Tumbuh dan Berkembangnya Semangat Kebangsaan (Materi IPS Terpadu Kelas 8 – Halaman 232 s/d 270)


Tumbuh dan Berkembangnya Semangat Kebangsaan (Materi IPS Terpadu Kelas 8 – Halaman 232 s/d 270) 

Pada Awal Abad XX, corak perjuangan bangsa Indonesia berubah dari yang bersifat kedaerahan menuju perjuangan yang bersifat nasional. Bangsa Indonesia telah menemukan identitas kebangsaan sebagai pengikat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau nasionalisme telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat.
1.      Latar Belakang Munculnya Nasionalisme Indonesia.
Ditinjau dari asal pengaruhnya, pergerakan nasional dilatarbelakangi berbagai kejadian di dalam negeri Indonesia dan berbagai kejadian di luar negeri. Berbagai kejadian dari dalam negeri atau sering disebut faktor internal yang melatarbelakangi pergerakan nasional, misalnya perluasan pendidikan, kegagalan perjuangan diberbagai daerah, rasa senasib sepenanggungan dan perkembangan berbagai organisasi etnik kedaerahan. Adapun berbagai hal dari luar Indonesia (Faktor Eksternal) yang melatarbelakangi terjadinya pergerakan nasional, antara lain munculnya paham – paham baru di dunia seperti Pan – Islamisme, nasionalisme, sosialisme, liberalisme dan demokrasi. Beberapa peristiwa seperti kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang 1905 dan perkembangan berbagai organisasi pergerakan nasional di berbagai negara juga menjadi faktor eksternal pendorong pergerakan nasional di Indonesia.
a.      Perluasan Pendidikan.
Pemerintah Hindia belanda menerapkan kebijakan Politik Etis pada tahun 1901, yaitu dalam bidang irigasi / pengairan, emigrasi / transmigrasi dan edukasi / pendidikan. Tiga kebijakan tersebut sebenarnya bertujuan memperbaiki kondisi masyarakat yang semakin terpuruk. namun, pelaksanaan kebijakan politik etis tetap lebih berpihak kepada penjajah. Dalam pelaksanaannya, banyak penyelewengan dalam Politik Etis, seperti :
1.      Irigasi hanya ditujukan untuk kepentingan perkebunan Belanda.
2.      Emigrasi / Transmigrasi hanya untuk mengirim orang – orang Jawa keluar Jawa guna dijadikan buruh perkebunan dengan upah murah.
3.      Pendidikan hanya sampai tingkat rendah, yang bertujuan memenuhi pegawai rendahan. Pendidikan tinggi hanya untuk orang Belanda dan sebagian anak pejabat.
Segi positif yang paling dirasakan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Semakin banyak orang Indonesia berpendidikan modern, yang kemudian mempelopori gerakan pendidikan, sosial dan politik. Pengaruh pendidikan inilah yang melahirkan para tokoh pemimpin gerakan nasional Indonesia.
Pendidikan adalah investasi peradaban. Melalui pendidikan akan tertanamkan pengetahuan dan kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia. Secara bertahap, mulai masuk abad XX, kesempatan memperoleh pendidikan bagi rakyat Indonesia semakin besar. hal ini dipengaruhi kebijakan baru pemerintah Hindia Belanda melalui Politik Etis (Politik Balas Budi).
Politik colonial liberal yang memeras rakyat Indonesia menimbulkan keprihatinan sebagian masyarakat Belanda. C Theodore van Deventer menuangkan kritiknya dalam sebuah majalh de Gids yang berjudul Een Eereschuld atau debt of Honour (Hutang Budi / Hutang Kehormatan) yang terbit pada tahun 1899. Van Deventer mengusulkan agar Belanda melakukan balas budi untuk bangsa Indonesia. Balas Budi yang diusulkan adalah dengan melakukan educatie, emigratie dan irrigatie (edukasi / pendidikan, emigrasi/perpindahan penduduk dan irigasi / pengairan). kebijakan Politik Etis memungkinkan berdirinya sekolah – sekolah di berbagai daerah di Indonesia.
Mulai abad XX, perkembangan pendidikan yang diselenggarakan swasta juga semakin banyak. Perkembangan pendidikan bukan hanya diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi juga oleh berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Misionaris (Agama Katolik) dan Zending (Agama Kristen protestan) mendirikan berbagai sekolah di pusat – pusat penyebaran agama Kristen. Di beberapa kota berkembang pendidikan berdasarkan keagamaan, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, nahdatul Ulama, dan sebagainya. Sekolah kebangsaan juga tumbuh, seperti Taman Siswa dan sekolah – sekolah yang didirikan organisasi pergerakan.
Pendidikan sangat besar peranannya dalam menumbuhkembangkan nasionalisme. Pendidikan menyebabkan terjadinya transformasi ide dan pemikiran yang mendorong semangat pembaharuan masyarakat.
b.      Kegagalan Perjuangan di Berbagai Daerah.
Bangsa Indonesia menyadari berbagai penyebab kegagalan perjuangan kemerdekaan pada masa lalu. Salah satu penyebab kegagalan perjuangan tersebut adalah perlawanan yang bersifat kedaerahan.
Memasuki abad XX, corak perjuangan bangsa Indonesia berubah dari bersifat kedaerahan menuju perjuangan yang bersifat nasional. Bangsa Indonesia menemukan identitas kebangsaan sebagai perekat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau nasionalisme telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat. Corak perjuangan nasional bangsa Indonesia ditandai dengan momentum penting, yaitu diikrarkannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
c.       Rasa Senasib Sepenanggungan.
Perluasan kekuasaan Barat di Indonesia telah mempengaruhi perubahan politik, ekonomi dan sosial bangsa Indonesia. tekanan pemerintah Hindia Belanda pada bangsa Indonesia telah memunculkan perasaan kebersamaan rakyat Indonesia sebagai bangsa terjajah. Hal inilah yang mendorong tekad bersama untuk menghimpun kebersamaan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia.
d.      Perkembangan Organisasi Etnis, Kedaerahan dan Keagamaan.
