2.      Batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akibat yang fatal dapat timbul hidronefrosis karena dilatasi ginjal.
Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan pada organ - organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara normal. Maka dapat terjadi penyakit  GGK yang dapat menyebabkan kematian.
C.    Tanda Dan Gejala Batu Ginjal.
Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya, besarnya dan morfologinya. Penyakit ini mempunyai tanda umum yaitu :
1.      Hematuria, baik hematuria terbuka atau mikroskopik.
2.      Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral.
3.      Pielonefritis dan atau sistitis.
4.      Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing.
5.      Nyeri tekan kostovertebral.
6.      Gangguan faal ginjal.
Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan kelainan endapan urin bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. Tanda gejala dalam urolitiasis Dalam traktus urinarus bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema.
1.      Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatkan tekanan hidrostastik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
2.      Infeksi dalam (pielonefritis dan sistitis yang diserta dengan menggigil, dan disuria), dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun serta perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal; sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan ketidaknyamanan.
3.      Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus - menerus di area kostovertebra. Hematuri dan piuria dapat dijumpai. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita ke bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebra dan muncul mual dan muntah, maka pasien mengalami episode kolik renal.
Diare dan ketidak nyamanan abdominal dapat terjadi gejala gastrointestinal ini akibat dari reflek intestinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung, pancreas, dan usus besar. Batu yang terjebak di ureter menyebabkan nyeri yang luar biasa akut dan kolik yang menyebar dipaha dan genetalia pasien sering merasa ingin berkemih namun hanya sedikit dan biasanya keluar darah akibat aksi abrasi batu.
Batu yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika obstruksi di kandung kemih bias terjadi retensi urin.  
D.    Komplikasi Batu Ginjal.
Komplikasi batu ginjal yang dapat terjadi menurut Guyton 1990 :
1.      Gagal Ginjal.
Terjadinya kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh darah yang disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena suplai oksigen terhambat. Hal ini menyebabkan iskemik ginjal dan jika dibiarkan menyebabkan gagal ginjal.
2.      Infeksi.
Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk perkembangbiakan mikroorganisme. Sehingga akan menyebabkan infeksi pada peritoneal.
3.      Hidronefrosis.
Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan menumpuk di ginjal dan lama-kelamaan ginjal akan membesar karena penumpukan urin.
4.      Avaskuler Iskemia.
Terjadi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga terjadi kematian jaringan.
E.     Pemeriksaan Penunjang.
a.      Laboratorium :
1.      Urinalisa :
Warna urin berubah kuning, coklat gelap, berdarah menunjukan SDM, SDP, Kristal (sistin, as. Urat, kalsium oksalat), serpihan, mineral, bakteri, pus, pHasam, dan alkalinm (meningkatkan magnesium, fosfat, ammonium, atau batu kalium fosfat).
2.      Urine 24 jam :
Terjadi peningkatan kreatinin, as. Urat, kalsium, fosfat, oksalat, ataupun sistin.
3.      Dapat terjadi indikasi ISK.
Staphilococus aureus, proteus, klebsiela, pseudomonas.
4.      Hitung darah lengkap.
SDP mungkin meningkat menunjukan infeksi / septicemia.
5.      Hb / Ht.
bnormal boila pasien dehidrasi nitrat atau polisitemia terjadi mendorong prespitasi pemadatan ataupun anemia akibat perdarahan karena disfungsi ginjal.
6.      Hormone Paratiroid.
Mungkin meningkat bila terjaci gagal ginjal.pth merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
b.      Foto Polos Abdomen.
Tujuan pembuatan foto polos abdomen adalah untuk melihat kemungkinan adanya batu radioopak di saluran kemih.
Batu - batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio opak dan paling sering dijumpai pada diantara batu - baru jenis lain sedangkan batu asam urat sifatnya non opak atau radio lusen.
c.       Pielografi Intravena (IVP).
Tujuannya menilai keadaan anatoni dan fungsi ginjal serta mendeteksi adanya batu semi opak ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos perut.
Jika IVP belum dapat menjelaskan keadaan system kandung kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.
d.      Ultrasonografi.    
e.       Ct Scan mengidentifikasi dan menggammbarkan kalkuli dan masa lain : ginjal, ureter, dan distensi kandung kemih.
f.       Sistoureterokopi untukm memvisualisasikansecara langsung kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu dan atau defek obstruksi.   
g.      Ultrasound untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.
F.     Penanganan Tindakan Medis.
Tindakan penatalaksanaan kasus urolitiasis bertujuan untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron , mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
1.      Pengurangan Nyeri.
Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan: morphine atau mepedrine diberikan untuk mencegah syock dan sinkop akibat nyeri luar biasa. Mandi air panas atau hangat diarea panggul dapat bermanfaat.
Cairan diberikan kecuali pasien mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang membutuhkan pembatasan cairan hal ini meningkatkan peningkatan tekanan hidrostatik pada ruang dibelakang batu sehingga mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjamin haluaran yang besar.
2.      Pengangkatan Batu.
Pemeriksaan sistoskopik dan paase kateter uretral kecil untuk menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi , akan segera mengurangi tekanan - tekanan pada ginjal dan mengurangi nyeri.   
3.      Terapi Nutrisi dan Medikasi.
Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu ginjal. Masukan cairan yang adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam diet yang merupakan bahan utama pembentuk batu (misalnya Kalsium) efektif untuk mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada.
Setiap pasien dengan batu renal paling sedikit harus minum 8 gelas / hari untuk mempertahankan keenceran urin, kecuali ada kontraindikasi.
4.      Lithotripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal (ESWL).
Prosedur noninvasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal. Setelah batu pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan sepontan.   
5.      Metode Endurologi Pengangkatan Batu.
Menggabungkan ketrampilan ahli radiologi dan urologi untuk mengangkat batu ren tanpa pembedahan mayor.
Nefrostomi perkutan (nefrolitotomi perkutan) dan nefroskopi dimasukan ke traktus perkutan yang sudah dilebarkan kedalam parenkim ginjal. Batu dapat diangkat dengan forceps atau jating, tergantung dari ukurannya.
6.      Ureteroskopi.
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses dengan memasukan suatu alat ureteroskop melalui sitoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser litotripsi elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
7.      Pelarutan Batu.
Infus cairan kemolitik misalnya : agen pembuat basa (alkylating) dan pembuat asam (acidifying) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternatif penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain yang menolak metode lain atau memiliki batu struvit.
8.      Pembedahan (Operasi).
Sebelum ada lithotripsi pengangkatan batu ginjal secara bedah merupakan metode terapi utama.
Untuk saat ini bedah dilakukan pada 1 - 2 % pasien. Intervensi bedah dilakukan jika batu tersebut tidak berespon terhadap penaganan lain

Previous
Next Post »
Thanks for your comment