Seni Grafis (Materi Seni Budaya Kelas IX SMP / MTS – Halaman 153 s/d 164)


Seni Grafis (Materi Seni Budaya Kelas IX SMP / MTS – Halaman 153 s/d 164) 

A.    Pengertian Seni Grafis.
Seni grafis termasuk karya seni rupa Dwimatra yang dibuat untuk mencurahkan ide / gagasan dan emosi seseorang dengan menggunakan teknik cetak, sehingga memungkinkan pelipat gandaan karyanya. Istilah seni grafis dikenal juga dengan seni mencetak. Grafis berasal dari bahasa Yunani, “Graphien”, yang berarti menulis atau menggambar. Istilah grafis dari Bahasa Inggris adalah graph atau graphic yang berarti dapat membuat tulisan, lukisan dengan cara ditoreh atau digores. Cetakan yang dimaksud disini adalah berupa Negatif Film yang bisa menciptakan bentuk, gaya, warna ataupun ragamnya yang sama.
Karya seni grafis umumnya dibuat di atas kertas. Pada teknik monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak. Ini yang disebut dengan proses cetak. Seni grafis diciptakan di atas permukaan yang disebut dengan plat (medium cetak). Plat yang dijadikan sebagai media ini meliputi papan kayu, logam, lembaran kaca akrilik, lembaran linoleum atau batu litografi. Seni grafis lain yang disebut dengan cetak saring menggunakan lembaran kain berpori (sreen – printing) yang direntang pada sebuah kerangka.
Sehingga kegiatan mencetak merupakan suatu cara memperbanyak gambar dengan alat cetak / acuan / klise. Alat cetak (klise) tekniknya dengan menggores atau mencukil pada sekeping papan, logam atau bahan lainnya seperti plat logam (kuningan atau alumunium). Hasil cetakan menunjukkan kreatifitas maupun keterampilan penciptanya.
Hasil cukilan diolesi tinta dengan alat rol, kemudian dilekatkan pada selembar kertas dan ditekan / press. Tinta dari acuan melekat pada kertas inilah yang disebut dengan cetak grafis.
Dewasa ini, tidak semua kegiatan mencetak termasuk dalam kategori seni grafis. Sebab, pada zaman sekarang ini, kegiatan mencetak hanya memproduksi gambar / tulisan secara massal yang sering disebut Offset. Kegiatan Offse seperti ini menggunakan percetakan modern. Kegiatan mencetak dengan mesin ini mengacu pada seni pakai, maka berkembanglah sebuah seni mencetak yang mengacu pada seni pakai (Applied Art) yang sebelumnya seni murni (Pure Art).
Seni grafis di Indonesia awalnya merupakan media alternative bagi seniman yang telah mengerjakan bidang lainnya seperti melukis atau mematung. Secara kronologis, seni grafis muncul sekitar tahun 1950 –an, tokohnya adalah Mohtar Apin, Haryadi Suadi dari Bandung, Suromo dan Abdul Salam dari Yogyakarta. Membuat karya dengan teknik cukil kayu (woodcut) dan kebanyakan dari karyanya merupakan poster perjuangan.
B.     Jenis Karya Seni Grafis dan Teknik.
Pembagian jenis grafis dilakukan berdasarkan teknik pembuatannya. Bahan dan alat yang dipakai juga beragam sesuai teknik yang digunakan. Jenis – jenis seni grafis berdasarkan teknik pembuatannya dapat dibedakan sebagai berikut ;
1.      Cetak Tinggi (Teknik Cetak Relief / Teknik Cukil).
Cetak tinggi menggunakan klise / acuan / alat cetak yang akan menghasilkan gambar dari bagian yang menonjol. Apabila alat cetak dioles dengan tinta, bagian yang menonjol itu akan menerima tinta. Jika klise / alat cetak itu ditempelkan pada kertas kemudian diangkat, maka tampaklah gambar pada kertas.
Stempel merupakan salah satu alat untuk mencetak gambar atau tulisan dengan Teknik Cetak Tinggi. Cetak Tinggi disini dengan memanfaatkan bentuk / permukaan yang paling tinggi dapat kita lihat adanya gambar atau tulisan yang timbul yang nantinya akan menghasilkan suatu gambar atau tulisan pada benda yang diberi warna.