Organisasi pergerakan nasional tidaka muncul begitu saja. Awalnya, organisasi yang berdiri di Indonesia adalah organisasi etnis, kedaerahan dan keagamaan. Berbagai organisasi tersebut sering melakukan pertemuan hingga akhirnya muncul ide untuk mengikatkan diri dalam organisasi yang bersifat nasional.
Organisasi etnis banyak didirikan para pelajar perantau di kota – kota besar. Mereka membentuk perkumpulan berdasarkan latar belakang etnis. Beberapa contohnya antara lain Serikat Pasundan serta Perkumpulan Kaum Betawi yang dipelopori oleh M Husni Thamrin. Selain organisasi etnis, muncul juga beberapa organisasi kedaerahan seperti Trikoro Dharmo (1915), Jong Java (1915) dan Jong Somatranen Bond (1917).
Berbagai organisasi bernapaskan keagamaan pada awal abad XX sangat mempengaruhi perkembangan kebangsaan Indonesia. Beberapa organisasi bernapas keagamaan yang muncul pada masa awal abad XX antara lain Jong Islamiten Bond, Muda Kristen Jawi, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) didirikan oleh para kyai pada tanggal 31 januari 1926 di Jawa Timur dengan pimpinan pertama KH M Hasyim Asy’ari. NU cepat berkembang terutama di Jawa karena basis pesantren yang sangat banyak di Jawa.
Kaum wanita juga aktif berperan dalam berbagai organisasi baik organisasi sosial maupun politik. Peran serta perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan telah ada sejak dahulu. Beberapa tokoh pejuang wanita zaman dulu adalah RA Kartini, Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis. RA Kartini adalah putri bupati Jepara Jawa tengah yang memperjuangkan emansipasi (persamaan derajat) antara laki – laki dan perempuan. Beliau mendirikan sekolah khusus untuk perempuan.
e.       Berkembangnya Berbagai Paham Baru.
Paham – paham baru seperti Pan – Islamisme, nasionalisme, liberalism, sosialisme dan demokrasi menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional Indonesia. Paham – paham tersebut mengajarkan bagaimana langkah – langkah memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Berbagai paham tersebut mempengaruhi berbagai organisasi pergerakan nasional Indonesia.
f.       Berbagai Peristiwa dan Pengaruh dari Luar Negeri.
Berbagai peristiwa di luar negeri yang turut menjadi pendorong pergerakan kebangsaan Indonesia adalah sebagai berikut :
1.      Kemenangan Jepang atas Rusia Pada Tahun 1905.
Pada tahun 1904 – 1905 terjadi peperangan Jepang melawan Rusia. Rusia adalah bangsa Eropa, sedangkan Jepang adalah bangsa Asia. Tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia dan menjadi inspirasi negara – negara lain bahwa orang Asia bisa mengalahkan bangsa Barat. Bangsa – bangsa Asia pun semakin yakin mampu melawan penjajah.
2.      Berkembangnya Nasionalisme di berbagai Negara.
Pada abad XX, negara – negara terjajah di Asia dan Afrika menunjukkan perjuangan pergerakan kebangsaan. Di India, wilayah jajahan Inggris, muncul pergerakan dengan tokoh – tokohnya Mahatma Gandhi dan Muhammad Ali Jinnah. Di Filipina, Jose Rizal memimpin perlawanan terhadap penjajah Spanyol. Di Tiongkok, muncul dr. Sun Yat Sen, yang terkenal dengan gerakan pembaharuannya.
2.      Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia.
Kebangkitan nasional yaitu masa lahirnya kesadaran bangsa Indonesia untuk berjuang bersama – sama dalam mengusir penjajahan.
a.      Budi Utomo (BU).
pada awal abad XX, sudah banyak mahasiswa di kota – kota besar terutama di Pulau Jawa. Sekolah kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleideing van Inlandsche Artsen) terdapat di Batavia (Jakarta). Para tokoh mahasiswa kedokteran sepakat untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan memajukan pendidikan rakyat. Pada tanggal 20 Mei 1908, mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi bernama Budi Utomo (BU) dan memilih dr Sutomo sebagai ketua. Tokoh lain pendiri Budi Utomo adalah Gunawan, Cipto mangunkusumo dan RT Ario Tirtokusumo.
b.      Sarekat Islam (SI).
Pada masa penjajahan, Pasar Klewer di Solo atau Surakarta, Jawa Tengah telah ramai oleh para pedagang Indonesia, Arab dan Tiongkok. Akibat persaingan yang tidak sehat antara pedagang pribumi dan pedagang Tiongkok, pada tahun 1911 didirikan Serikat Dagang Islam (SDI) oleh KH Samanhudi dan RM Tirtodisuryo di Solo. Tujuan utama pada awalnya adalah melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman pedagang Tiongkok. Saat itu, para pedagang Tiongkok menguasai perdagangan di pasar, menggeser para pedagang local yang kurang pendidikan dan pengalaman.
Dalam Kongres di Surabaya tanggal 30 September 1912, SDI berusaha menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama dimaksudkan agar kegiatan organisasi lebih terbuka ke bidang – bidang lain, tidak hanya perdagangan. Pada tahun1913, SI dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Perjuangan SI sangat menarik rakyat karena kegiatannya yang membela rakyat. Pada tahun 1915, jumlah anggota SI mencapai 800.000.
Pada tahun 1923, SI berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang bersifat non kooperatif terhadap Belanda. Tahun 1927 PSI, menetapkan tujuan pergerakan secara jelas, yaitu Indonesia merdeka berasaskan Islam.
c.       Indische Partij (IP).
Indische Partij (IP) adalah partai politik pertama di Indonesia. Ada tiga orang yang merupakan pendiri IP yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai, yakni E.F.E. Douwes Dekker (Danudirjo Setiabudi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan dr Cipto mangunkusumo. Indische Partij dideklarasikan tanggal 25 Desember 1912. Tujuan utama IP sangat jelas, yakni mengembangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Keanggotaannya pun terbuka bagi semua golongan tanpa memandang suku, agama dan ras.
