Macam – Macam Pelanggaran Lalu Lintas dan Sangsinya (Penjaskes SMP Kelas 8 – Halaman 297 s/d 299)


Macam – Macam Pelanggaran Lalu Lintas dan Sangsinya (Penjaskes SMP Kelas 8 – Halaman 297 s/d 299) 

Berbagai pelanggaran kerap dilakukan oleh pengguna jalan raya. Ironisnya, kelalaian tersebut tak jarang merugikan orang lain. Seringkali terjadi kecelakaan yang membuat orang lain terluka atau bahkan tewas.
1.      Menerobos Lampu Merah.
Lampu lalu lintas atau traffic light merupakan sebuah komponen vital pengaturan lalu lintas. Namun ironisnya, pelanggaran terhadap lampu lalu lintas ini justru menempati urutan pertama sebagai jenis pelanggaran yang paling sering dilakukan pengguna kendaraan bermotor. Bagi pelanggarnya dapat dikenakan denda : Rp. 250 ribu.
2.      Tidak Menggunakan Helm.
UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan sudah mengatur mengenai kewajiban pengendara sepeda motor untuk menggunakan helm berstandar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan dalam UU tersebut dengan jelas tertera pula sanksi jika pengemudi tidak mengenakan helm, maka ia bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp. 250 ribu.
3.      Tidak Menyalakan Lampu Kendaraan.
Pasal 107 Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib menyalakan lampu utama Kendaraan Bermotor yang digunakan di Jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.
4.      Tidak Membawa Surat Kelengkapan Berkendara.
Aksi tilang yang dilakukan pihak kepolisian juga sering terjadi terhadap pengendara yang tidak membawa surat – surat berkendara seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) serta Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Bagi pelanggarnya dapat dikenakan denda : Rp. 500 ribu dan SIM Rp. 250 ribu.
5.      Melawan Arus (Contra Flow).
Di kota – kota besar seperti Jakarta, para pengendara sepeda motor acapkali bersikap seenaknya dijalanan dengan “Melawan Arus”. Mereka seolah tutup mata dengan adanya pengendara lain yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Dalam Pasal 287 ayat 1 dan 2 Undang – Undang lalu lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 disebutkan maksimal denda Rp. 1 juta untuk kendaraan roda empat dan Rp. 500 ribu untuk kendaraan roda dua.
6.      Melanggar Rambu – Rambu Lalu Lintas.
Pelanggaran terhadap rambu – rambu lalu lintas acapkali terjadi. Parkir di bawah rambu dilarang parkir serta berhenti di depan tanda larangan stop sudah menjadi aktivitas yang sering dilakukan. Padahal menurut ketentuan pasal 287 ayat 1 UU No. 22 tahun 2009, jenis pelanggaran tersebut bisa terancam hukuman pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp. 500 ribu.
7.      Menerobos Jalur Busway.
Maraknya kecelakaan akibat aksi nekad pengendara yang masuk ke jalur busway juga tidak membuat pengendara lainnya jera. Menurutnya, aturan denda sudah diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas. Pada Pasal 287 ayat 1 dan 2 UU No. 22 / 2009, menerapkan sanksi Rp. 500 ribu untuk roda empat dan dua bagi yang melanggar rambu lain.
8.      Tidak Menggunakan Spion.  
Pentingnya kesadaran menggunakan kaca spion saat berkendara seringkali diabaikan. Padahal kaca spion dapat membantu pengemudi untuk memastikan bahwa kondisi saat itu kondusif untuk membelokkan kendaraan. Hal ini juga berguna untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Berdasarkan Undang – Undang No. 2 tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285 ayat 1, pengendara akan ditilang atau didenda sebesar Rp. 250 ribu jika kendaraannya tidak dilengkapi dengan kaca spion.
9.      Berkendara Melewati Trotoar.
Seyogyanya trotoar merupakan tempat bagi pejalan kaki. Namun nyatanya, hak pejalan kaki juga diserobot oleh para pengendara motor. Dengan tanpa merasa bersalah, mereka mengendarai kendaraannya diatas trotoar sehingga memaksa pejalan kaki untuk mengalah dengan alasan menghindari kemacetan. Menurut UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 131 ayat 1 sudah mengatur bahwa pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung berupa trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain. UU No. 22 / 2009 menegaskan, setiap orang yang mengakibatkan terganggunya fungsi perlengkapan jalan seperti trotoar dan halte, bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 24 juta.
10.  Mengemudi Tidak Konsentrasi (Pakai HP).
Bagi pelanggarnya dapat dikenakan denda : Rp. 50 ribu.
Adapun kriterian penilaian adalah
a.       4 = Selalu.
Apabila selalu melakukan sesuai diharapkan.
b.      3 = Sering.
Apabila sering melakukan sesuai yang diharapkan dan kadang – kadang tidak melakukan.
c.       2 = Kadang – Kadang.
Apabila kadang – kadang, apabila kadang – kadang melakukan dan sering tidak melakukan
d.      1 = Tidak Pernah.  
Apabila tidak pernah melakukan

Comments