Zat Aditif dan Zat Adiktif (Materi IPA Terpadu SMP Kelas 8 - Halaman 210 s/d 242)


Zat Aditif dan Zat Adiktif (Materi IPA Terpadu SMP Kelas 8 - Halaman 210 s/d 242) 

Tuhan telah menganugerahkan nikmat yang berlimpah kepada manusia. Rahmat – Nya tersebar luas di seluruh alam semesta ini. Tuhan telah memberi makanan, minuman, kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita mampu melakukan aktivitas sehari – hari. Tuhan memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan tidak bertentangan dengan aturan agama, agar kita terhindar dari berbagai penyakit. Makanan yang baik dapat ditinjau dari cara mendapatkannya, kandungan gizi dan dampaknya terhadap tubuh. Makanan dan minuman yang diperoleh dari cara yang salah, nantinya juga akan berdampak buruk bagi tubuh kita. Begitu juga makanan dan minuman yang mengandung zat berbahaya, misalnya zat tambahan seperti pewarna, perasa, pemanis buatan tertentu bila dimakan secara berlebihan dapat berdampak buruk pada tubuh kita.
Ketika memilih makanan, seseorang akan mudah tertarik karena rasanya yang enak, warna yang menarik, aroma yang meggugah selera atau kemasannya yang menawan. Agar memenuhi tujuan tersebut, pembuat makanan menambahkan zat – zat tertentu. Zat – zat tersebut disebut Zat Aditif. Penambahan zat – zat tertentu kedalam makanan ada yang menguntungkan, tetapi ada juga yang merugikan atau membahayakan. Oleh sebab itu, ketika memilih makanan dan minuman, harus memperhatikan zat tambahan yang terkandung didalamnya.
Selain zat pewarna, pemanis dan penyedap khususnya dalam makanan dan minuman, ada pula zat – zat dalam makanan dan minuman yang harus dihindari, misalnya Alkohol. Zat – zat yang dapat menyebabkan orang menjadi ketagihan disebut zat Adiktif.
A.    Zat Aditif. 
Zat Aditif merupakan bahan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan atau minuman dalam jumlah kecil saat pembuatan makanan. Penambahan zat aditif bertujuan untukmemperbaiki penampilan, cita rasa, tekstur, aroma dan untuk memperpanjang daya simpan. Selain itu, Penambahan zat aditif juga dapat meningkatkan nilai gizi makanan dan minuman seperti penambahan protein, mineral dan vitamin.
Berdasarkan fungsinya, zat Aditif pada makanan dan minuman dapat dikelompokkan menjadi pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, pemberi aroma, pengental dan pengemulsi. Berdasarkan asalnya, zat aditif pada makanan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Zat Aditif Alami dan Zat aditif buatan.
Zat Aditif Alami adalah zat aditif yang bahan bakunya berasal dari makhluk hidup, misalnya zat pewarna dari tumbuhan, penyedap dari daging hewan, zat pengental dari alga, dan sebagainya. Zat – zat alami ini pada umumnya tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia. Sebaliknya Zat Aditif Buatan bila digunakan melebihi jumlah yang diperbolehkan dapat membahayakan kesehatan. Zat Aditif buatan diperoleh melalui proses reaksi kimia yang bahan baku pembuatannya berasal dari bahan – bahan kimia. misalnya bahan pengawet dari asam benzoate, pemanis buatan dari sakarin, pewarna dari tartrazine dan lainnya. Zat aditif buatan harus digunakan sesuai dengan jumlah yang diperbolehkan dan sesuai fungsinya. Penyalahgunaan pewarna buatan seperti bahan pewarna tekstil yang digunakan sebagai pewarna makanan sangat berbahaya untuk kesehatan.
1.      Pewarna.
Pewarna adalah bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman dengan tujuan untuk memperbaiki atau memberi warna pada makanan atau minuman agar menarik.
Secara alami masyarakat dapat memperoleh warna hijau dari suji dan pandan atau warna merah dari stroberi.
Pada saat ini masyarakat dapat menggunakan pewarna buatan yang mudah dibeli dipasaran. Pewarna alami pada umumnya aman untuk kesehatan, sedangkan bahan pewarna buatan yang pemakaiannya disalahgunakan dapat membahayakan kesehatan.
a.      Pewarna Alami.