Pada tahun 1913, Belanda mempersiapkan pelaksanan perayaan 100 tahun pembebasannya dari kekuasaan Prancis. Belanda meminta rakyat Indonesia untuk turut memperingati hari tersebut. Para tokoh Indische Partij menentang rencana tersebut. Suwardi Suryaningrat menulis artikel yang dimuat dalam harian De Expres, dengan judul “Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Orang Belanda). Suwardi mengecam Belanda, katanya : Bagaimana mungkin bangsa terjajah (Indonesia) disuruh merayakan kemerdekaan penjajah. Pemerintah Belanda marah dengan sikap para tokoh Indische Partij. Akhirnya Douwes dekker, Tjipto Mangukusumo dan Suwardi Suryaningrat ditangkap dan dibuang ke Belanda.
d.      Perhimpunan Indonesia (PI).
Semula bernama Indische Vereeniging, PI didirikan oleh orang – orang Indonesia di Belanda pada tahun 1908. Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging dengan kegiatan utama politik. Pada tahun 1925 berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Nama majalahnya Hindia Putra, yang kemudian berubah menjadi Indonesia Merdeka.
Tujuan utama PI adalah mencapai Indonesia merdeka, memperoleh suatu pemerintahan Indonesia yang bertanggung jawab kepada seluruh rakyat. Tokoh – tokoh PI adalah Mohammad Hatta, Ali Sastroamijoyo, Abdulmajid Joyoadiningrat, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, sartono, Gunawan Mangunkusumo, dan Nazir datuk Pamuncak.
Pada tahun 1925, PI secara tegas mengeluarkan manifesto arah perjuangan, yaitu :
1.      Indonesia bersatu, menyingkirkan perbedaan, dapat mematahkan kekuasaan penjajah.
2.      Diperlukan aksi massa yang percaya pada kekuatan sendiri untuk mencapai Indonesia Merdeka.
3.      Melibatkan seluruh lapisan masyarakat merupakan sarat mutlak untuk perjuangan kemerdekaan.
4.      Anasir yang berkuasa dan esensial dalam tiap – tiap masalah politik.
5.      Penjajahan telah merusak dan demoralisasi jiwa dan fisik bangsa, sehingga normalisasi jiwa dan materi perlu dilakukan secara sungguh – sung.
Manifesto 1925 sangat menggugah kesadaran bangsa Indonesia serta sangat mempengaruhi pola pergerakan nasional bangsa Indonesia. Gagasan manifesto 1925 terealisasi saat Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda I dilaksanakan tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta, dihadiri berbagai organisasi pemuda. Kongres ini berhasil membentuk jaringan yang lebih kokoh untuk mempersatukan diri, yang kemudian dilanjutkan dalam Kongres Pemuda II tahun 1928.
Panitia Kongres Pemuda II dibentuk tanggal 12 Agustus 1928 dengan ketuanya Sugondo Joyopuspito. Susunan panitia mewakili wilayah di seluruh Indonesia. Beberapa tokoh panitia kongres adalah Sugondo (PPPI), Joko Marsaid (Jong Java), M Yamin (Jong Sumatranen Bond), Amir Syarifudin (Jong Bataks Bond), Senduk (Jong Celebes), J Leimena (Jong Ambon), Johan Muh. Cai (Jong Islamieten Bond), dan tokoh – tokoh lainnya.
Kongres II diselenggarakan 27 – 28 Oktober 1928, dihadiri oleh perwakilan organisasi – organisasi pemuda dari seluruh Indonesia. Dalam kongres ini, keinginan untuk membentuk negara sendiri semakin kuat. Suasana kebangsaan benar – benar tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya, tanggal 28 Oktober 1928, dibacakanlah keputusan hasil Kongres Pemuda II, yang berupa ikrar pemuda yang terkenal dengan Sumpah Pemuda.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Beberapa keputusan penting Kongres Pemuda II, tanggal 27 – 28 Oktober 1928, diantaranya :
1.      Ikrar Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
2.      Menetapkan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
3.      Menetapkan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia.
Realisasi hasil kongres adalah didirikannya Indonesia muda tahun 1930. Indonesia Muda berasaskan kebangsaan dan bertujuan Indonesia raya. Pemerintah Belanda sangat menekan rapat – rapat yang diselenggarakan para tokoh pemuda. lagu Indonesia raya dilarang dan penyebutan Indonesia merdeka tidak diperbolehkan. Para tokoh pemuda menyiasati tekanan ini. Pada Kongres III di Yogyakarta tahun 1938, tujuan kemerdekaan nusa dan bangsa diganti dengan menjungjung tinggi martabat nusa dan bangsa.
e.       Partai Nasional Indonesia (PNI).
Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, dipimpin Ir Soekarno. Tujuan PNI adalah Indonesia merdeka, dengan ideology nasionalisme. PNI mengadakan kegiatan konkret baik politik, sosial maupun ekonomi. Organisasi ini terbuka dan revolusioner, sehingga PNI cepat meraih anggota yang banyak. Pengaruh Soekarno sangat meresap dalam lapisan masyarakat. Keikutsertaan Hatta dalam kegiatan politik Soekarno semakin membuat PNI sangat kuat.
Kegiatan politik PNI dianggap mengancam pemerintah Belanda, sehingga para tokoh PNI ditangkap dan diadili tahun 1929. Soekarno, Maskoen, Gatot Mangkupraja dan Supriadinata diadili Belanda. Pembelaan Soekarno di hadapan pengadilan diberi judul “Indonesia Menggugat”. Sukarno dan kawan – kawan di hukum penjara.
Tahun 1931, PNI dibubarkan. Selanjutnya sartono membentuk Partindo. Adapun Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Para tokoh partai tersebut kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Boven Digul, Papua.
Selain lima (5) organisasi diatas, ada berbagai organisasi pada masa pergerakan nasional. Sebagai contoh, Pada tahun 1935 berdiri Parindra (Partai Indonesia Raya) dengan beberapa tokoh seperti M. Husni Thamri, R Sukardjo, R Panji Suroso dan Mr Susanto. Gerindo (Gerakan Indonesia) didirian di Jakarta pada bulan April 1937, Pemimpinnya adalah mantan pimpinan Partindo yang dibubarkan tahun 1937, seperti Amir Syarifuddin, Mr. M. Yamin, Mr. Sartono dan Dr AK Gani.
