Teknik Bermain Alat Musik Tradisional (Seni Budaya SMP Kelas 8 – Halaman 53 s/d 64)


Teknik Bermain Alat Musik Tradisional (Seni Budaya SMP Kelas 8 – Halaman 53 s/d 64) 

A.    Jenis Musik Tradisi Indonesia.
Musik merupakan bahasa universal. Melalui music orang dapat mengekspresikan perasaan. Musik tersusun atas kata, nada dan melodi yang terangkum menjadi satu. bahasa music dapat dipahami lintas budaya, agama, suku ras dan juga kelas sosial.
Melalui music segala jenis perbedan dapat disatukan. Pada praktiknya, musikalitas seseorang berbeda – beda. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor internal dan juga eksternal. 
1.      Faktor Internal.
Secara internal, musikalitas dipengaruhi oleh bakat dalam dirinya.
2.      Faktor Eksternal.
Faktor ekstrenal lebih ditentukan oleh kesukaan atau kegemaran dan lingkungan tempat tinggal
Di daerah Aceh terdapat music yang disebut dengan Didong. Didong merupakan suatu bentuk kesenian tradisional yang sangat popular di Aceh Tengah. Kesenian ini dilaksanakan secara vocal oleh sejumlah (30 - 40) kaum pria dalam posisi duduk bersila dalam suatu lingkaran. Nyanyian didong diiringi dengan tepuk tangan secara berirama oleh para peserta sendiri. Para pemusik masing – masing memegang sebuah bantal tepok di tangan kiri. Bantal tepok adalah sebuah bantal kecil berisi kapuk dengan ukuran kira – kira 20 x 40 cm dan setebal 4 cm, biasanya dihiasi dengan reramu, semacam rumbai – rumbai berwarna cerah menyala pada pinggirnya. Properti ini biasanya juga menggunakan benang sulaman khas Aceh.
Dengan mengayunkan bantal di tangan kiri secara serempak keatas atau ke depan setiap kali menjelang tepuk tangannya, maka terjadilah suatu permainan gerak yang mengasyikkan dan sekaligus juga meramaikan tontonan kesenian Didong ini. Permainan bantal dengan menyanyi jika ditelisik hampir mirip dengan Saman, perbedaannya hanya terletak pada penggunaan property.
Wayang Cokek merupakan salah satu bentuk pertunjukkan music tradisional di daerah Jakarta atau Betawi. Wayang Cokek berupa kesenian nyanyi dan tari dilakukan oleh pemain – pemain wanita. Pada zaman dahulu, yang menari adalah perempuan – perempuan yang menjadi budak belian. Mereka mengepang rambutnya dan mengenakan baju kurung, lazim dikenakan oleh orang – orang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan dari daerah lain bagian tanah air.
Orkes yang mengiringi bentuk nyanyian dan tarian ini terdiri dari kombinasi sebagai berikut :
1.      Sebuah gambang kayu.
2.      Sebuah rebab.
3.      Sebuah suling.
4.      Sebuah kempul, kadang – kadang ditambah dengang kenong, ketuk, krecek.
5.      Gendang.
Sesuai dengan syair – syair nyanyian pada masa sebelum perang dunia kedua, hingga zaman pendudukan militer Jepang di Indonesia, gaya pengisi sisipan dalam interval – interval frase melodi yang agak panjang, dimana teks atau syair bakunya tidak dapat mengisi secara pararel kekosongan itu, maka sudah biasa penyanyi mengisinya dengan kalimat pendek yang tidak ada sangkut paut langsung dengan tendensi syair, yakni : si Nona disayang, atau Si babah disayang. (sebenarnya kata Babah adalah kata Arab, yang artinya Juragan, Tuan Majikan, sedangkan hababa berart biji mataku sayang).
B.     Teknik Memainkan Alat Musik.
Instrumen music tradisional sangat banyak macamnya. Selain dibagi menurut sumber bunyinya, alat music daerah bisa dipilah – pilah berdasarkan bentuknya, diantaranya :
1.      Bentuk Tabung.
Bentuk tabung merupakan bentuk umum dari alat music yang memakai bahan dasar bamboo. Dalam perkembangannya bahan bamboo tersebut dapat digantikan dengan bahan lain, seperti kayu dan logam. Instrumen yang termasuk dalam bentuk tabung misalnya calung, angklung, kentongan / kulkul, suling / saluang dan guntung. cara memainkan alat ini ada yang dipukul, digoyang atau ditiup.
2.      Bentuk Bilah.
Berbeda dengan bentuk tabung, bentuk bilah ini tidak memiliki rongga. Kekuatan bunyi yang dihasilkan masih perlu didukung oleh perangkat lain yakni wadah gema sebagai ruang resonator. Permukaan bilah dapat berupa bidang rata, dapat pula bidang cembung. Bahkan kadang – kadang berupa irisan dari bentuk tabung. Contoh alat music berbentuk bilah adalah gambang, kolintang, saron dan gender. Cara memainkan alat ini dengan cara dipukul.
3.      Bentuk Pencon.
Istilah pencon berasal dari kata pencu (jawa), yaitu bagian yang menonjol dari suatu bidang datar atau yang dianggap datar. Pencu dimaksudkan sebagai tumpuan pukulan. Baik pencu ke atas maupun ke samping pada umumnya terbuat dari logam.
Di negeri kita, alat music jenis pencon ini terdapat cukup banyak. Yang menarik adalah alat sejenis ditata dengan system nada dan penyusunan yang berbeda – beda pada tiap daerah. Misalnya Bonang (Jawa dan Sunda), tromping (Bali), Kromong (Betawi), Talempong (Minang), Totobuang (Ambon) dan Kangkanong (Banjar). Cara memainkan alat ini dengan cara dipukul. Berikut contoh alat music dan cara memainkannya.
a.      Kentongan (Bentuk Tabung).
Kentongan atau yang dalam bahasa lainnya disebut Jidor adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bamboo atau batang kayu jati yang dipahat. Kegunaan kentongan didefinisikan sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, morse, penanda adzan maupun tanda bahaya. Ukuran kentongan tersebut berkisar antara diameter 40 cm dan tinggi 1,5 m2. Kentongan sering diidentikkan dengan alat komunikasi zaman dahulu yang sering dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di daerah pedesaan dan pegunungan.