Pewarna alami adalah pewarna yang dapat diperoleh dari alam, misalnya dari tumbuhan dan hewan. Banyak bahan – bahan disekitar kita yang dapat dipakai sebagai pewarna alami. Selain memberi warna hijau, daun pandan juga memberi aroma harum pada makanan. Selain daun suji dan daun pandan, stroberi dan buah naga merah juga sering digunakan untuk memberikan warna merah pada makanan.
Pewarna Alami mempunyai keunggulan, yaitu lebih sehat dan tidak menyebabkan efek samping apabila dikonsumsi dibandingkan pewarna buatan. Namun pewarna makanan alami memiliki beberapa kelemahan, yaitu cenderung memberikan rasa dan aroma khas yang tidak diinginkan, warnanya mudah rusak karena pemanasan, warnanya kurang kuat (pucat) dan jenisnya terbatas.
Tabel 5.3 Jenis – Jenis Pewarna Alami
NO
WARNA
BAHAN
1
Ungu
Buah murbei, buah anggur
2
Kuning
Kunyit
3
Oranye
Wortel
4
Hijau
Daun suji, daun pandan
5
Cokelat
Kakao
6
Merah
Buah naga, stroberi
7
Hitam
Arang (tidak dianjurkan).

b.      Pewarna Buatan.
Pewarna Buatan diperoleh melalui proses reaksi (sintesis) kimia menggunakan bahan yang berasal dari zat kimia sintesis. Pewarna pada umumnya mempunyai struktur kimia yang mirip seperti struktur kimia pewarna alami, misalnya apokaroten yang mempunyai warna oranye mirip dengan warna wortel. Beberapa bahan pewarna sintetis dapat menggantikan pewarna alami. Pewarna sintetis ada yang dibuat khusus untuk makanan da nada pula untuk industry tekstil dan cat.
Tabel 5.4 Jenis – Jenis Pewarna Buatan yang Dapat Digunakan dalam Makanan atau Minuman.
NO
WARNA
NAMA BAHAN KIMIA
1
Biru
Brilliant Blue FCF
2
Kuning
Tartrazine
3
Oranye
Sumset Yellow FCF
4
Hijau
Fast Green FCF
5
Merah
Allura Red AC

Saat ini, sebagian besar orang lebih senang menggunakan pewarna buatan untuk membuat aneka makanan dan minuman yang berwarna. Bahan pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan disbanding pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya lebih kuat, jenisnya lebih banyak dan warnanya tidak rusak karena pemanasan. Penggunaan bahan pewarna buatan untuk makanan dan minuman harus melalui pengujian yang ketat untuk kesehatan konsumen. Pewarna yang telah melalui pengujian keamanan dan yang diizinkan pemakaiannya untuk makanan dan minuman dinamakan Permitted colour atau certified colour.
Pewarna buatan sudah digunakan secara luas oleh masyarakat sebagai bahan pewarna dalam peoduk makanan dan minuman. Namun, sebagian masyarakat masih menggunakan bahan pewarna buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Contoh penggunaan pewarna buatan yang tidak sesuai peruntukannya adalah penggunaan pewarna tekstil untuk makanan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Pewarna tekstil dan pewarna cat tidak boleh digunakan sebagai pewarna makanan dan minuman karena pewarna tekstil dan cat biasanya mengandung logam – logam berat, seperti antimony (Sb), arsenic (As), barium (Ba), cadmium (Cd), Kromium (Cr), raksa (Pb), mercuri (Hg), dan selenium (Se) yang bersifat racun bagi tubuh.
Tabel 5.5. Jenis – Jenis Pewarna Buatan yang Dilarang Digunakan dalam Makanan atau Minuman.
NO
WARNA
NAMA BAHAN KIMIA
1
Biru
Indanthrene Blue RS
2
Kuning
Fast Yellow AB, Oil Yellow OB, Auramine, Metanil Yellow
3
Oranye
Orange RN, Orange GGN, Chrysodine
4
Hijau
Guinea Green B
5
Cokelat
Chocolate brown FB
6
Merah
Fast Red E, Ponceau Sx, Rhodamine B
7
Hitam
Black 7984

2.      Pemanis.
Pemanis merupakan bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman sehingga dapat menyebabkan rasa manis pada makanan atau minuman. Bahan pemanis ada dua jenis, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan.
a.      Pemanis Alami.