2.      Cetak Dalam (Intaglio Print).
Cetak Dalam adalah seni cetak yang menggunakan klise dalam, artinya bagian dalam menyerap tinta dan akan membekas pada kertas. Jenis – jenis Cetak Dalam antara lain : Etsa, Mezzo Tint, Drypoint, dll. Cetak Dalam dibuat dengan bahan cetakan dari aluminium atau kuningan yang permukaannya ditoreh hingga menghasilkan goresan yang dalam. Tinta lalu dituangkan, diratakan atau dirolkan pada bagian yang dalam tersebut. Kertas yang sudah dilembapkan dengan air, lalu diletakkan di atasnya. Tinta akan melekat pada kertas dan terbentuklah gambar atau tulisan sesuai yang diharapkan. Alat yang dipakai untuk menorah dapat berupa pahat grafis, paku, jarum, burin atau logam runcing.
3.      Cetak Datar (Planography Print).
Cetak Datar adalah teknik cetak yang menggunakan klise datar dengan prinsip saling menolak dan menerima antara tinta dan air. Cetak datar adalah memperbanyak hasil cetakan dengan media permukaan yang datar. Teknik ini ditemukan pada abad ke – 16 di Eropa. Klise cetak ini menggunakan batu cadas (Limestone), biasa di sebut dengan Lithography. Selain batu, sekarang dapat juga menggunakan lempengan logam (seng) untuk memperingan proses kerja. Planografi (Cetak Datar) dimana matrix permukaannya tetap, hanya mendapat perlakuan khusus pada bagian tertentu untuk menciptakan Image / Gambar. Teknik ini meliputi : Litigrafi, Monotype dan Teknik Digital, salah satunya Cetak Offset.
4.      Cetak Saring.
Cetak Saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (Screen) dengan kerapatan serat tertentu. Cetak Saring dikenal dengan sablon atau Senigrafi. Sablon tersebut banyak digunakan untuk mencetak tulisan maupun gambar pada permukaan datar atau rata, misalnya untuk mencetak tulisan atau gambar pada kertas, kaos, kain spanduk, undangan, plastic dan media lainnya. Kain screen ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar.
C.    Berkarya Seni Grafis.
1.      Proses Pembuatan Cetak Tinggi.
Pembuatan gambar dengan teknik cetak tinggi dapat menghasilkan karya yang menarik, yang berbeda dengan gambar atau lukisan lain yang pernah kamu buat. Prinsip kerjanya adalah mendapatkan, ruang positif (permukaan yang timbul) dan negative (permukaan yang cekung). Garis dan ruang negative yang dihasilkan cukilan tidak terkena warna, sebaliknya garis dan ruang. Bidang yang timbul dikenai tinta positif terkena warna dan dipindahkan ke permukaan bidang cetak.
Bahan dan alat dalam cetak tinggi adalah sebagai berikut :
a.      Bahan yang terdiri dari ;
1.      Papan sebagai alas.
2.      Hardboard atau papan MDF.
3.      Tinta atau cat cetak offset.
4.      Kaos, kain atau kertas.
5.      Kalau perlu ditambah cat pengering agar pengeringan lebih cepat.
b.      Peralatan yang diperlukan :
1.      Pensil.
2.      Gunting.
3.      Pisau cutter
4.      Woodcut
5.      Roler / untuk meratakan warna.
6.      Pahat atau pencungkil kayu, digunakan untuk membentuk gambar pada plat / sebagai klise cetak.
Keterangan Gambar :
a.       Membuat sketsa pada plat cetak.
b.      Memindahkan ke plat meratakan dan ditoreh, bagian tinggi untuk bagian rendah.
c.       Proses memberi tinta dengan bantuan roler.
d.      Menggosok / meratakan dengan alat (sendok) / di press dengan alat press (mesin press).
e.       Buka pelan – pelan sambil dilihat apakah warna sudah rata.
f.       Hasil jadi sebuah karya seni cetak tinggi.
2.      Cetak Saring.
a.      Proses Pembuatan Cetak Saring.