Sejarah budaya kentongan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari China yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Penemuan kentongan tersebut dibawa ke China, Korea dan Jepang.
Kentongan sudah ditemukan sejak awal masehi. setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarahnya yang tinggi. Di Nusa Tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyia Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.
Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Di masa sekarang ini, penggunaan kentongan lebih bervariatif cara memainkannya. Kentongan merupakan alat komunikasi zaman dahulu yang dapat berbentuk tabung maupun berbentuk lingkaran dengan sebuah lubang yang sengaja dipahat ditengahnya. Dari lubang, akan keluar bunyi – bunyian apabila dipukul. Kentongan biasa dilengkapi dengan sebuah tongkat pemukul yang sengaja digunakan untuk memukul bagian tengah kentongan untuk menghasilkan satu suara yang khas. Kentongan tersebut dibunyikan dengan irama yang berbeda – beda untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda. Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan oleh kentongan tersebut.
b.      Talempong (Bentuk Pencon).
Talempong adalah sebuah alat music pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrument boning dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan.
Talempong berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 cm, pada bagian bawahnya berlubang.
Pada bagian atas talempong, terdapat bundaran yang menonjol berdiameter 5 cm sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda – beda. Bunyinya dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.
Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan dan Tari Galombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan music menyambut tamu istimewa. Memainkan talempong butuh kejelian dimulai dengan tangga nada do dan diakhiri dengan si.
Talempong biasanya dibawakan dengan iringan akordeon, instrument music sejenis organ yang didorong dan ditarik dengan kedua tangan pemainnya. Selain akordeoan, instrument seperti saluang, gandang, sarunai dan instrument tradisional Minang lainnya juga umum dimainkan bersama talempong. Ada juga beberapa jenis alat music tradisional suku Minangkabau seperti Pupuik daun padi, pupuik tanduak kabau, bansi dan rabab pasisia jo pariaman.
C.    Mengenal Musik Angklung.
Angklung merupakan alat music asli Indonesia yang terbuat dari Bambu dan merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia dan telah diakui secara internasional oleh UNESCO. Angklung tumbuh dan berkembang pada masyarakat suku Sunda digunakan untuk upacara yang berkaitan dengan tanaman padi. Sistem nada angklung pada awalnya berlaraskan pelog, salendro dan madenda. Angklung jenis ini disebut angklung buhun. Kemudian, Pak daeng Soetigna membuat angklung berlaraskan diatonic.
Nada – nada angklung buhun dideskripsikan menjadi Dogdog lonjor memiliki 3 nada, Badud dan badeng memiliki 4 nada dan angklung Buncis memiliki 5 nada. Jenis – jenis angklung tersebut adalah :
1.      Angklung Kanekes.
Angklung ini sering dikenal sebagai angklung badui, digunakan untuk upacara menanam padi. Angklung ini bukan hanya sebatas media hiburan tetapi juga memiliki nilai magis tertentu.
2.      Angklung Gubrag.
Angklung ini berasal dari kampong Cipiding Kecamatan Cigudeg. Juga digunakan untuk menghormati Dewi Padi.
3.      Angklung Dogdog Lonjor.
Angklung ini berasal dari masyarakat Banten Selatan di daerah Gunung Halimun. Digunakan pada upacara Seren taun menghormati Dewi Padi karena panen berlimpah.
4.      Angklung Badeng.
Angklung badeng berfungsi sebagai hiburan dan media dakwah penyebaran Islam, namun sebelumnya di garut tepatnya di Kecamatan Malangbong juga dipakai berhubungan dengan ritual padi.
5.      Angklung Buncis.
Angklung buncis dipakai sebagai media hiburan namun awalnya juga dipakai pada acara ritual pertanian yang juga berhubungan dengan tanaman padi.
D.    Berlatih Angklung.
Angklung yang dikembangkan di sekolah adalah Angklung Padaeng. Angklung Padaeng terdiri dari 2 kelompok besar sebagai berikut :
1.      Angklung Melodi.
Angklung Melodi yaitu angklung yang dipakai untuk membawakan melodi pokok. Angklung ini hanya terdiri dari dua tabung bambu.
2.      Angklung Pengiring.
Angklung Pengiring yaitu angklung yang dipakai sebagai akord mengiringi melodi pokok. Angklung ini terdiri dari tiga atau empat tabung bambu. Angklung yang terdiri dari 3 tabung bambu adalah angklung dalam bentuk trinada misalkan Akord Mayor dan Akord Minor. Sedangkan yang 4 tabung adalah angklung yang merupakan catur nada misalnya untuk dominan septime.
Dalam bermain Angklung tangan kiri digunakan sebagai gantungan, sedangkan tangan kanan untuk menggoyangnya sehingga angklung berbunyi. Peganglah angklung dengan tangan kiri. Tangan kanan ditempatkan pada ujung bagian bawah angklung. Bunyikan sesuai panjang pendek nada dan berhenti jika rangkaian angklung yang lain telah berbunyi agar penampilan music tidak terputus – putus.

Comments