Pemanis Alami yang umum digunakan untuk membuat rasa manis pada makanan dan minuman adalah gula pasir (sukrosa), gula kelapa, gula aren, gula lontar dan gula bit. Gula tersebut digunakan sebagai pemanis pada makanan dan minuman sesuai dengan keperluan. Penggunaan pemanis alami juga perlu mengikuti takaran tertentu.
b.      Pemanis Buatan.
Pemanis buatan mempunyai rasa manis hampir sama atau lebih manis dibandingkan dengan pemanis alami. Pemanis buatan dibuat melalui reaksi kimia tertentu sehingga dapat dihasilkan senyawa yang mempunyai rasa manis. Pemanis buatan dibuat dengan tujuan sebagai pengganti gula alami. Beberapa contoh pemanis buatan adalah siklamat, aspartame, kalium asesulfan dan sakarin. Pemanis – pemanis ini mempunyai tingkat kemanisan lebih besar dibandingkan dengan gula pasir. Pemanis buatan dapat digunakan untuk menggantikan pemanis alami bagi orang – orang yang tidak diperbolehkan mengonsumsi pemanis alami, seperti penderita kencing manis (diabetes mellitus). Selain itu, pemanis buatan tidak menghasilkan kalori dalam tubuh, sehingga sering digunakan oleh orang yang diet.
Tabel 5.6. Perbandingan Tingkat Kemanisan Pemanis Buatan
NO
NAMA PEMANIS
TINGKAT KEMANISAN DIBANDINGKAN GULA PASIR (SUKROSA)
ASUPAN MAKSIMAL / KG BERAT BADAN
1
Gula pasir
1
30 – 60 mg
2
Siklamat
30 – 50
11 mg
3
Aspartame
160 – 200
40 – 50 mg
4
Kalium asesulfam
200
15 mg
5
Sakarin
200 - 500
5 mg

Penggunaan pemanis buatan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan jumlah yang diperbolehkan dapat membahayakan kesehatan. Oleh sebab itu, bila menggunakan pemanis buatan periksalah aturan pemakaiannya.
3.      Pengawet.
Pengawet adalah zat aditif yang ditambahkan pada makanan atau minuman yang berfungsi untuk menghambat kerusakan makanan atau minuman. Kerusakan makanan dapat disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang tumbuh pada makanan dan minuman. Bahan pengawet mencegah tumbuhnya mikroorganisme sehingga reaksi kimia yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut dapat dicegah, misalnya fermentasi pada makanan dan minuman tersebut. reaksi – reaksi kimia lain juga dapat dicegah oleh adanya pengawet antara lain pengasaman, oksidasi, pencokelatan (browning) dan reaksi enzimatis lainnya. Contoh bahan pengawet dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Bahan Pengawet dan Penggunaannya.
NO
NAMA BAHAN PENGAWET
PENGGUNAAN
1
Asam benzoate, natrium benzoate dan kalium benzoate
Mengawetkan makanan dan minuman ringan, kecap dan saus
2
Asam askorbat
Mengawetkan daging olahan, kaldu dan buah dalam kaleng
3
Natrium nitrat (NaNO)
Mengawetkan daging olahan dan keju
4
Asam propionate
Mengawetkan roti dan keju olahan
5
Butil hidroksianisol (BHA)
Menghambat oksidasi pada lemak dan minyak
6
Butil hidroksitoluen (BHT)
Menghambat oksidasi pada lemak, minyak, margarin dan mentega.

Pengawetan bahan makanan atau minuman dengan memberikan zat aditif seperti pada tabel diatas merupakan cara pengawetan secara kimia. Cara lain mengawetkan makanan adalah dengan cara pengasinan atau pemanisan. Misalnya ikan asin, manisan buah atau daging panggang dapat awet secara alami. Metode pengawetan lain adalah dengan cara fisik misalnya dengan pemanasan, pendinginan, pembekuan, pengasapan, pengeringan dan penyinaran.