Golongan nasionalis mencoba menggunakan Volksraad sebagai media perjuangan nasional. Dengan tujuan memperkuat wakil – wakil bangsa Indonesia, tahun 1930. Husni Thamrin membentuk Fraksi Nasional. pada tahun 1936, seorang anggota Volksraad, Sutarjo mengajukan petisi menuntut kemerdekaan Indonesia dalam masa 10 tahun. Petisi ini kemudian dikenal dengan nama Petisi Sutarjo. Petisi tersebut ditolak Belanda dengan alasan Bangsa Indonesia belum siap untuk merdeka.
Para pejuang pergerakan nasional kecewa dan tidak terlalu berharap kepada Volksraad. Pada tahun 1939, dibentuk federasi / gabungan dari beberapa organisasi politik yang disebut Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Semboyan GAPI yang terkenal adalah “Indonesia Berparlemen”.
3.      Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang.
a.      Proses Penguasaan Indonesia.
Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang merupakan negara industry yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat menginginkan bahan baku industry yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan ekonominya. Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industry yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara bangsa – bangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan – bahan mentah dan bahan baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayah – wilayah baru, Jepang menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dan bangsa – bangsa Asia.
Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour, Jepang masuk ke negara – negara Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, jepang mendaratkan pasukannya di Tarakan Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan pada tanggal 24 januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota – kota lainnya di Kalimantan.
Jepang berhasil menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang, Jepang menyerang Pulau jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda. Batavia (Jakarta) sebagai pusat perkembangan Pulau jawa berhasil dikuasai Jepang pada tanggal 1 maret 1942. Setelah melakukan berbagai pertempuran, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 1942 di Kalijati, Subang – Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua belah pihak ditandatangani oleh Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan Jenderal Immamura (Pimpinan Pasukan Jepang). Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.
b.      Kebijakan Pemerintah Militer Jepang.
Pada saat kependudukannya di Indonesia, Jepang melakukan pembagian tiga daerah pemerintahan militer di Indonesia, yakni :
1.      Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukit Tinggi.
2.      Pemerintahan Angkatan darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta.
3.      Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan dan Maluku dengan pusat di Makassar.
Jepang menggunakan system pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di daerah kependudukannya. Berdikari berarti “Berdiri Sendiri”. Maksudnya, pemerintah pusat tidak banyak berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan militer Jepang di Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan system penjajahan.
Jepang melakukan propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”. Kemudahan – kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang justru lebih kejam dalam menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap negara jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada di Indonesia  untuk tujuan perang. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut :                       
1.      Membentuk Organisasi – Organisasi Sosial.
Organisasi – organisasi sosial yang dibentuk oleh jepang diantaranya Gerakan 3A, Pusat tenaga Rakyat, Jawa Hokokai dan Masyumi. Gerakan 3A dipimpin oleh Mr. Syamsudin, dengan tujuan meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik.
Sebagai ganti Gerakan Tiga A, jepang mendirikan gerakan Pusat tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin tokoh – tokoh nasional yang sering disebut Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur dan Ki hajar Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan Indonesia.
Pemerintah Jepang kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena para tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh – tokoh perjuangan. Pada akhirnya, organisasi Putera dibubarkan oleh Jepang.
Pada tahun 1944, dibentuk Jawa Hokokai (Gerakan Kebaktian Jawa). gerakan ini berdiri di bawah pengawasan para pejabat Jepang. Tujuan pokoknya adalah menggalang dukungan untuk rela berkorban demi pemerintah Jepang.
Islam adalah agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Jepang merasa harus bisa menarik hati golongan ini. Maka, pada tahun 1943 Jepang membubarkan Majelis Islam A’la Indonesia dan menggantikannya dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi dipimpin oleh KH Hasyim Ashari dan KH Mas Mansur.
2.      Pembentukan Organisasi Semi Militer.
Jepang menyadari pentingnya mengerahkan rakyat Indonesia untuk membantu perang menghadapi Sekutu. Oleh karena itu, Jepang membentuk berbagai organisasi semimiliter, seperti Seinendan, Fujinkai, Keibodan, Heiho dan Pembela Tanah Air (Peta).
Organisasi Barisan Pemuda (Seinendan) dibentuk pada 9 maret 1943. Tujuannya adalah memberi bekal bela negara agar siap mempertahankan tanah air nya. Dalam kenyataannya, tujuan itu hanya untuk menarik minat rakyat Indonesia. Maksud sesungguhnya adalah untuk membantu menghadapi tentara Sekutu.
Fujinkai merupakan himpunan kaum wanita diatas 15 tahun untuk terikat dalam latihan semi militer. Keibodan merupakan barisan pembantu polisi untuk laki – laki berumur 20 – 25 tahun. Heiho yang didirikan tahun 1943 merupakan organisasi prajurit pembantu tentara jepang. pada saat itu, Jepang sudah mengalami kekalahan di beberapa front pertempuran. Adapun Peta yang didirikan 3 Oktober 1943 merupakan pasukan bersenjata yang memperoleh pendidikan militer secara khusus dari Jepang. kelak, para eks – Peta memiliki peranan besar dalam pertempuran melawan Jepang dan Belanda.
3.      Pengerahan Romusha.
Jepang melakukan rekruitmen anggota romusha dengan tujuan mencari bantuan tenaga yang lebih besar untuk membantu perang dan melancarkan aktivitas Jepang. Anggota – anggota Romusha dikerahkan oleh jepang untuk membangun jalan, kubu pertahanan, rel kereta api, jembatan dan sebagainya. jumlah Romusha paling besar berasal dari jawa, yang dikirim ke luar Jawa, bahkan sampai ke Malaya, Myanmar dan Thailand.
Sebagian besar Romusha adalah penduduk yang tidak berpendidikan. mereka terpaksa melakukan kerja rodi karena takut kepada jepang. Pada saat mereka bekerja sebagai romusha, makanan yang mereka dapat tidak terjamin, kesehatan sangat minim, sementara pekerjaan sangat berat. Ribuan rakyat Indonesia meninggal akibat romusha.
Mendengar nasib romusha yang sangat menyedihkan, banyak pemuda Indonesia meninggalkan kampungnya. mereka takut akan dijadikan romusha. Akhirnya, sebagian besar desa hanya didiami oleh kaum perempuan, orang tua dan anak – anak.
