Suku Sunda Dalam Kancah Perpolitikan Bangsa Indonesia


Suku Sunda Dalam Kancah Perpolitikan Bangsa Indonesia 

Suku sunda termasuk suku kedua paling banyak di Indonesia. Mungkin Suku Sunda adalah Penganut Agama Islam terbanyak di Indonesia. Disamping itu, Suku Sunda Identik dengan Agama Islam.
Dalam kancah perpolitikan di tanah air, Suku sunda kurang menempati posisi strategis didalam pemerintahan Indonesia. Suku Sunda sebagai suku mayoritas kedua ini bisa dikalahkan atau tersisih oleh suku lainnya yang minoritas. Menurut saya, Suku sunda tak punya Bargaining Power di dalam berbagai hal karena tabiat suku sunda sendiri. Mereka lebih pro terhadap suku lain yang dipandang lebih pantas untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan seperti halnya wakil presiden. Bahkan suku keturunan china yang minoritas seperti Ahok lebih diunggulkan dari pada tokoh – tokoh dari suku sunda. Padahal banyak orang – orang dari Suku Sunda yang memiliki potensi Mumpuni, baik dari segi prestasi, akhlak, kredibilitas dan komitmennya terhadap kemajuan Bangsa Indonesia. Jika Suku Sunda tidak mempunyai keinginan dalam ambisi politik, maka mungkin sampai 1000 tahun lagi pun suku sunda tak akan bisa menjadi wakil presiden karena ikon wilayah barat diwakili oleh suku jawa sebagai presiden sehingga wakil presiden harus diwakili dari luar pulau jawa. Jelas ini merugikan suku sunda. Sulawesi saja yang penduduknya sedikit sudah dua kali mengantarkan putra daerah nya sebagai wakil presiden. Apakah jawa barat / suku sunda harus memisahkan diri dari Indonesia agar memiliki presiden / wakil presiden sendiri ?. Jelas ini akan disebut makar atau teroris. Jadi apa dong solusinya. Mikir we ku sorangan.
Ketika Ada tokoh sunda yang dimunculkan untuk menjadi orang nomor 1 atau 2 di Indonesia, Bukannya mendukung tapi sebaliknya. Orang Sunda sendiri memiliki inisiatif terlebih dahulu menyatakan ketidaksimpatiannya, mencari kesalahan dan kekurangannya bahkan dicaci dan dibully habis – habisan. Sehingga suku lainnya pun yang kurang tahu jadi ikut terpengaruh.
Mungkin sudah kodratnya suku sunda menjadi bawahan. Menerima takdir sebagai pembantu atau jongos. Suku Sunda tak memiliki ambisi politik besar untuk menjadi orang nomor 1 atau 2 di Indonesia. Bisa dibilang Suku Sunda “Teu aya cupat janten pamingpin”. Kartosuwiryo saja pemimpin pemberontakan di wilayah jawa barat berasal dari suku Jawa. Jaman penjajahan Belanda saja, tak ada kisah Tokoh heroic yang mati – matian berjuang melawan penjajahan Belanda dalam arti global. Tokoh Global disini yaitu Pemimpin yang mampu menyatukan dan Mengerahkan seluruh rakyat jawa barat untuk berjuang melawan penjajahan Belanda (Rakyat Jawa Barat secara keseluruhan). Hanya dari Tokoh Suku Jawa lah seperti Soekarno yang mampu menggerakkan hati masyarakat Suku Sunda untuk melawan penjajahan Belanda. Jadi selain tak ada inisiatif untuk memimpin pemberontakan, mereka juga tidak percaya kepada para pemimpinnya sendiri pada saat itu untuk melawan penjajahan. Atau mungkin memang sudah tabiat orang sunda yang ingin cari aman saja biarpun hanya buih dilautan. Dijajah tak masalah. Merdeka Alhamdulillah. Asalkan aman, menjilatpun tak masalah. Ikut saja gimana serunya dan ramainya kondisi politik.
Suku Sunda yang Mayoritas Islam dengan kebimbangan politiknya lebih pro terhadap Partai Nasionalis yang didalamnya banyak orang sekuler dan diluar agama Islam dengan berbagai argumentasi yang seringkali diperdebatkan. Seringkali mayoritas Agama Islam akan diwakili oleh agama minoritas untuk duduk sebagai anggota Dewan yang terhormat (DPR / DPRD) baik dilakukan secara sadar maupun secara tidak sadar karena terpengaruh pemikiran tokoh sekuler yaitu para Tokoh pemimpinnya maupun tokoh ulama sekuler. Mungkin juga mereka terpengaruh opini public dari media elektronik (TV) maupun media massa (Koran, majalah). Itulah kenyataan politik yang mungkin tak bisa diubah sampai kapanpun.
Tak bisa dipungkiri, Memang sangat susah merubah pola perilaku politik seseorang itu kearah keyakinan agamanya karena berbagai hal. Lingkungan keluarga dan lingkungan tempat bergaul / bekerja nya serta kondisi ekonomi dan keimanannya akan berpengaruh terhadap orientasi politik dan keyakinan agamanya.
Saat ini banyak Generasi muda suku sunda mengarah kepada Islam KTP. Islam identitas dengan pemikiran sekuler. Mereka bebas memilih tanpa harus mempertimbangkan untuk memilih pemimpin atau wakil dewan yang beragama Islam. Alasannya adalah negara Indonesia berdasarkan Pancasila, bukan berdasarkan agama tertentu atau agama mayoritas. Memang benar. tapi setidaknya kita juga harus peduli terhadap sesama wakil dewan yang berasal dari suku sunda dan beragama Islam. Generasi muda mulai bersikap hedonism. Pelan tapi pasti, Semakin menjauh dari nilai – nilai agama dan kurang memperhatikan keyakinan agamanya. Terbuai Hedonisme dunia akibat perkembangan teknologi diberbagai bidang kehidupan. Orientasinya berubah menjadi materialism.
Seharusnya Keyakinan Agama harus dijaga dan dijadikan ukuran pertama dan utama. Lihatlah kenyataannya. Konflik dimanapun juga, baik konflik secara fisik maupun konflik urat syaraf selalu condong atau berpihak dan menyangkut agama. Diakui atau tidak. Disadari ataupun tidak. Menurut saya, Fanatik boleh saja asalkan berpegang teguh terhadap keyakinan agamanya masing – masing karena yang akan menyatukan kita diakhirat nanti adalah Agama kita. Orang Islam akan disatukan dengan Orang Islam. Agama lain akan disatukan dengan agama yang dianutnya juga. Dari manapun dia berasal, suku apapun ia berasal. Alternatif pilihan yang paling dapat dipertanggungjawabkan didunia dan diakhirat nanti pada saat dihisab adalah agamanya. Kecuali bagi orang yang tidak percaya dengan adanya akhirat dan hari penghisaban. Ingat !. Didunia hanya sementara, mungkin kita bisa hidup sampai usia 70 tahun atau 80 tahun dan sisanya akan dihabiskan diakhirat selama ratusan juta tahun.
Maukah hanya karena Satu tangan mengantarkan nya masuk neraka karena menjatuhkan pilihan politiknya kepada orang – orang kafir ?.
Maukah Orang Islam (Munafikin) jika di akhirat nanti dikumpulkan dengan orang – orang kafir, karena perilaku di dunia sering membela dan menjatuhkan pilihan politiknya kepada mereka sedangkan kepada Orang Islam sendiri diabaikan bahkan dimusuhi hanya karena pilihan politik yang keliru ?.

Comments