4.      Penyedap.
Penyedap makanan adalah bahan tambahan makanan yang digunakan untuk meningkatkan cita rasa makanan. Adapun bahan penyedap alami yang umum digunakan adalah garam, bawang putih, bawang merah, cengkeh, pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar, sereh dan kayu manis. Pada makanan berkuah, kaldu dari daging dan tulang pada umumnya digunakan sebagai penyedap.
Selain penyedap alami, juga terdapat penyedap buatan. Penyedap buatan yang umum digunakan pada makanan adalah vetsin yang mengandung senyawa monosodium glutamate (MSG) atau mononatrium glutamate (MNG). Senyawa ini dibuat dari fermentasi tetes tebu dengan bantuan bakteri Micrococcus glutamicus. Banyak ahli kesehatan berpendapat bahwa bahwa penggunaan MSG yang berlebihan dapat menimbulkan penyakit yang dikenal dengan nama Sindrom Restoran Cina (Chinese Restaurant Syndrome) dengan gejala pusing, mulut terasa kering, lelah, mual atau sesak napas. Dosis maksimal penggunaan MSG yang ditetapkan oleh WHO adalah 120 mg / kg berat badan. Misalnya, berat badanmu 40 kg, maka jumlah MSG maksimal yang dapat dikonsumsi sebesar 480 mg (0,48 g)
5.      Pemberi Aroma.
Pemberi aroma adalah zat yang memberikan aroma tertentu pada makanan atau minuman. Penambahan zat pemberi aroma dapat menyebabkan makanan atau minuman memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Zat pemberi aroma dapat berasal dari bahan segar atau ekstrak dari bahan alami, diantaranya adalah ekstrak buah nanas, ekstrak buah anggur, minyak atsiri dan vanili. Beberapa kue menggunakan murbei sebagai pemberi aroma.
Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetis atau disebut dengan essen, misalnya amil kaproat (aroma apel), amil asetat (aroma pisang ambon), etil butirat (aroma nanas), vanillin (aroma vanili) dan metil antranilat (aroma buah anggur) disebut pemberi aroma sintetis.
6.      Pengental.
Pengental adalah bahan tambahan yang digunakan untuk menstabilkan, memekatkan atau mengentalkan makanan yang dicampurkan dengan air, sehingga membentuk kekentalan tertentu. Bahan pengental alami misalnya pati, gelatin, gum, agar – agar dan alginate. agar kuah dari capcai kental biasanya dalam memasak capcai diberikan larutan pati. selain pada capcai, pengental biasa ditambahkan pada pembuatan permen karet yang umumnya menggunakan pengental gum.
7.      Pengemulsi.
pengemulsi adalah bahan tambahan yang dapat mempertahankan penyebaran (dispersi) lemak dalam air dan sebaliknya. Minyak dan air tidak saling bercampur, namun bila ditambahkan sabun, kemudian diaduk keduanya dapat dicampur. sabun dalam contoh tersebut disebut sebagai zat pengemulsi. Contoh zat pengemulsi makanan adalah Lesitin yang terkandung dalam kuning telur maupun dalam kedelai. Lesitin banyak digunakan dalam pembuatan mayones dan mentega. Apabila tidak ditambahkan zat pengemulsi, lemak dan air pada mayones dan mentega akan terpisah.
B.     Zat Adiktif.
Zat Adiktif adalah zat – zat yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan ketergantungan (adiksi) atau ingin menggunakannya secara terus – menerus (ketagihan). Zat Adiktif alami yang biasa dikonsumsi  adalah kafein yang ada dalam kopi dan Theine yang ada didalam teh. Setelah minum kopi, biasanya orang akan merasa lebih segar disebabkan oleh kerja kafein. Kita sering mendengar bahwa orang yang terbiasa minum kopi, kemudian tidak minum kopi akan merasa pusing. Gejala itu menunjukkan seseorang mengalami ketergantungan. Selain kafein, masih banyak zat adiktif lainnya. Zat adiktif dapat dikelompokkan menjadi tiga (3), yaitu narkotika, psikotroika dan zat psiko – aktif lainnya.
1.      Jenis – Jenis Zat Adiktif.
a.      Narkotika.
Narkotika merupakan zat berbahaya yang tidak boleh digunakan tanpa pengawasan dokter. Penggunaan narkotika tanpa pengawasan dokter adalah melanggar hukum. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri dan menyebabkan ketergantungan bagi penggunanya.