Penjajahan jepang yang sangat menyengsarakan adalah pemaksaan wanita – wanita untuk menjadi Jugun Ianfu. Jugun Ianfu adalah wanita yang dipaksa Jepang untuk menjadi wanita penghibur Jepang di berbagai pos medan pertempuran. Banyak gadis – gadis desa diambil paksa tentara Jepang untuk menjadi Jugun Ianfu. Sebagian mereka tidak kembali walaupun Perang Dunia II telah berakhir.
4.      Eksploitasi Kekayaan Alam.
Jepang tidak hanya menguras tenaga rakyat Indonesia. Pengerukan kekayaan alam dan harta benda yang dimiliki bangsa Indonesia jauh lebih kejam daripada pengerukan yang dilakukan oleh Belanda. Semua usaha yang dilakukan di Indonesia harus menunjang semua keperluan perang Jepang.
Jepang mengambil alih seluruh asset ekonomi Belanda dan mengawasi secara langsung seluruh usahanya. Usaha perkebunan dan industry harus mendukung untuk keperluan perang, seperti tanaman jarak untuk minyak pelumas. rakyat wajib menyerahkan bahan pangan besar – besaran kepada Jepang. Jepang memanfaatkan Jawa Hokokai dan instansi – instansi pemerintah lainnya. Keadaan inilah yang semakin menyengsarakan rakyat Indonesia.
Pada masa panen, rakyat wajib melakukan setor padi sedemikian rupa sehingga mereka hanya membawa pulang padi sekitar 20 % dari panen yang dilakukannya. kondisi ini mengakibatkan musibah kelaparan dan penyakit busung lapar di Indonesia. Banyak penduduk yang memakan umbi – umbian liar, yang sebenarnya hanya pantas untuk makanan ternak.
Sikap manis Jepang hanya sebentar. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan maklumat pemerintah yang isinya berupa larangan pembicaraan tentang pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini tentu membuat kecewa bangsa Indonesia.
c.       Sikap Kaum Pergerakan.
Bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menanggapi kebijakan Jepang tersebut. Propaganda Jepang sama sekali tidak mempengaruhi para tokoh perjuangan untuk percaya begitu saja. Bagaimanapun, mereka sadar bahwa Jepang adalah penjajah. Bahkan mereka sengaja memanfaatkan organisasi – organisasi pendirian jepang sebagai “batu loncatan” untuk meraih Indonesia merdeka. Beberapa bentuk perjuangan pada zaman jepang adalah sebagai berikut :
1.      Memanfaatkan Organisasi Bentukan Jepang.
Kelompok ini sering disebut kolaborator karena mau bekerja sama dengan penjajah. Sebenarnya, cara ini bentuk perjuangan diplomasi. Tokoh – tokohnya adalah para pemimpin Putera, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansyur. Mereka memanfaatkan Putera sebagai sarana komunikasi dengan rakyat. Akhirnya, Putera justru dijadikan para pemuda Indonesia sebagai ajang kampanye nasionalisme. Pemerintah Jepang menyadari hal tersebut dan akhirnya membubarkan Putera dan digantikan Barisan Pelopor. Sama seperti Putera, Barisan Pelopor yang dipimpin Sukarno ini pun selalu mengkampanyekan perjuangan kemerdekaan.
2.      Gerakan Bawah Tanah.
Larangan berdirinya partai politik pada zaman Jepang mengakibatkan sebagian tokoh perjuangan melakukan gerakan bawah tanah. Gerakan bawah tanah merupakan perjuangan melalui kegiatan – kegiatan tidak resmi, tanpa sepengetahuan Jepang (Gerakan sembunyi - sembunyi).
Dalam melakukan perjuangan, mereka terus melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan Indonesia. mereka menggunakan tempat – tempat strategis seperti asrama pemuda untuk melakukan pertemuan – pertemuan. Penggalangan semangat kemerdekaan dan membentuk suatu negara terus mereka kobarkan.
Tokoh – tokoh yang masuk dalam garis pergerakan bawah tanah adalah Sutan Sjahrir, Achmad Subarjo, Sukarni, A. maramis, Wikana, Chairul Saleh dan Amir Syarifuddin. Mereka terus memantau Perang pasifik melalui radio – radio bawah tanah. Pada saat itu, Jepang melarang bangsa Indonesia memiliki pesawat komunikasi. Kelompok bawah tanah inilah yang sering disebut golongan radikal / keras karena mereka tidak mengenal kompromi dengan Jepang.
3.      Perlawanan Bersenjata.
Disamping perjuangan yang dilakukan dengan memanfaatkan organisasi bentukan Jepang dan gerakan tanah, ada pula perlawanan – perlawanan bersenjata yang dilakukan bangsa Indonesia diantranya sebagai berikut :
a.      Perlawanan Rakyat Aceh.
Dilakukan oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama di Cot Plieng Aceh, menentang peraturan – peraturan Jepang. Pada tanggal 10 November 1942, ia melakukan perlawanan. Dalam perlawanan tersebut ia tertangkap dan ditembak mati.
b.      Perlawanan Singaparna, Jawa Barat.
Dipelopori oleh KH Zainal Mustofa, yang menentang seikerei yakni menghormati Kaisar Jepang. Pada tanggal 24 Februari 1944, meletus perlawanan terhadap tentara Jepang. Kiai Haji Zaianal Mustofa dan beberapa pengikutnya ditangkap, lalu dihukum mati.
c.       Perlawanan Indramayu, Jawa Barat.
Pada bulan Juli 1944, rakyat Lohbener dan Sindang di Indramayu memberontak terhadap Jepang. Para petani dipimpin H. Madrian menolak pungutan padi yang terlalu tinggi. Akan tetapi, pada akhirnya perlawanan mereka dipadamkan Jepang.
d.      Perlawanan Peta di Blitar, Jawa Timur.
Perlawanan PETA merupakan perlawanan terbesar yang dilakukan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang.
Perlawanan ini dipimpin Supriyadi, seorang Shodanco (Komandan Pleton). Peta tanggal 14 Februari 1945, perlawanan dipadamkan Jepang karena persiapan Supriyadi dkk kurang matang.