1.      Kerangka screen, bingkai yang terbuat dari kayu atau aluminium Screen (kain kasa) atau Monyl merupakan kain berserat yang berfungsi sebagai sarana untuk membentuk gambar atau tulisan pada benda – benda yang akan di sablon.
2.      Meja Cetak, secagai alas / tempat untuk melakukan penyablonan.
3.      Rakel, digunakan untuk meratakan tinta di Screen.
4.      Obat sablon, emulsi (sensitizer).
5.      Cat dan sari warna sablon.
b.      Proses Pembuatan Klise (Film Negative).
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan klise, yaitu memperhatikan bahan yang digunakan dan teknik yang digunakan. Bahan yang digunakan harus transparan. Hal tersebut dimaksudkan agar pada saat penyinaran (pengekposan), bagian yang seharusnya tidak tembus oleh tinta kan terkena sinar secara utuh. Bahan yang biasanya digunakan adalah kertas Kalkir, Film dan Mika Film.
Dalam menggambar untuk membuat Klise (Film Negative), ada beberapa teknik yang dapat digunakan, yaitu :
1.      Langsung pada Screen.
Pada teknik ini, setelah Screen (Kain Kasa) diberi tulisan atau gambar / corak. Untuk area yang diinginkan, tidak tembus oleh tinta diberi emulsi yang dicampur dengan Sensitizer, kemudian dijemur / penyinaran. Setelah kering, siap untuk dipergunakan mencetak.
2.      Negative Film.
Proses ini menggunakan Kertas Kalkir (transparan) atau kertas biasa yang sudah di gambar. Untuk jenis kertas biasa setelah di gambar, dilumuri dengan minyak goring / minyak tanah terlebih dahulu dan dikeringkan sehingga menjadi transparan.
c.       Proses Afdruk Pengekposan.
Afdruk / pengekposan / penyinaran adalah proses memindahkan gambar berupa selembaran kertas yang akan menjadi model / desain ke screen dengan bantuan bahan yang disebut emulsi sablon. Berikut ini tahapan afdruk, antara lain :
1.      Pelapisan (Coating).
Meliputi proses pencampuran emulsi dengan Sensitilizer (obat afdruk siap pakai) dan mengoleskannya ke screen dengan menggunakan alat yang disebut dengan Coater (pelapis) bisa juga dipakai penggaris, tahap pengolesan ini dilakukan didalam ruang yang gelap.
2.      Pengeringan Awal.
Proses pengeringan ini bisa dilakukan dengan menggunakan bantuan Hair dryer, dengan didiamkan saja sampai kering sendiri atau menggunakan kipas angina. Sebagai catatan dalam proses pengeringan ini usahakan agar tidak terkena sinar matahari langsung atau lampu yang mengandung sinar ultra violet seperti neon, tujuannya untuk mencegah agar cahaya tidak mengenai emulsi sehingga tidak bisa digunakan untuk proses selanjutnya.
3.      Penyinaran Screen ke Panas Matahari atau Lampu Neon.
Screen yang sudah kering dari larutan emulsi, lalu bagian bawah dialasi dengan busa hitam dan dibagian atas diletakkan klises negative / kertas yang siap di ekpose, kemudian ditutup dengan kaca untuk mengekpos klise supaya menempel rapat ke screen. Lakukan penyinaran sekitar 20 detik untuk cahaya terik dan 50 detik untuk cahaya matahari yang redup / sinar lampu neon.
4.      Pembuatan Klise.
Semprot dengan air untuk menghilangkan bagian yang seharusnya berlubang pada bagian screen yang kita desain, gunakan semprotan yang sesuai dan dapat menyemprot dengan kuat.
5.      Pengeringan.
Proses ini bisa dengan Hair Dryer atau dengan panas matahari.
d.      Proses Mencetak.
Screen kering yang sudah melalui proses pengekposan gambar siap untuk dicetak. Letakan kertas atau media yang akan dicetak. Tuang warna yang diinginkan dan ratakan dengan rakel. Proses cetak saring selesai.


Jangan Lupa untuk mengklik Iklannya (X), gratis. Supaya saya Lebih Bersemangat Menulis di Blog ini.

Comments

Post a Comment