Narkotika dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan berdasarkan potensi dalam menyebabkan ketergantungan.
1.      Narkotika Golongan I.
Narkotika golongan I sangat berbahaya karena berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan. narkotika ini tidak digunakan dalam pengobatan. Misalnya heroin / putaw, kokain dan ganja.
2.      Narkotika Golongan II.
Narkotika golongan II, berpotensi tinggi dalam menyebabkan ketergantungan dan dapat digunakan sebagai pilihan terakhir dalam pengobatan. Misalnya, morfin, petidin dan metadon. Kemasan morfin dan metadon digunakan dalam medis. Barang ini tidak boleh dibeli dan digunakan tanpa resep dan pengawasan dokter.
3.      Narkotika Golongan III.
Narkotika golongan III, berpotensi ringan dalam menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam pengobatan. Misalnya kodein.
Penggunaan narkotika sangat berbahaya bagi kesehatan sehingga penyalahgunaan narkotika dapat merusak masa depan generasi muda. Hindarilah dan jauhi zat – zat yang terkait dengan narkotika.
b.      Psikotropika.
Narkotika dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran dan ketergantungan. Zat lain yang juga berbahaya adalah psikotropika. zat ini merupakan obat yang berkhasiat psiko – aktif yang mempengaruhi mental dan perilaku seseorang. Misalnya orang yang sulit tidur, bila meminum obat tidur (golongan psikotropika) dapat menyebabkan tidur nyenyak. Oleh sebab itu penggunaan psikotropika harus sesuai dengan resep dokter.
Psikotropika dapat dikelompokkan menjadi empat (4) golongan berdasarkan potensi dalam menyebabkan ketergantungan.
1.      Psikotropika Golongan I.
Psikotropika Golongan I, berpotensi sangat kuat menyebabkan ketergantungan dan tidak dapat digunakan sebagai obat. Misalnya, ekstasi / MDMA (metil dioksi metamfetamin), LSD (Lysergic acid diethylamide), dan STP / DOM (dimetoksi alpha dimetilpenetilamina)
2.      Psikotropika Golongan II.
Psikotropika Golongan II, berpotensi kuat menyebabkan ketergantungan dan sangat terbatas digunakan sebagai obat. Misalnya amfetamin, metamfetamin, fenisiklidin, dan Ritalin.
3.      Psikotropika Golongan III.
Psikotropika Golongan III, berpotensi sedang menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan sebagai obat. misalnya Pentobarbital dan Flunitrazepam.
4.      Psikotropika Golongan IV.
Psikotropika Golongan IV, berpotensi ringan dalam menyebabkan ketergantungan dan sangat luas digunakan sebagai obat. Misalnya diazepam, klobazam, fenobarbital, barbital, klorazepam dan nitrazepam.
c.       Zat Psiko – Aktif Lainnya.
Selain narkotika dan psikotropika terdapat zat atau obat lain yang berpengaruh terhadap kerja system saraf pusat jika disalahgunakan atau dikonsumsi dalam jumlah besar dan dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Beberapa contoh zat psiko – aktif selain narkotika dan psikotropika misalnya alcohol, nikotin dan kafein.
Jenis alcohol yang banyak digunakan yaitu etanol (C2H5OH). Zat ini dapat diperoleh secara alami melalui fermentasi glukosa dengan ragi (saccharomyces cerevisiae). Bila seseorang meminum minuman beralkohol, maka kandungan alcohol dalam darahnya akan tinggi, menyebabkan orang itu mabuk dan mengalami penurunan kesadaran. Oleh karena itu, orang yang mabuk tidak boleh mengendarai kendaraan. Selain Etanol, salah satu jenis alcohol yaitu methanol yang biasa digunakan pada industry sebagai pelarut zat tertentu. Dalam kehidupan sehari – hari methanol dikenal juga dengan nama spiritus. Zat ini sangat beracun dan bila terminum dapat memutuskan saraf mata, sehingga orang dapat menjadi buta atau bahkan meninggal dunia.
Nikotin terdapat dalam daun tembakau. daun tembakau ini biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan rokok. Akibatnya, orang yang merokok dapat lebih tahan kantuk atau lebih aktif. namun demikian, merokok berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan kanker tenggorokan dan kanker paru – paru.