Para pejuang Peta yang berhasil ditangkap kemudian diadili di Mahkamah Militer di Jakarta. Beberapa diantaranya dihukum mati, seperti dr Ismail, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto dan Sudarmo. Supriyadi sebagai pemimpin perlawanan tidak diketahui nasibnya. Kemungkinan besar Supriyadi berhasil ditangkap Jepang kemudian di hukum mati sebelum diadili.
4.      Perubahan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan.
Pada perjalanan sejarah sejak masa kolonialisme VOC, Pemerintah Hindia Belanda, pemerintah Inggris, dan pendudukan Jepang telah terjadi berbagai perubahan pada masyarakat Indonesia. Terjadinya kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan masyarakat Indonesia baik aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan maupun politik.
a.      Perubahan Pada Masa Kolonial Barat.
1.      Perluasan Penggunaan Lahan.
Perkebunan di Indonesia telah berkembang sebelum masa penjajahan. Bangsa Indonesia telah memiliki teknologi turun – menurun untuk mengembangkan berbagai teknologi pertanian. Pada masa penjajahan, terjadi perubahan besar dalam perkembangan perkebunan di Indonesia. Penambahan jumlah lahan untuk tanaman ekspor dilakukan diberbagai wilayah di Indonesia. Bukan hanya pemerintah colonial yang mengembangkan lahan perkebunan di Indonesia, tetapi juga perusahaan – perusahaan swasta.
Pada masa pemerintah colonial Hindia belanda, banyak perusahaan asing yang menanam investasi di Indonesia. Berhektar – hektar hutan dibuka untuk pembukaan lahan perkebunan .
Contoh Saluran Irigasi Bendung Komering 10 (BK 10) di Desa Gumawang, Belitang Madang Raya, kabupaten OKU timur Sumatera Selatan adalah salah satu saluran yang dibangun sejak masa Hindia Belanda. Daerah OKU Timur yang awalnya hutan belantara berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang sangat subur hingga sekarang. Sepanjang aliran irigasi tersebut menjadi lumbung padi Sumatra Selatan hingga kini.
2.      Persebaran Penduduk dan Urbanisasi.
Politik Etis terdiri dari irigasi, transmigrasi dan edukasi. Sejarak transmigrasi Indonesia terutama terjadi pada akhir abad XIX. Tujuan utama transmigrasi pada masa tersebut adalah untuk menyebarkan tenaga kerja murah diberbagai perkebunan di Sumatra dan Kalimantan. Pembukaan perkebunan pada masa colonial barat di Indonesia telah berhasil mendorong persebaran penduduk Indonesia.
Munculnya berbagai pusat industry dan perkembangan berbagai fasilitas di kota menjadi daya dorong perkembangan kota – kota. Urbanisasi terjadi hampir di berbagai daerah di Indonesia. Daerah yang awalnya hutan belantara menjadi ramai dan gemerlap karena ditemukannya area pertambangan.
Persebaran penduduk Indonesia tidak sebatas dalam lingkungan nasional, tetapi juga lintas negara. Sebagai bukti adalah adanya Negara Suriname di Amerika Latin, didalamnya banyak terdapat warga keturunan suku Jawa. mereka adalah keturunan Jawa yang hidup turun temurun di Suriname sejak penjajahan Belanda. Mereka bisa sampai di Suriname karena tidak lepas dari kebijakan pemerintah belanda untuk mengirim banyak tenaga kerja ke Suriname yang juga merupakan wilayah jajahan Belanda.
3.      Pengenalan Tanaman Baru.
Pengaruh pemerintah colonial Barat di satu sisi memiliki pengaruh positif dalam mengenalkan berbagai tanaman dan teknologi dalam pertanian dan perkebunan. Beberapa tanaman andalan ekspor dikenalkan dan dikembangkan di Indonesia. Pengenalan tanaman baru sangat bermanfaat dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di Indonesia.
4.      Penemuan Tambang – Tambang.
Pembukaan lahan pada masa colonial Barat juga dilakukan untuk pertambangan minyak bumi, batu bara dan logam. Pembukaan lahan untuk pertambangan ini terutama terjadi pada akhir abad XIX dan awal abad XX.
5.      Transportasi dan Komunikasi.
Pada zaman penjajahan Belanda, banyak dibangun jalan raya, rel kereta api dan jaringan telepon. Pembangunan berbagai sarana transportasi dan komunikasi tersebut mendorong mobilitas barang dan jasa yang sangat cepat. Pada transportasi laut juga dibangun berbagai dermaga di berbagai daerah di Indonesia.
Contohnya proses pembangunan jalur Anyer – Panarukan yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels. Di satu sisi, pembangunan tersebut menimbulkan kesengsaraan rakyat, terutama akibat kerja paksa. Namun di sisi lain, pembangunan jalur tersebut telah mempermudah jalur transportasi dan komunikasi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Pembangunan rel kereta api juga dilakukan di berbagai daerah di jawa dan Sumatra.
6.      Perkembangan Kegiatan Ekonomi.
Perubahan masyarakat dalam kegiatan ekonomi pada masa colonial terjadi baik dalam kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksi dalam pertanian dan perkebunan semakin maju dengan ditemukannya berbagai teknologi pertanian yang bervariasi. Rakyat mulai mengenal tanaman yang tidak hanya untuk dipanen semusim. Pembukaan berbagai perusahaan telah melahirkan berbagai jenis pekerjaan dalam bidang yang berbeda. Sebagai contoh, munculnya kuli – kuli perkebunan, mandor dan administrasi diberbagai perusahaan pemerintah ataupun swasta. kegiatan ekspor – impor juga mengalami kenaikan signifikan pada masa penjajahan Barat. Hal ini tidak lepas dari usaha pemerintah colonial menggenjot jumlah produksi ekspor.
7.      Mengenal Uang.
Pada masa sebelum kedatangan bangsa – bangsa Barat, masyarakat biasanya bekerja secara bergotong – royong. Contohnya dalam mengerjakan sawah, setiap kelompok penduduk akan mengerjakan secara bersama – sama dari sawah satu ke sawah lainnya. Pada masa kekuasaan colonial Barat, uang mulai dikenalkan sebagai alat pembayaran jasa tenaga kerja. Keberadaan uang sebagai barang baru dalam kehidupan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat mulai menyenangi uang karena dianggap lebih mudah digunakan.
