Gaya dan Bernyanyi Lagu Daerah (Seni Budaya SMP Kelas 8 – Halaman 32 s/d 49)


Gaya dan Bernyanyi Lagu Daerah (Seni Budaya SMP Kelas 8 – Halaman 32 s/d 49) 

Menyanyi merupakan aktivitas yang sering dilakukan oleh manusia. Aktivitas ini manusia dapat mengungkapkan perasaan melalui nada dan irama serta kata – kata. Ada yang menyanyi dilakukan secara unisono tetapi ada juga yang dilakukan dengan membentuk vocal grup.
A.    Kedudukan dan Fungsi Musik Dalam Tradisi Masyarakat Indonesia.
Penampilan music daerah di Indonesia sering berkaitan dengan music tradisi. penampilan nusik daerah kadang – kadang menyatu dengan pertunjukkan tari, digunakan sebagai pengiring dalam upacara – upacara adat dan sering sebagai ilustrasi pergelaran teater tradisi serta sebagai media hiburan. Musik daerah pada umumnya memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat pendukungnya. Secara umum, music berfungsi sebagai media rekreatif / hiburan untuk menanggalkan segala macam kepenatan dan keletihan dalam aktivitas sosial budaya sehari – hari. Berikut beberapa fungsi music bagi masyarakat.
1.      Sarana Upacara Adat.
Musik daerah bukan objek yang otonom / berdiri sendiri. Musik daerah biasanya merupakan bagian dari kegiatan lain. Di berbagai daerah di Indonesia, bunyi – bunyian tertentu dianggap memiliki kekuatan yang dapat mendukung kegiatan magis. Inilah sebabnya music terlibat dalam berbagai upacara adat. Sebagai contoh, Upacara Merapu di Sumba menggunakan irama bunyi – bunyian untuk memanggil dan menggiring kepergian roh ke Pantai Merapu (Alam Kubur). Begitu pula pada masyarakat Suku Sunda menggunakan music angklung pada upacara Seren Taun (Panen Padi).
2.      Musik Pengiring Tari.
Irama music dapat berpengaruh pada perasaan seseorang untuk melakukan gerakan – gerakan indah dalam tari. Berbagai macam tari daerah yang kamu kenal pada dasarnya hanya dapat diiringi dengan music daerah tersebut. Contoh karya tari diiringi music daerah yaitu Tari Kecak (Bali), Tari Pakarena (Sulawesi), Tari mandalika (Nusa Tenggara Barat), Tari Ngaseuk (Jawa Timur), Tari Mengaup (Jambi), Tari Mansorandat (Papua).
3.      Media Bermain.
Lagu – lagu rakyat (Folksongs) yang tumbuh subur di daerah pedesaan banyak digunakan sebagai media bermain anak – anak. Masih ingatkah permainan dengan lagu ketika di Sekolah Dasar ?. Banyak lagu sering dijadikan nama permainan anak – anak. Contohnya lagu Cublak – Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Ampar – Ampar Pisang dari Kalimantan, Ambil – ambilan dari Jawa Barat, Tanduk Majeng dari Madura, Sang Bangau dan Pok Ame – Ame dari Betawi.
4.      Media Penerangan.
Lagu – lagu dalam iklan layanan masyarakat merupakan contoh fungsi music sebagai media penerangan. Lagu sebagai media penerangan misalnya berisi tentang pemilu, KeluargaBerencana dan ibu hamil, Penyakit AIDS, dll. Selain dalam iklan layanan masyarakat, lagu – lagu yang bernapaskan agama juga menjadi media penerangan, music qasidah, terbangan dan zipin dengan syair – syair lagu dari Al – Qur’an.
B.     Teknik dan Gaya Bernyanyi Dalam Musik Tradisi.
Masyarakat dan suku bangsa asli Papua menari sekaligus bernyanyi dan bermain Tifa yaitu alat music pukul dengan sumber bunyi membrane (alat music gendang masyarakat Papua) dalam kelompok. Stamina mereka tetap terjaga, mereka memakan ulat sagu yang kaya akan protein.
Musik vocal dalam music tradisi di Indonesia amat beragam. Pada masyarakat Sunda di Cianjur dikenal dengan sebutan Mamaos atau Mamaca. Mamaos adalah tembang yang telah lama dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada awalnya mamaos dinyanyikan dikalangan kaum laki – laki. Namun, selanjutnya mamaos juga dinyanyikan oleh kaum perempuan. Banyak kalangan perempuan yang terkenal dalam menyanyikan mamaos, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O’oh, Ibu Resna dan Nyi Mas Saodah.
Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara sunda seperti pantun, beluk (mamaca). Pada suku Bangsa Jawa ada Macapat. Mamaos pantun sering disebut papantunan. Ada Pupuh sering dikenal dengan tembang, ada juga istilah Kawih dan Sekar.
Penyanyi music tradisi amat memperhatikan kesehatan badan dengan mengonsumsi jamu tradisional. Selain itu penyanyi atau pesinden music tradisi mempunyai banyak pantangan dan harus mendekatkan diri pada Sang Khalik, pencipta alam semesta.
Penyanyi music tradisi disebut Pesindhen atau Sindhen (dari bahasa jawa) adalah sebutan bagi perempuan yang bernyanyi mengiringi gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu – satunya. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vocal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.
Pesinden juga sering disebut sinden, menurut Ki Mujoko Joko Raharjo berasal dari kata “Pasindhian” yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana. “Wara” berarti seeorang berjenis kelamin perempuan dan “Anggana” berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana adalah satu – satunya wanita dalam panggung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan (Kliningan). Sinden memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gending yang disajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang.
Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Banyumas, Yogyakarta, Sunda dan Jawa Timur yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sinden tidak hanya tampil sendiri dalam pergelaran tetapi untuk saat ini bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler. Pada pergelaran wayang zaman dulu, Sinden duduk bersimpuh di belakang dalang, tepatnya di belakang pemain gender dan di depan pemain kendang.
C.    Bernyanyi Secara Unisono.
Bernyanyi Unisono adalah bernyanyi satu suara. Banyak masyarakat dari beberapa suku di Indonesia yang hanya terbiasa bernyanyi dalam satu suara, yaitu sesuai dengan melodi pokoknya saja. Lagu daerah yang ada di setiap provinsi merupakan warisan budaya.
Mengenal budaya di setiap daerah tidak harus dengan berkunjung ke daerah tersebut. Banyak yang dapat dipelajari dari sebuah lagu daerah. Kita dapat mengerti bahasa daerah walaupun tidak semahir orang yang tinggal disana. Lagu yang diciptakan di setiap daerah sebagai warisan budaya mengandung nilai – nilai yang baik.
Contoh Lagu daerah tersebut adalah
1.      Pakarena dari Sulawesi Selatan.
2.      Sirih Kuning dari Jakarta.
3.      Ampar – Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan.
4.      Ayam Den Lapeh
5.      Kicir – Kicir dari Jakarta.
6.      Sarinande dari Maluku.
7.      Yamko Rambe Yamko dari Papua Barat.
Lagu daerah kita begitu beragam dan unik ini semua merupakan kekayaan dan kejayaan budaya bangsa Indonesia, termasuk alam dan lingkungannya. Kita harus berjanji untuk menghargai dan melestarikan karena kita cinta Indonesia.
Beerjanjilah untuk mencintai dan menjaga bangsa dan budaya Indonesia. Nyanyikanlah lagu Hymne Indonesia karangan Ulli Sigar Rusadi.

Comments