Kafein merupakan zat yang secara alami terdapat dalam kopi. Selain ditemukan dalam kopi, kafein juga ditemukan pada teh dan dikenal dengan nama Theine namun kadarnya tidak sebanyak kafein dalam kopi. Meskipun kafein merupakan zat psiko – aktif, namun tidak ada larangan dalam penggunaannya. Umumnya kopi dikonsumsi dengan tujuan agar tidak mengantuk. Hal ini disebabkan karena kafein merupakan stimulus yang mampu meningkatkan kerja otak. Mengonsumsi kopi tidak dilarang, tetapi tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara berlebihan.
2.      Dampak Penggunaan Zat Adiktif bagi Kesehatan.
Banyak sekali dampak buruk yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif terhadap kesehatan, diantaranya :
a.      Dampak Penggunaan Narkotika.
Penggunaan heroin, morfin, opium dan kodein dalam jangka pendek dapat menghilangkan rasa nyeri, ketegangan berkurang, rasa nyaman, diikuti perasaan seperti mimpi dan mengantuk. penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan, meninggal karena overdosis, menyebabkan sembelit, gangguan siklus menstruasi dan impotensi. Jika dalam penggunaannya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, maka dapat tertular berbagai jenis penyakit berbahaya seperti hepatitis dan HIV / AIDS.
Efek jangka pendek penggunaan ganja yaitu akan timbul rasa cemas dan gembira menjadi satu, banyak bicara, tertawa terbahak – bahak, halusinasi, berubahnya perasaan waktu (lama dikira sebentar) dan ruang (jauh dikira dekat), peningkatan denyut jantung, mata merah, mulut dan tenggorokan kering. Penggunaan ganja dalam jangka panjang dapat menyebabkan daya pikir berkurang, motivasi belajar turun drastic, perhatian ke lingkungan sekitar berkurang, radang paru – paru, daya tahan tubuh menurun dan gangguan system peredaran darah. Efek jangka pendek penggunaan kokain yaitu rasa percaya diri meningkat, banyak bicara, rasa lelah hilang, kebutuhan tidur berkurang dan halusinasi penglihatan serta perabaan. Efek jangka panjang yaitu kurang gizi, anemia, kerusakan pada hidung dan gangguan jiwa.
b.      Dampak Penggunaan Psikotropika.
Penggunaan ekstasi (metilen dioksi metamfetamin / MDMA) dan sabu (metamfetamin) dalam jangka pendek dapat menyebabkan terjaga (tidak tidur), rasa riang, perasaan melambung, rasa nyaman dan meningkatkan keakraban. namun setelah itu akan timbul rasa tidak enak, murung, nafsu makan hilang, berkeringat, rasa haus, badan gemetar, jantung berdebar dan tekanan darah meningkat. Dalam jangka panjang dapat menyebabkan kurang gizi, anemia, penyakit jantung, gangguan jiwa (Psikotik) dan pembuluh darah di otak dapat pecah sehingga mengalami stroke atau gagal jantung yang mengakibatkan kematian.
Setelah menggunakan obat nipam / nitrazepam dalam dosis tertentu, seseorang akan merasa tenang dan otot – otot mengendur. Jika dosis penggunaannya tinggi, maka dapat menyebabkan gangguan bicara, gangguan persepsi dan jalan sempoyongan. jika dosis lebih tinggi lagi akan dapat menyebabkan penghambatan pada pernapasan, koma dan kematian.
c.       Dampak Penggunaan Zat Psiko – Aktif lainnya. 
Inhalansia dapat menyebabkan kematian mendadak akibat kekurangan oksigen atau karena ilusi, halusinasi dan persepsi yang salah (misalnya merasa dapat terbang sehingga orang yang mengonsumsi terjun dari tempat tinggi). Penggunaan inhalansia jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak, paru – paru, ginjal dan jantung.
Alkohol yang masuk kedalam tubuh akan masuk kedalam pembuluh darah, menuju otak dan menekan kerja otak. Akibat jangka pendek dari mengonsumsi alcohol yaitu mabuk, jalan sempoyongan, menyebabkan keinginan untuk merusak dan dapat menyebabkan kecelakaan akibat mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk. Dalam jangka panjang alcohol dapat merusak hati, merusak kelenjar getah lambung, kerusakan system saraf, menyebabkan gangguan jantung dan meningkatkan risiko kanker. Ibu hamil pecandu alcohol akan melahirkan bayi yang cacat.