8.      Perubahan Dalam Pendidikan.
Terdapat Dua pendidikan yang dikembangkan pada masa pemerintahan colonial Barat.
a.       Pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah.
b.      Pendidikan yang dikembangkan oleh masyarakat.
Pusat – pusat kekuasaan Belanda di Indonesia di berbagai kota di Indonesia menjadi pusat pertumbuhan berbagai sekolah di Indonesia. Banyak sekolah yang telah berdiri sejak zaman penjajahan di kota – kota provinsi di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda juga telah berkembang perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pada masa pemerintahan colonial Barat, terjadi diskriminasi pendidikan di Indonesia. Sekolah dibedakan menjadi dua golongan, yakni sekolah untuk bangsa Eropa dan sekolah untuk penduduk pribumi. Hal ini mendorong lahirnya berbagai gerakan pendidikan di Indonesia. Taman siswa yang berdiri di Yogyakarta merupakan salah satu pelopor gerakan pendidikan modern di Indonesia. Sekolah – sekolah yang dipelopori berbagai organisasi pergerakan nasional tumbuh pesat pada awal abad XX.
Pengaruh pendidikan modern berdampak pada perluasan lapangan kerja pada masyarakat Indonesia. Munculnya elite intelektual memunculkan jenis pekerjaan baru, seperti guru, administrasi, pegawai pemerintah, dsb.
9.      Perubahan Dalam Aspek Politik.
Kejayaan kerajaan – kerajaan pada masa sebelum kedatangan bangsa Barat satu persatu mengalami kemerosotan bahkan keruntuhan. Pada masa kerajaan, rakyat diperintah oleh raja yang merupakan bangsa Indonesia. Pada masa pemerintahan Kolonial barat, rakyat diperintah oleh bangsa asing. Kekuasaan bangsa Indonesia untuk mengatur bangsanya semakin hilang, digantikan dengan kekuasaan bangsa barat. Perubahan inilah yang paling penting untuk diperjuangkan. Tanpa kemerdekaan, bangsa Indonesia sulit mengatur dirinya sendiri.
Perubahan dalam system politik juga terjadi dengan dikenalnya system pemerintahan baru. Pada masa kerajaan dikenal raja dan bupati, sementara itu pada masa pemerintahan colonial Barat dikenal Gubernur Jenderal, residen, Bupati dan seterusnya. Para penguasa kerajaan menjadi kehilangan kekuasaannya, digantikan dengan kekuasaan pemerintahan colonial Barat.
Terbentuknya pemerintahan Hindia Belanda di satu sisi menguntungkan bangsa Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda yang terpusat menyebabkan hubungan yang erta antara rakyat Indonesia dari berbagai daerah. Muncul perasaan senasib dan sepenanggungan dalam bingkai Hindia Belanda.
Munculnya berbagai organisasi pergerakan tidak lepas dari ikatan politik Hindia belanda. Sebelum masa penjajahan Hindia belanda, masyarakat Indonesia terkotak – kotak oleh system politik kerajaan. Terdapat puluhan kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, berbagai daerah tersebut disatukan dalam satu identitas, yaitu Hindia belanda.
10.  Perubahan Dalam Aspek Budaya.
Berbagai perubahan budaya pada masa penjajahan Belanda adalah dalam seni bangunan, tarian, cara berpakaian, bahasa dan Teknologi.
Seni Bangunan dengan Gaya Eropa dapat ditemukan diberbagai kota di Indonesia. Masa penjajahan belanda berpengaruh terhadap teknologi dan seni bangunan di Indonesia. teknologi bangunan modern dikenalkan bangsa barat diberbagai wilayah di Indonesia.
Perubahan kesenian juga terjadi terutama di masyarakat perkotaan yang mulai mengenal tarian – tarian barat. Kebiasaan dansa dan minum minuman yang dikenalkan para pejabat Belanda berpengaruh pada perilaku sebagian masyarakat Indonesia.
Dalam aspek budaya juga terjadi perubahan kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Pengaruh colonial yang lain adalah penyebaran agama Kristen di Indonesia.
Agama Kristen diprediksi sampai di Indonesia sejak zaman kuno melalui jalur pelayaran. Menurut Cosmas Indicopleustes dalam bukunya “ Topographica Christiana”, pada abad VI sudah ada komunitas Kristiani di India Selatan, di Pantai Malabar dan di Srilanka. Dari Malabar itu, agama Kristen menyebar ke berbagai daerah. Pada tahun 650, agama Kristen sudah mulai berkembang di Kedah (di Semenanjung Malaya) dan sekitarnya. Pada abad IX, kedah berkembang menjadi pelabuhan dagang yang sangat ramai di jalur pelayaran yang menghubungkan India – Aceh – Barus – Nias melalui Selat Sunda – laut jawa dan selanjutnya ke Tiongkok. Jalur inilah disebut – sebut sebagai jalur penyebaran agama Kristen dari India ke Nusantara.
Penyebaran Agama Kristen menjadi lebih intensif lagi seiring dengan datangnya bangsa – bangsa Barat ke Indonesia pada abad XVI. Kedatangan bangsa – bangsa barat itu semakin memantapkan dan mempercepat penyebaran Agama Kristen di Indonesia. Orang – orang Portugis menyebarkan agama Kristen katolik. Orang – orang Belanda membawa Agama Kristen Protestan.
Penyebar Agama Kristen di Indonesia adalah para pastor seperti Fransiskus Xaverius dari Ordo Serikat Yesus. Pastor ini aktif mengunjungi desa – desa di sepanjang pantai Leitimor, kepulauan Lease, Pulau Ternate, Halmahera Utara dan Kepulauan Morotai. Usaha penyebaran agama Katolik ini kemudian dilanjutkan oleh pastor – pastor yang lain. Selanjutnya di Nusa tenggara Timur, seperti Flores, Solor, Timor, agama Katolik berkembang dengan baik sampai sekarang.
Agama Kristen Protestan berkembang di Kepulauan Maluku terutama setelah VOC menguasai Ambon, yang dipelopori Zending. Penyebaran Agama Kristen ini juga semakin intensif saat Raffles berkuasa di Indonesia. Agama Katolik dan kemudian juga Kristen Protestan berkembang pesat di Indonesia bagian timur.