Selain nikotin, dalam rokok juga terdapat sekitar 4.000 senyawa, termasuk tar dan karbon monoksida (CO) yang berbahaya bagi tubuh. Senyawa – senyawa ini dapat menyebabkan kanker paru, penyempitan pembuluh darah, penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan impotensi.
C.    Upaya Pencegahan Diri dari Bahaya Narkoba.
Istilah narkoba banyak digunakan oleh penegak hukum dan masyarakat pada umumnya. Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Obat Terlarang, yang sebenarnya merupakan zat adiktif. Namun tidak semua zat adiktif adalah narkoba, misalnya Kafein, alcohol, dan nikotin. Banyak orang yang menderita akibat terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, kita harus mampu menjaga diri dari bahaya narkoba. Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya narkoba adalah sebagai berikut :
1.      Mengenal dan menilai diri sendiri.
Mengenal dan menilai diri sendiri berarti kamu menyadari akan kelemahan dan kekuatan, kekurangan dan kelebihan dan cita – cita atau tujuan hidup yang ingin kamu capai. dengan lebih mengenal diri sendiri, kamu akan dapat lebih mudah mengarahkan perilakumu untuk mencapai tujuan hidup yang telah kamu tetapkan dan mencegah diri dari perilaku yang membuatmu tidak dapat meraih tujuan hidupmu.
2.      Meningkatkan harga diri.
Harga diri adalah suara hatimu yang menunjukkan bahwa kamu adalah seorang yang istimewa dan berharga serta mampu mencapai cita – cita. Harga diri merupakan dasar dalam proses belajar, membangun kreativitas, tanggung jawab dan hubungan positif dengan orang lain. Harga diri seseorang dapat tinggi atau rendah tergantung pada pengalaman, perilaku dan interaksinya dengan orang lain. Orang yang memiliki harga diri yang rendah akan cenderung merendahkan dirinya sendiri, percaya bahwa ia tidak dapat menjadi lebih baik, menghindari hubungan dengan orang lain, gelisah dan suka menyendiri yang mengakibatkan ia mudah untuk dipengaruhi orang lain, termasuk dipengaruhi untuk mengonsumsi narkoba. Oleh karena itu, penting bagimu untuk memiliki harga diri yang kuat. Orang yang memiliki harga diri yang tinggi, yang bangga dengan hasil karya sendiri maupun hasil kolaborasi dengan teman, mampu bertindak mandiri, mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik, berani menghadapi tantangan dengan penuh semangat dan mau membantu orang lain. 
3.      Meningkatkan rasa percaya diri.
Percaya diri adalah gambaran keyakinan, keberanian, cara pandang, pemikiran dan perasaan tentang dirinya sendiri dalam menghadapi suatu permasalahan. Jika kamu memiliki rasa percaya diri yang baik, kamu akan memiliki dorongan, kekuatan dan keberanian untuk melakukan hal – hal yang positif, seperti siap dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Contoh lainnya yaitu berani berbicara secara rasional untuk mencegah orang lain memanfaatkan dirimu, misalnya dengan berkata “Mohon maaf, saya ada janji’ atau berani menolak tawaran zat atau obat yang tidak kamu ketahui yang mungkin menjerumuskanmu kepada narkoba. Dengan memiliki sikap percaya diri yang tinggi, kamu akan siap menghadapi tantangan untuk meraih cita – citamu.
4.      Terampil mengatasi masalah dan mengambil keputusan.
Kita perlu belajar mengelola perasaan, seperti rasa taku, marah, khawatir, benci, malu, putus asa dan sebagainya sehingga tidak lari dari masalah. Dengan mampu mengelola perasaan, kita akan tetap maju dan menyelesaika masalah yang dihadapi. Dalam menyelesaikan masalah, kita juga harus terampil dalam mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan, kita harus menggunakan pemikiran yang logis mengenai sumber masalah dan alternative pemecahan masalah yang paling tepat dan bijaksana. Kita juga dapat meminta pendapat orang lain, misalnya orangtua jika perlu. Jika keputusan yang diambil kurang tepat atau bahkan gagal, maka jadikan sebagai pelajaran untuk melakukan yang lebih baik.