Pengaruh lainnya dalam bidang budaya adalah pakaian, bahasa, makanan dan jenis pekerjaan baru. Pakaian gaya Eropa tidak hanya berpengaruh dalam lingkungan keratin, tetapi juga masyarakat luas.
b.      Perubahan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Jepang.
1.      Perubahan Dalam Aspek Geografi.
Adanya eksploitasi kekayaan alam menjadi ciri penting pada masa pendudukan Jepang. Misi untuk memenangkan Perang Dunia II mendorong Jepang menjadikan Indonesia sebagai salah satu basisnya menghadapi tentara Sekutu. Jepang banyak membutuhkan dukungan dalam menghadapi PD II. Lahan perkebunan yang ada pada masa Hindia Belanda merupakan lahan yang menghasilkan untuk jangka waktu lama. Jepang menggerakkan tanaman rakyat yang mendukung Jepang dalam Perang Dunia II. Tanaman Jarak dikembangkan sebagai bahan produksi minyak yang dibutuhkan sebagai mesin perang.
Kesengsaraan pada masa pendudukan Jepang menyebabkan besarnya angka kematian. Migrasi terjadi terutama untuk mendudkung perang Jepang menghadapi Sekutu. Banyak rakyat Indonesia yang ikut dalam Romusha ataupun membantu pasukan Jepang di beberapa negara Asia Tenggara untuk membantuperang jepang. Sebagian dari mereka tidak kembali atau tidak diketahui nasibnya. Menurut catatan sejarah, jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri seperti Burma, Malaya, Vietnam dan Muangthai / Thailand mencapai 300.000 orang. Ratusan ribu orang tersebut banyak yang tidak diketahui nasibnya setelah Perang Dunia II usai.
2.      Perubahan Dalam Aspek Ekonomi.
Sistem ekonomi perang Jepang membawa kemunduran dalam bidang perekonomian di Indonesia. Putusnya hubungan dengan perdagangan dunia mempersempit kegiatan perekonomian di Indonesia. Perkebunan tanaman ekspor diganti menjadi lahan pertanian untuk kebutuhan sehari – hari.
Pembatasan ekspor menyebabkan sulitnya memperoleh bahan pakaian. Maka, rakyat Indonesia pun mengusahakannya sendiri. Pakaian yang terbuat dari benang goni menjadi tren pada masa pendudukan Jepang.
Wajib setor padi dan tingginya pajak pada masa pendudukan Jepang menyebabkan terjadinya kemiskinan luar biasa. Angka kematian sangat tinggi. Sebagai contoh, di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah angka kematian mencapai 50 %. Kematian yang luar biasa berdampak pada penyakit – penyakit sosial lainnya. Gelandangan, pengemis, kriminalitas, semakin berkembang akibat lemahnya kekuatan ekonomi rakyat.
3.      Perubahan Dalam Aspek Pendidikan.
Kegiatan pendidikan dan pengajaran menurun. Sebagai contoh, gedung sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 buah, Gedung sekolah lanjutan menurun dari 850 menjadi 20 buah. Kegiatan perguruan tinggi macet. Sementara itu, pengenalan budaya Jepang dilakukan diberbagai sekolah di Indonesia. Bahas Indonesia dapat menjadi bahasa pengantar diberbagai sekolah di Indonesia. Adapun bahasa Jepang menjadi bahasa utama di sekolah – sekolah.
Tradisi budaya Jepang dikenalkan di sekolah – sekolah mulai tingkat rendah. Para siswa harus digembleng agar bersemangat Jepang (Nippon Seshin). Para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo (Lagu kebangsaan Jepang) dan lagu – lagu lain, menghormati bendera Hinomura serta melakukan gerak badan (taiso) dan Seikerei.
4.      Perubahan Dalam Aspek Politik.
Propaganda Jepang berhasil mempengaruhi masyarakat Indonesia. Dengan alasan untuk membebaskan Indonesia dan penjajahan Belanda, Jepang mulai mendapat simapti rakyat. Dengan kebijakan yang kaku dank eras, secara politik organisasi pergerakan yang pernah ada sulit mengembangkan aktivitasnya. Bahkan, jepang melarang dan membubarkan semua organisasi pergerakan politik yang pernah ada di masa colonial belanda. Hanya MIAI yang kemudian diperbolehkan hidup karena organisasi ini dikenal sangat anti budaya barat (Belanda). Kompetisi selalu memata – matai gerak – gerik organisasi pergerakan nasional. Akibatnya, muncul gerakan – gerakan bawah tanah.
Jepang berusaha mendapatkan simpati dan dukungan rakyat dan tokoh – tokoh Indonesia atas kekuasaannya di Indonesia. Akibatnya, hal ini menimbulkan beragam tanggapan dari para tokoh pergerakan nasional. kelompok pertama adalah kelompok yang masih mau bekerja sama dengan jepang, tetapi tetap menggelorakan pergerakan nasional. Para tokoh ini adalah mereka yang muncul dalam berbagai organisasi bentukan jepang. Adapun kelompok kedua adalah mereka yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah jepang dan melakukan gerakan bawah tanah.
Pada masa akhir pendudukan Jepang, terjadi revolusi politik di Indonesia, yakni kemerdekaan Indonesia. Peristiwa proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi momen penting perjalanan sejarah Indonesia selanjutnya. Kemerdekaan telah membawa perubahan masyarakat dalam segala bidang.
5.      Perubahan Dalam Aspek Budaya.
Jepang berusaha “Menjepangkan” Indonesia. Ajaran Shintoisme diajarkan pada masyarakat Indonesia. Kebiasaan menghormat matahari dan menyanyikan lagu Kimigayo merupakan salah satu pengaruh pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya ini menimbulkan perlawanan masyarakat pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya ini menimbulkan perlawanan di berbagai daerah.
Perkembangan Bahasa Indonesia pada masa pendudukan jepang mengalami kemajuan. Pada tanggal 20 Oktober 1943, atas desakan dari beberapa tokoh Indonesia, didirikanlah Komisi (Penyempurnaan) Bahasa Indonesia. Tugas Komisi adalah menentukan istilah – istilah modern dan menyusun suatu tata bahasa normative serta menentukan kata – kata yang umum bagi bahas Indonesia.

Comments