5.      Memilih pergaulan yang baik dan terampil menolak tawaran narkoba.
remaja memiliki ikatan yang kuat dengan teman sebayanya. Bagi seorang remaja, penerimaan atau diakui oleh kelompok sebayanya sangat penting. Adakalanya, ia berusaha untuk mengikuti hal – hal yang dikerjakan atau diikuti oleh teman – temannya untuk membuat mereka menyukainya, meskipun pada awalnya mungkin juga terdapat tekanan. Banyak remaja yang mulai merokok, minum – minuman keras, bahkan menyalahgunakan narkoba akibat tekanan dari teman. Oleh karena itu, bergaulah dengan teman – teman yang tidak menyalahgunakan narkoba. Selain itu, kita juga harus mampu menolak tawaran atau ajakan dari teman terhadap hal – hal yang negatif, seperti merokok maupun minum – minuman keras, apalagi penggunaan narkoba.
Kita perlu memiliki keberanian dan tekad untuk menolaknya. Belajarlah berkata “Tidak”. Sadarilah bahwa narkoba akan membuat kita semakin terjerumus kepada kesengsaraan. Kita juga harus waspada terhadap teman jika teman memaksa. Jika kita mendapat ancaman segera tinggalkan teman tersebut atau laporkan kepada gurumu.
6.      Terampil sebagai agen pencegahan penyalahgunaan narkoba.
remaja juga merupakan subjek yang penting dan harus terlibat aktif dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Kita dapat membentuk kelompok remaja anti narkoba yang menciptakan pola hidup sehat dan produktif, menjadi contoh positif bagi remaja yang lain, mendukung masyarakat untuk menciptakan lingkungan bebas narkoba, mendorong remaja lain untuk menghindari penyalahgunaan narkoba dan mendorong mereka menolak tawaran menyalahgunakan narkoba, serta membantu teman yang mempunyai masalah narkoba untuk mencari pertolongan.
7.      Menerapkan pola hidup sehat. 
Remaja adalah generasi penerus dan asset bangsa Indonesia yang berharga. Negara Indonesia memerlukan generasi muda yang sehat sehingga dapat tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat yang mampu memajukan negara dan membuat bangsa Indonesia semakin sejahtera. Untuk membentuk generasi muda yang sehat, perlu penerapan pola hidup sehat yang meliputi : 
a.       Mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi.
b.      menghindari makanan siap saji (Junk Food).
c.       Olahraga secara teratur, termasuk mengikuti ekstrakurikuler yang bergerak dalam bidang olahraga.
d.      Istirahat yang teratur dan cukup sehingga dapat mengurangi ketegangan pikiran dan memperbaiki sel – sel tubuh yang rusak.
e.       Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
8.      Memperkuat Iman dan taqwa kepada Tuhan.
Semua agama dan kepercayaan mengajarkan kepada penganutnya untuk melakukan hal – hal yang buruk, termasuk juga narkoba dan obat berbahaya lainnya. Remaja yang memiliki iman (kepercayaan) yang kuat, serta selalu berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan (bertaqwa) dapat mencegah berbagai perilaku kenakalan remaja, termasuk dalam masalah penyalahgunaan narkoba, dibandingkan remaja yang taat dalam kepercayaan atau agamanya. Oleh karena itu, kamu harus selalu berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwa kamu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
9.      Melakukan kegiatan yang positif.
Remaja hendaknya dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan positif yang berguna untuk masa depannya, misalnya dengan mengikuti berbagai ekstrakurikuler di sekolah, ikut organisasi siswa seperti OSIS, UKS, PMR, mengikuti gelar seni budaya dan lain sebagainya. Dengan mengisi waktu luang dengan kegiatan positif dapat membantumu menghindarkan diri dari penyalahgunaan narkoba.
10.  Membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan teman dan keluarga.
membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga juga sangat penting bagi remaja. Luangkanlah waktu bersama – sama keluarga dan lebih terbukalah pada orang tua. Jika kita memiliki masalah, bicarakanlah dengan orang tua. Orang tua tentu akan selalu membimbing atau membantumu menyelesaikan masalahmu. Dengan begitu kita tidak akan terus terbebani sendiri untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.

Comments